Cerita Saya Ketika Nggak Pulang Kampung


Duh ini sebenarnya sih jadi oleh-oleh paling aneh yang saya rasakan ketika tidak menjalani Lebaran bersama keluarga di Samarinda(tempat domisili saya), memang ini suatu hal yang aneh bagi kebanyakan orang yang merasa harus menghabiskan waktu lebarannya bersama keluarganya masing-masing. Tetapi ide saya untuk tidak menghabiskan waktu liburan lebaran bersama keluarga saya di Samarinda sudah disetujui oleh kedua orang tua saya sejak libur semester genap jauh beberapa bulan sebelum lebaran. Mungkin bukan hal yang mudah untuk tidak pulang ke kampung halaman, tetapi menurut saya untuk menjadi suatu penempaan diri, pelatihan diri ketika suatu saat benar-benar dihadapkan pada situasi ini sudah tidak kaget lagi. Entah ada kendala mengenai biaya, atau hal-hal lain yang bisa membatalkan perjalanan mudik ke kampung halaman.

Mari berlanjut ke perjalanan yang tidak terlalu panjang hanya sekitar 6 jam saja. Sebenarnya karena saya sudah merencanakan mudik ke Tegal yang merupakan kota asal Ayah saya, atau lebih tepatnya kampung halamannya Ayah karena disana tempatnya Mbah putri saya. sehingga saya jadi nggak terlalu banyak hambatan mengenai keberangkatan mungkin hanya sedikit lupa ancar-ancar rumah ya maklumlah sudah lama tidak ke tempat si Mbah di Tegal. Lumayanlah rencana yang sudah di Acc ama ortu di Samarinda juga akhirnya di setujui beserta dananya yang sebenarnya cukup buat pulang ke Samarinda aja nggak sekalian balik ke Jogja. Maklum waktu saat puasaan saja tiket Mandala saja sudah melambung tinggi, apalagi makin dekat lebaran dengar-dengar tiket untuk tujuan Balikpapan dari Jogja sudah menyentuh level di atas satu jutaan lebih. Untungnya saya memang tidak berniat mudik dari awal jadinya nggak masalah sih.

Mari Mencari Tiket Travel
yah ini dianya penentuan tanggal berapa mau berangkat ke Tegal sekaligus memperhitungkan tingkat klimaks kebosenan disana dengan Lebaran, karena saya memang berencana sholat Ied disana. Akhirnya setelah semedi sekian lama sampai-sampai kosan jadi sepi yang ada hanya saya dan Mas Arif akhirnya saya berangkat tanggal 27 September, walau sebenarnya nggak gitu-gitu amat sih. Ya tiketnya untuk tanggal 27 itu udah jauh-jauh hari sudah ditangan, tepatnya sih seminggu sebelum berangkat udah ada tiketnya sih.
Untuk beli tiket aja sebenarnya sampe dipaksa-paksa eh nggak dipaksa sih dalam artian yang lebih halusnya lagi selalu diingatkan ama ortu buat segera mungkin cari tiket travelnya jadi biar nggak binung kalau makin mepet.

27 September sampai 2 Oktober, dari Berangkat ke Tegal Sampai Pulang ke Yogya
huahhh, akhirnya sampai pada tujuan akhir untuk merangkum semua kisah ketika di Tegal sana. Memang bukan hal yang mudah untuk memposting setiap tulisan ketika kota yang dituju masih jarang sekali warnet, kalaupun ada hotspot di rumah makan Padang dekat rumah mbah yang sepertinya buat orang-orang yang berlebih karena harganya yang cukup menguras kantong terutama bagi warga sekitar yang memiliki penghasilan pas-pasan.

berangkat tanggal 27 September sekitar jam-jam 8an lewat dikit udah dijemput di depan kosan, sebelumnya malah ditelpon buat datang ke agen lebih cepat karena travel jadinya saya minta jemput aja ke kosan tapi memang lebih awal. untungnya saya sudah siap jadi ketika di telpon akan dijemput lebih cepat saya sudah siap juga menunggu di depan kosan yang sudah sepi penghuni.
suatu kebetulan juga ketika saya baru dijemput travel rupanya sudah ada gadis manis bergigi kawat tetapi tidak pakai jilbab karena nasrani, setelah iseng kenalan doi anak Atmajaya, nah disitu baru ketahuan kalau emang bukan muslim.
nah setelah berjalan-jalan ntu sopir njemputin semua penumpang ada dua orang penumpang lagi di daerah Magelang yang masih keselip karena si penumpang nggak ngasih ancer2 yang jelas. eh rupanya ntu penumpang yang buat travelnya muter-muter rupanya emaknya beserta adeknya cewek yang saya ajak kenalan tadi. eh ntu anak yang datang duluan malah nyante-nyante aja nggak merasa bingung atau merasa buat bantuin supirnya nelpon.
udah lupakan perjalanan tadi yang memang berlibet dan bingung…
mari menikmati perjalanan di travel dalam keadaan berpuasa….

mari dilanjut deh… lelah hati ini mengingatnya… ehehhe

2 thoughts on “Cerita Saya Ketika Nggak Pulang Kampung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s