[Project] Portrait – Studio Mahati
Akhir tahun 2011 lalu saya membantu Dalijo dan mas Bram, untuk membuat portrait mereka berdua dalam rangka membuat portofolio sebuah Studio mereka. Studio Mahati merupakan kolaborasi dari mas Timoteus Kusno (Dalijo) dan mas Bram (Bramasta Dwi Saka) juga bekerjasama dengan beberapa rekan mereka-info lebih lanjut ada di web mereka. Perkenalan saya dengan mas Dalijo sendiri sudah cukup lama, sejak awal kuliah saya sudah mengenal dia karena sempat beberapa kali kuliah bareng. Sedangkan mas Bram sendiri saya sempat berkenalan dengannya di Lab. Audio Visual Komunikasi UGM, beberapa kali ketemu disana.
Proses pengerjaan konsep foto untuk portrait mereka pun tidak memakan waktu lama, sebelumnya saya bertemu dengan mas Dalijo di Cafe LekkerJe. Sedikit memberikan deskripsi untuk konsepnya, merujuk dari beberapa shot film “Coffee and Cigarettes“. Sebuah konsep yang sederhana, dan menarik. Mas Dalijo memilih tempat di Peacock Coffee, Monjali. Tempatnya cukup nyaman, untungnya kami bersepakat untuk melakukan pemotretan selesai sebelum pukul 11.00. Jadi matahari belum terlalu tinggi, dan cafe-nya sendiri belum terlalu ramai.
Client : Bramasta Dwi Saka (left) and Timoteus Kusno (right) – Studio Mahati
Location : Peacock Coffee, Monjali
This slideshow requires JavaScript.
[Project] – Rumah Sakit JIH


Disuatu kesempatan saya diajak oleh teman saya untuk memotret profile Rumah Sakit JIH (dulunya Jogja Internasional Hospital), saya langsung mengiyakan ajakannya. Sebenarnya ini projeknya mas Dewa, untuk membuat kalender 2012 kebutuhan JIH. Foto-foto ini diambil pada November 2011. Saya langsung mengiyakan karena saat itu memang lagi tidak ada sambilan yang menyita waktu. Akhirnya mengiyakan, setelah itu bertemu untuk di brief konsep dan keinginan foto yang dimaksud. Seminggu sebelumnya saya di brief, untuk kemudahan pada saat pemotretan. Tetapi sebenarnya saya mengerti karena ini memang project untuk Produksi Kalender, akhirnya saya melaksanakan tugas sesuai brief. Yaitu untuk kalender Rumah Sakit JIH.
Saya kasih oleh-oleh deh hasil jepretan saya, saya sangat tertarik pada interior photography dan architecture. Dan inilah yang mendasari saya mengiyakan tawaran mas Dewa untuk membantunya.
Perlu diketahui untuk memotret interior atau memotret didalam ruangan membutuhkan cahaya yang tepat, terutama mood untuk mendapatkan hasil yang diinginkan client. Sayangnya karena project ini terbatas, saya tidak bisa mengeksplor semua kemampuan. Ada keterbatasan wilayah kerja dan juga waktu, pastikan anda mengetahui wilayah kerja anda sampai dimana. Apakah anda ditugaskan untuk memotret dengan menggunakan format mentah (RAW/NEFF) atau hanya JPG saja? kemudian juga pastikan battery kamera anda terisi penuh dan juga CompactFlash anda dalam keadaan kosong.
Saat memotret ini saya menggunakan lensa lebar 10-22 USM Canon, untuk mendapatkan gambar didalam ruangan dengan mudah. Dan pastikan membawa tripod, dan juga flash (Speedlite 430EX II) pastikan battery terisi penuh. Saya menggunakan flash didalam ruangan untuk mendapatkan mood cahaya, dan beberapa untuk fill-in objek yang membelakangi cahaya.
This slideshow requires JavaScript.
#KeracunanIngatan – Melancholic Bitch At Langgeng Art
Mungkin ini adalah update blog saya yang terlampau lama, dan tentunya setelah tulisan mbak Woro ini di reblogged sampai 6 kali, dan tulisan Awe di Jakartabeat mendapat #share di facebook hingga 106. Dan saya baru mengunggah beberapa foto pilihan selang tiga bulan sesudahnya, padahal malam itu semuanya pada giat menyelesaikan editan tulisan untuk blog, ataupun banyak yang motret memilih dan mengedit foto-foto malam itu untuk di unggah di facebook atau blog mereka. Dan saya hanya memanda bingung, foto-foto gigs Melancholic Bitch yang keren malam itu. Sambil memilih beberapa foto yang diminta Awe untuk dijadikan lampiran di JakartaBeat.net.
Ini adalah gigs tengah-tengah, mengapa? karena bagi saya yang tidak sempat datang ke gigs Melancholic Bitch saat perpisaan sebelum vakum setahun. Jauh sebelum itu saya menghadiri launching album mereka di Padepokan Bagong, dan gigs kali ini di Langgeng Art sungguh sesuatu hadiah bagi para fans dan penikmat musik Melancholic Bitch. Karena setelah gigs itu, mereka akan vakum lagi sekitar dua tahun. Seperti biasa ada banyak pekerjaan dan studi yang dilakukan oleh personilnya. Penasaran? ya baca saja tulisan Awe dan Woro pada tautan yang saya beri. Karena foto ini telat naik di blog ini.
Yang naik panggung malam itu ada Armaca Racun, Melancholic Bitch (termasuk Silir dan Leilani)
Tips :
Tata cahaya malam itu sungguh memanjakan para stage photographer yang mendokumentasikan gigs malam itu, hampir tidak sama sekali kesulitan seperti minim cahaya. Tata cahaya malam itu sungguh apik, dengan moving head empat titik dan ditambah lampu par dari dua sisi. Membuat hampir tidak pernah kekurangan cahaya. Saya memotret dengan menggunakan speed antara 1/60-1/160, dengan ISO 640-1000.
Kita adalah Batu
Tulisan Terkait – gigsplay
Publikasi di Jakartabeat.net
This slideshow requires JavaScript.
Tulisan Terkait dengan Melancholic Bitch :
Launching Album Melancholic Bitch “Balada Joni dan Susi”
Fallentine #3 never too late to celebrate | HASTA MANANA
Untuk Penggunaan Foto lebih lanjut hubungi saya.
Merayakan dan Meramaikan #17an
Sebenarnya sudah cukup lama ingin menulis kembali, akhirnya bisa menyempatkan menulis disini. Kembali sedikit berbagi disini tentang berbagai arti, kali ini berbagi arti #17an menurut saya sendiri. Setidaknya mengartikan jujur dan polos #17an menurut saya pribadi.
#17an menurut saya kalau kecil dulu, bakalan nggak ketinggalan ikut lomba di kampung saya. Kegiatan ini terhitung sejak menginjakan kaki di Sekolah Dasar saya paling demen ikut rame-rame acara #17an (tujuh belasan). Lah? gimana nggak mau ikut lomba, disuruh sama wali kelas di sekolah je? Tahu kan rasanya jadi anak kecil jaman SD. Suka nggak suka ya kudu melu, pokoknya meramaikan kegiatan yang diadakan setahun sekali untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia ceritanya.
Kalau ditanya lomba #17an yang paling demen diikuti dulu apa ya? *mikir* *elus-elus jenggot* | Yang jelas sih kalau dulu ikut lomba yang nggak kotor-kotor gitu deh. Habis nyali saya nggak gede-gede amat untuk ikut lomba cabut koin dibuah yang berlumur oli (tahu kan bentuknya gimana?), atau mungkin mainan panjat pinang (yang ini mesti familiar lah). Dan sejauh sampai saya beranjak dewasa pun belum pernah nyentuh lomba cabut koin dan panjat pinang. Lah? tampaknya saya cemen juga untuk ikut lomba #17an, paling mentok dulu sih ikutannya lomba makan kelereng sama gigit kerupuk tuh paling demen. Nah kira-kira lomba #17an yang ada kegiatan makan kelereng dan gigit kerupuk itu perlu ditangkep tuh penyelenggaranya, karena dapat menyebabkan usus buntu, *lah namanya juga makan kelereng*
Individual Life – Kafe Djendelo
“Hari ini, sekarang, atau tidak sama sekali” – sebuah Judul pertunjukan dari Individual Life. Yang dihelat di Djendelo Kafe, sebuah tempat nongkrong yang menyatu dengan Toko Buku Togamas. Dengan konsep yang sangat minimalis, dan peralatan full akustik. Dan tentunya acara yang dimulai sekitar pukul 20.00, Kafe yang menawarkan menu dengan bahasa ejaan lawas ini sudah lebih dulu ramai menunggu aksi dari Individual Life.
Saya secara pribadi ini kali kedua setelah sebelumnya saya menonton Individual Life pada acara FMF (Hastamanana), kira-kira hampir satu tahun yang lalu dan kembali bisa menikmati permainan musik Individual life. Saya secara pribadi tidak terlalu dekat, ataupun mengenal band yang mengusung aliran instrumental (nah sekarang saya pura-puranya nulis semacam wartawan musik). Perkenalan dengan musik instrument band ini sendiri ketika saya mendapat CD kompilasi band Jogja pada acara Lockstock yang diadakan oleh Effort Creative. Dari sekian banyak musik kreatif, terselip rupanya salah satu trak yang nyaman didengar. Hal ini lebih kepada musik instrument yang memberikan nuansa baru dalam dunia musik Jogja.
Shaggydog di Sayidan di Jalanan
Masih teringat jelas sekitar tahun 2008 atau 2009. ketika waktu itu saya mengambil mata kuliah dikampus Jurnalisme Penyiaran. Salah satu mata kuliah yang memberikan pengalaman dalam hal kerja kelompok, kelompok yang diberni nama Jurpen Ceria ini kalau mau dibilang sangat nge-soul.
Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, tempat dimana mau nerima mahasiswa bego seperti saya untuk kuliah dan menuntut ilmu. Untungnya kali ini saya dapat memaksimalkan diri saya sendiri. Bekerja ceria bersama Jurpen Ceria.
Sebenarnya ada pertimbangan ketika ingin mengunggah video kerja ini ke Youtube, terutama mengenai ijin hak milik lagu Shaggydog. Akan tetapi rekaman audio disini tidak ada mengambil dari CD lagu Shaggydog, semuanya pure dari audio rekaman saat mengambil gambar dan diproses pada editing. Tentunya tidak menganggu hak cipta, atau copyright lagu tersebut.
Selamat menikmati
Publication – WHO Country Office for Indonesia Progress Report 2010
Publication in Report WHO Country Office In Indonesia 2010












