Professional Freelance Photographer

Send Your PostCard for #SaveOrangUtan


Sekadar melihat ulang bagaimana pemberitaan mengenai pembantaian orangutan yang terjadi di Kalimantan Timur, saya melampirkan rekapan notes yang mencantumkan pemberitaan mengenai orangutan (disini). Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin menuliskan mengenai tulisan mengenai pembantaian orangutan yang terjadi di Kalimantan Timur, yang letaknya antara Kutai Kartanegara dengan Kutai Timur. Karena pada awal-awal berita naik, lokasinya berada di Kutai Kartanegara, tetapi setelah dikonfirmasi lokasi desa yang dimaksud berada di wilayah Kutai Timur. Buktinya disaat semua teman-teman di social media ramai-ramai memblow-up isu ini, sepertinya didaerah sana atau di Kalimantan Timur biasa-biasa saja. Lucu memang kalau pejabat daerah seperti Gubernur, Walikota, atau mungkin Bupati tidak bisa mention via twitter, karena siapa yang bakalan konfirmasi atau memberikan tanggapan?

Hal ini tercatat di salingsilang, pada saat ramai-ramai para aktifis social media mengeluarkan bentuk respect terhadap berita pembantaian orangutan yang terjadi (disini). Dan kok saya telat banget sih update blog tentang #saveorangutan? bukannya sibuk sih, cuma bingung aja mau update apaan. Belum punya bahan tulisan yang mantep sih. Kecuali draft 21 Oktober, yang nggak saya lanjutin ataupun saya publish.

Tulisan #saveorangutan.
Sebenarnya kasus pembunuhan orang utan secara massal tidak hanya pada lahan kelapa sawit, tetapi juga pada saat pembukaan lahan untuk tambang. Biasanya akan banyak mengorbankan hutan yg sedia kalanya adalah habitat asli orang utan.
Nah, sebenarnya runtutan yang terjadi terlalu panjang dan rumit bagi orang awam termasuk saya. Yang menarik info dari teman saya, mengenai UU. No 29 tahun 2007, mengenai pengertian lahan. Pada pasal 20-22, jelas dibedakan antara lahan lindung dan budidaya. (Klo nggk salah, nanti dicek ulang).
Kawasan hutan lindung berarti dilindungi dan dilestarikan, sedangkan lahan budi daya katany boleh diolah. Nah dari penjelasan UU ini sendiri saya agak rancu, apa mungkin ada dasar hukum lain yg menjelaskan? (Nanti dilanjutkan)
Nah yang menarik disini adalah ketika isu pembantaian orangutan ini di tweet oleh Dragono halim, senin siang. Dan saya baca artikel (sumber tribun kaltim), kemudian saya blow up ke twitter saya, kemudian saya lanjutkan ke facebook. Saya sebar ke beberapa teman yg care dengan lingkungan, dan habitatnya termasuk pages COP, serta facebook teman” wartawan di Samarinda. Harapannya dapat meningkatkan awarness mereka dgn isu pembantaian orangutan. Senin saya blow-up ke facebook, dan ke twitter melalui SamarindaUpdate. Dan cukup mendapatkan respon positif, kesadaran ada sesuatu nih! Nah setelah itu ke beberapa penggiat social media, pertama iseng ngebuzz mbak tikabanget, eh link itu di retweet ulang. Saya kehujanan mention, dan tampaknya informasi ginian mending dilempar ke Jakarta aja deh. Kalau cuma konsumsi lokal Kaltim orang-orangnya masih belum aware banget. Setelah saya sampaikan ke mbak tikabanget, saya positif yakin isu pembantaian ini biar diketahui teman” di Jakarta. Dan tidak lama kemudian, rupanya disumber yg sama menampilkan berita Gubernur perintahkan penyelidikan dan penangkapan. (Tapi rasanya agak bingung kok bisa cepat naik.berita dgn angle yg berbda).
Bisa jadi ditulis dalam waktu yang sama dengan materi berita yang berbeda. Tetapi tidak biasa artikel tribun yang nama penulisnya dicantumkan, kali ini tidak. Mungkin berjaga-jaga melindungi wartawannya dari perusahaan yg terkait atau pihak” yang tidak senang. Nama editor artikel itu yang ada. Mungkin dari redaktur sudah mengetahui kalau berita ini naik pasti akan meledak.
Nah inilah menariknya dimana berita yang naik didaerah bisa langsung ditanggapi serius. Sedangkan kalah tidak di blow-up dari Jakarta kemungkinan hanya angin lalu bagi Pemprov, coba kita lihat Pemerintah Provinsi dan instansi terkait langsung menerjunkan polisi untuk menyelidiki. Nah sudah menjadi kebiasaan pemerintah daerah yg tidak begitu tanggap menangani sesuatu kalau belum naik publikasi secara massal.

Nah ada banyak cara untuk menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan, walaupun kita jauh dari tempat kejadian. Setidaknya masih ada tersisa dalam hati kecil kita untuk mencet dan ngtweet sesuatu, seperti mbak Dian Paramita yang menulis update blognya mengenai ajakan untuk mengirimkan e-mail kepada humas PemProv Kaltim (disini), tapi sayang hingga kini pun web dari pemerintah provinsi Kalimantan Timur sama sekali tidak mengeluarkan release terkait dengan adanya email yang masuk. Tampaknya agak lucu lho Pemerintah Daerah ini, sudah habis di bully media masih aja pura-pura nggak dengar, dan juga sudah ada yang posting di gopetition.com juga lho tentang selamatkan orangutan. Pun hingga kini staf Humas Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur enggan untuk menurunkan release resmi, sebagai wujud menanggapi atas kasus pembantaian orangutan yang terjadi. Walaupun Gubernur Kalimantan Timur sudah memberikan statment-nya pada harian Tribun Kaltim.

Saya mengajak teman-teman untuk mengirimkan KartuPost(Postcard), langsung kepada pihak-pihak terkait didaerah Kalimantan Timur. Mengapa harus postcard? rasa-rasanya Pemerintah Daerah itu nggak membuka email deh, buktinya email dari teman-teman social media tampaknya dimentahkan begitu saja atau mungkin ditelan mentah-mentah (nggak ngasih feedback). Nah kalau postcard for #SaveOrangUtan gimana? menurut saya sendiri sih ini lebih efektif, karena kita dapat mengirimkan unek-unek dan tuntutuan kita pribadi langsung ke pihak-pihak terkait di Kalimantan Timur. Mengirimkan postcard for #saveorangutan juga nggak mahal-mahal amat kok, untuk prangko cukup Rp. 1500 x 4 buah, ditambah dengan ongkos cetak postcard ukuran A3 bolak-balik Rp. 10.000 (jadi 8 buah). Setelah itu jangan lupa isi alamat tujuan anda kepada empat alamat dibawah ini, jangan lupa berikan ucapan untuk mendukung mengenai kasus pembantaian orangutan.
Unduh foto foto di slideshow [dokumentasi COP] untuk gambar di postcard kalian

This slideshow requires JavaScript.

Kantor BKSDA Kaltim : Jl. MT. Haryono, Kotak Pos 1001, Samarinda

Polda Kaltim : Jl. Syarifudding Yoes No. 99 Balikpapan

Mapolres Kutai Kartanegara : Jl. Pangeran Diponegoro, no 2, Tenggarong. 75514

Mapolres Kutai Timur : Jl. Bhayangkara no. 1 Bukit Pelangi Sangatta

About these ads

2 responses

  1. ohh..cara mendukungnya harus berkirim post card ke kantor kepolisian yah?..
    atau di Samarinda ada yang mengkordinir mas?…
    saya ikut mendukung,,,,

    October 27, 2011 at 5:44 am

    • hmmm saya lebih tepatnya bukan mendukung, tapi mengingatkan para pejabat yang mengurus kasus ini bisa terus mem-follow up…
      wah kalau di Samarinda belum ada je mas… :D walaupun di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS) sendiri sudah ada COP.

      October 27, 2011 at 9:50 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,429 other followers