Professional Freelance Photographer

Polder Air bukan satu-satunya jalan keluar banjir di Samarinda


Kita pindahan kesini ya fotodeka.com
Sudah sejak lama mungkin kita tahu bahwa Pemerintah sudah mengusahakan untuk mengatasi banjir yang terjadi di Samarinda. Tetapi dari proyek pembangunan Polder Vorvo belum terlihat hasilnya sejauh mana efektifnya pembangunan polder tersebut. Karena debit air yang masuk ke polder tersebut sangat banyak dibanding jumlah kapasitas Polder itu sendiri.

Sebenarnya usaha pemerintah kota untuk membangun polder seperti di vorvo, kemudian air hitam, antasari gang Indra, sebenarnya merupakan usaha yang dilakukan pemerinta untuk mengatasi banjir yang selalu menggenangi jalan-jalan ataupun pemukiman warga. Setiap kali hujan deras dengan durasi sekitar lebih dari satu jam saja ada beberapa daerah sudah bisa digenangin oleh air. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya fungsi dari polder itu sendiri belum efektif.

Mengingat kembali sebenarnya proyek-proyek pembangunan polder di Samarinda yang cukup menghabiskan dana Milyaran Rupiah. Karena dari Pemkot dan Pemprov sendiri yang memiliki keinginan yang besar untuk menangani masalah yang sudah sering kali datang ketika musik hujan tiba. Keinginan pemerintah untuk menangani masalah ini dengan tidak segan-segan menggelontorkan dana hingga 40 Milyar dari Pemprov, yang katanya pembangunan itu dikaji dulu sebelum benar-benar dibangun.

Dengan topografi Samarinda yang katanya banyak daerah yang tingginya berada dibawah permukaan (30%) sungai menjadikan alasan kenapa sering terjadinya banjir di Samarinda, tetapi sebenarnya bukan masalah topografi saja yang perlu kita ketahui apa yang menjadikan banjir di Samarinda tentunya.

Banyaknya faktor-faktor seperti alih fungsi lahan resapan air dan drainase merupakan hal yang paling mencolok dari problematika banjir di Samarinda sendiri. Mungkin kita sadar bahwa Samarinda yang telah dibuat sejak awal menurut saya sungguh tidak siap sama sekali menghadapi sebuah perubahan besar-maksudnya pembangunan pada waktu dulu tidak dipersiapkan untuk perubahan 50-100 tahun sesudahnya.

Terlihat dari drainase yang ada sungguh sangat kurang sekali terutama pada daerah-daerah yang jauh dari aliran sungai. Walaupun tidak menutup kemungkinan yang daerah posisinya tidak jauh bisa juga terkena banjir. Karena drainase yang ada, ataupun yang dibuat pemerintah pada saat dulu tidak cukup sesuai untuk saat sekarang ketika penduduk sudah semakin banyak, pemukiman sudah semakin padat, dan parit-paritpun diatasnya sudah dijadikan tempat usah-dengan menutup menggunakan papan.

Kemudian mengenai alih fungsi lahan yang terjadi sungguh luar biasa, karena yang terjadi disini sungguh sangat tidak bisa dipungkiri terjadi ketidak seimbangan daerah resapan air. Seperti pembangunan ruko-ruko, perumahan, yang sedianya itu merupakan bukit atau daerah resapan air kini berganti menjadi bangunan yang berdiri tegak dengan segala ijin sah yang dikantongi dari pemerintah.

Nah memang sebenarnya investasi tidak apa, tetapi kita harus sadar akan kemampuan sebuah kota untuk bertahan seperti pada awalnya direncanakan. Jika tidak akan seperti sekarang, tidak ada keseimbangan antara pembangunan dan prasarana yang ada seperti drainase-saluran air- yang tersedia sebelumnya.

Sebenarnya dari itu semua yang perlu dibenahi ialah pemerintah harus berani melakukan perbaikan-perbaikan drainase utama, kemudian  pelu mengontrol pembangunan disekitar yang terjadi. Contohnya saja sempat terjadi aksi warga jalan Banggeris yang sempat keberatan akan adanya perumahan mewah(bukit Mediteranian) yang dibangun disitu. Yang notabene daerah itu merupakan bukit yang merupakan resapan air, yang notabene lebih tinggi daripada jalan Banggeris sendiri. Dan sempat menyebabkan banjir yang disertai lumpur dari proyek beberapa bulan lalu dan kemudian rencananya akan diberikan kompensasi oleh pihak kontraktor kepada masyarakat sekitar tetapi sampai saat ini belum ada kejelasannya.

Nah memang semudah itu untuk membangun tanpa memikirkan dampak lingkungan yang terjadi nantinya, padahal proyek pembangunan perumahan elite itu belum sepenuhnya selesai semua. Bagaimana kalau selesai semua? bisa-bisa daerah yang lebih rendah disekitarnya yang akan menjadi akibatnya. tetapi tidak hanya pihak kontraktor saja, tetapi pemerintah harus peka karena pada daerah yang dilewati aliran air dari perumahan tersebut sungguh tidak terawat drainasenya-dangkal karena ada penumpukan lumpur.

Mungkin kita perlu tahu kalau air hanya ditampung dan kemudian disalurkan secara perlahan hanyalah merupakan salah satu cara untuk mengatasinya, walaupun tidak sepenuhnya bergantung dari Polder air. tetapi masih banyak faktor seperti dijelaskan diatas yang perlu diperhatikan oleh pemerintah dalam menanggapi kemudian bergerak untuk mengatasi banjir yang acap kali terjadi dimusim hujan.

Salah satu Polder yang sudah jadi pada malam harinya dijadikan tempat nongkrong oleh pemuda-pemuda karena tempatnya yang gelap gulita, dan terkadang dijadikan tempat kebut-kebutan.

Salah satu Polder yang sudah jadi pada malam harinya dijadikan tempat nongkrong oleh pemuda-pemuda karena tempatnya yang gelap gulita, dan terkadang dijadikan tempat kebut-kebutan.

 

Walaupun sudah dipasang peringatan,masih ada saja orang yang memancing disini. Karena sempat ada korban jiwa karena tak bisa berenang.

Walaupun sudah dipasang peringatan,masih ada saja orang yang memancing disini. Karena sempat ada korban jiwa karena tak bisa berenang.

 

Polder Antasari gang Indra yang masih dalam proses pembangunan ini sempat merenggut korban jiwa, dan kemudian diberi peringatan.

Polder Antasari gang Indra yang masih dalam proses pembangunan ini sempat merenggut korban jiwa, dan kemudian diberi peringatan.

 

Sebelum masuk ke Polder Antasari, ada sebuah pintu air yang mengatur debit air di Polder.

Sebelum masuk ke Polder Antasari, ada sebuah pintu air yang mengatur debit air di Polder.

About these ads

6 responses

  1. dwi

    @ Rocky – bukan saya mas yg pimpronya, tapi orang2 yang sungguh beruntung terkait dengan proyek2 di Kaltim-bisa dikorupsi.

    @ Dusone – iyoo… neng MP buat curhat2an ria…

    @ Bandit Kesiangan – benar sekali kawan, terutama untuk polder Air Hitam.

    @ Samarinda Online – terima kasih mas.

    @ Agus – terma kasih banyak juga masukannya sesuai ilmunya.

    February 18, 2009 at 1:50 pm

  2. agoest_planner'07

    wah2 kykny ente lebih jago nh…ngalahin ide2ny ank plano nh,heee

    sebenerny arah perkembangan kota lebih baik mengikuti arah perkembangan infras, jadi lebih baik dilakukan pembangunan infrastruktur terlebih dahulu sbelum dilakukan pembangunan2 dalam hal ini lokasi pemukiman.

    seperti kota2 baru baik didalam maupun diluar negeri melakukan cara2 seperti itu (ex BSD). jadi urban and regional planner maupun stake holder sebagai pihak pembuat kebijakan dapat mengontrol arah perkembangan kota. sehingga pembangunan2 dapat terkontrol dan konversi lahan dapat dikurangi.

    kl menurut aq penyebab banjir di smd dan sekitarny lebih banyak disebabkan oleh alih fungsi lahan atau konversi lahan, karena itu aq setuju dengan pernyataanmu yang menyatakan polder air bkn cara utama untk mengatasi banjir di samarinda. Menurut ilmu yg dah aq dapat konsep yang dah digunakan di negara maju dan sebagaian besar berhasil adalh konsep Zoning dan di indonesia sebenarnya telah dilakukan tetapi tidak dipatuhi.Planner saat membuat draft RTRW(rencana tata ruang wilayah) sebenernya dah ngebuat peta tata guna lahan dengan konsep zoning itu. jadi kaltim dah terbagi atas kawasan terbangun dan tdk terbangun secara garis besarny. dan jika ditijau lebih mikro lagi smd dah terbagi menjadi kawasan perdagangan, pemukiman, industri dan kawasan resapan air.

    Empirisny bisa km liat di deket rumahq nang, dulu g pernah namanya banjir tetapi 10 tahun terakhir banjir sering melanda kawasan sekitar rumahq. Sebenerny kawasan disekitar sana adalah kawasan resapan air tetapi berubah menjadi perumahan. telak keliatan tidak dipatuhinya konsep zoning yg telah dibuat.

    oh iy untuk BSD, lippo karawaci atau pantai indah kapuk memang kota dalam kota yg bebas banjir karena perencana hanya dibayar untuk membuat base map yg membebaskan kawasan mereka agar bebas banjir tetapi tdk memikirkan kawasan disekitarny. shingga tercipta kawasan pulau kapuk di sekitar pantai indah kapuk yg hanya terbebas dari banjir selama 3 bulan dalam 1 tahun. g pengen kn smd kyk gt??

    di KALTIM sekrg kn lg bnyk2ny pembangunan perumahan, kl mereka hanya memikirkan kawsan rencana mereka saja tnpa lingkungan sekitar bisa jadi smd semakin terendam banjir.

    Polder dan sistem zoning merupakan salah satu cara yg bisa dilakukan untuk mencegah atau mengatasi banjir tetapi lebih bersifat pada penyelesaian masalah internal. padaha penyebab banjir di smd g hanya disebabkan permasalahan2 yg ada di smd tetapi juga di luar smd.lokasi smd yg terletak di hilir sungai mahakam memang menjadi kawasan rentan terhadap banjir. Banjir yg ada bisa disebabkan karena rusaknya daerah hulu sungai mahakam. Dalam hal ini smd bisa melakukan kerjasama dalam perawatan DAS dengan KUKAR dan KUBAR agar kejadian seperti sungai bengawan solo tdk menimpa samarinda.

    February 17, 2009 at 4:10 pm

  3. Ulasan yang bagus! Aku setuju bahwa polder air bukan satu-satunya jalan keluar banjir di Samarinda. Mengambil pelajaran dari BSD City dan Lippo Karawaci yang bebas banjir, drainase memegang peranan paling penting. Walau dikepung oleh kota-kota yang selalu mengalami banjir: Tangerang (di utara), Jakarta (di Timur) dan Bogor (di selatan), kedua kota itu bisa bebas dari banjir. Sebelum perumahan dibangun, drainase (gorong-gorong) harus dibangun terlebih dulu. Harus dijadikan persyaratan utama sebelum pengembang membangun sebuah perumahan.

    February 14, 2009 at 4:16 pm

  4. Polder mah bukan tempat nampung air sekarang… tempat oranng pacaran…

    hahahaha…

    Only in Samarinda

    February 14, 2009 at 3:22 am

  5. dusone

    hellooooooooo

    buat wp juga kah? gak mp nan?

    February 13, 2009 at 11:51 pm

  6. Rocky

    pimpinan proyek polder banjir samarinda koe yo,wi???

    February 12, 2009 at 5:51 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,432 other followers