PPC Goes to Surakarta (cerita sambung sendiri)


maaf menunggu para penggemarku untuk membaca tulisan-tulisanku yang terbaik dari waktu ke waktu.
tetapi ini memang sebelumnya saya posting yang menunggu itu dari sebuah warnet (private) yang banyak tertutup. dan aku hanya sedang tidak berminat untuk menulisnya tadi.

Tepatnya sekitar pukul 13.30 saya meluncur dari BurjoNet-dekat rumah saya di Seturan. Sebelum itu saya menyempatkan untuk memasukkan foto ke blog, dan chatting dengan beberapa orang teman saya yang juga nggak bisa ikutan hunting bareng 1 Syuro di Surakarta-lebih enaknya lagi disebut dengan Solo. Dan saya tiba sebagai peserta pamungkas dalam hunting ini karena saya peserta yang ditunggu-tunggu,maklum datangnya paling bontot dikampus. Kita-kita janjian dikampus dulu sih sebelum berangkatnya.

Nah tepatnya sekitar jam dua kurang lima belas menit sudah tiba dikampus dan ditunggu-tunggu oleh beberapa teman saya yang sudah bersiap-siap juga untuk berangkat. Tetapi sesampainya di kampus mereka yang sepertinya sudah bersiap-siap untuk berangkat malah mau cari makan dulu (maunya Awe) di Flamboyan, sebelumnya ngambil peta Surakarta di kosan “Dita”, dan ngebawa tripod (Aldy) buat foto-foto.

Kemudian kami pun cabut ke tempat makan bernama warung Flamboyan untuk mengisi kekosongan perutnya Awe, tetapi karena memang cuma doi yang kelaparan-maklum apa dia cacingan. Kami pun menunggu doi buat menghabiskan makanannya yang sudah terlanjur diambil dan dibayar. Setelah sekitar satu jam lebih kami habiskan untuk berbincang-bincang nggak penting, dan seusai menghabiskan beberapa gelas jus yang sengaja dipesan karena ditraktir Awe.

Kuli foto yang ikutan. ada Ardiwilda,Saila,RizkyAldian,NagaraWstuAji,Saya sendiri,ama Pradah.
mari menyambung menjadi satu.itulah Indonesia.
nunggu update lagi nih…

32 thoughts on “PPC Goes to Surakarta (cerita sambung sendiri)

  1. ardiwilda said: BIG NO NO = kalo kata aweBLARR = kalo kata depe RAIMU WI WI= kalo kata ajiMODARO = kalo kata Yogiintine “MATIO DEWE wi wi”

    Astaghfirullah… untung kita masih bisa kembali ke Yogya dengan selamat… buruan lanjutin kisahnya….

  2. sailachan23 said: MaksudQ i kecepatan e sing innocent..ora ngebut (style orang yg berniat nyerobot) tp yo ra lambat (dlm konteks berhati-hati), jd kecepatan e i nanggung, pede abiest..

    yo pede lah… ak wae ra ngerti maksud lampu dim itu…

  3. Udu ngono mas awe,MaksudQ i kecepatan e sing innocent..ora ngebut (style orang yg berniat nyerobot) tp yo ra lambat (dlm konteks berhati-hati), jd kecepatan e i nanggung, pede abiest…Maaf tidak pke quote..nang hape raiso quote..T.T

  4. sailachan23 said: Atau juga karena sudah begitu banyak orang yang berkata “mati wae wik” di dunia ini?

    sebelumnya Awe jg sempet sms kyk gitu “mati wae wik!” ngono… gara2 ku sms, “kita cari yg plus-plus yok!” hehehe

  5. Oke!Setelah akhirnya memutuskan hendak melakukan apa sesampainya disana. Kami berangkat menuju Solo dari rumah makan Flamboyan. Melewati jalan Jogja-Solo yang kala itu lumayan dipadati oleh kendaraan-kendaraan luar kota, kami melaju dengan kecepatan standar. Perjalanan yang cukup membosankan karena hanya melewati jalan yang lurus-lurus saja. Beberapa saat kemudian, mampir sejenak di pom bensin demi menghindari pengalaman mengenaskan menuntun motor sampai Solo, dan…. anggap saja kami telah melewati Klaten dan hampir sampai di Kertosuro (rumah eyang mas awe), karena sebelum kami tiba di sana memang tak ada sesuatu yang menarik untuk dituliskan. Nah, saat melewati suatu ruas jalan lurus yang saya tak tahu namanya, kami hendak belok kanan memasuki suatu gang menuju rumah eyang mas awe, otomatis kami akan menyebrang bukan? Disinilah kejadian langka, tolol, bodoh, geblek, nekat, oon itu terjadi. Mas awe yang diboncengin oleh mas dwi berada paling depan, saat hendak menyebrang, dari arah berlawanan dan jarak tanggung ada dua buah mobil melaju dengan kecepatan statis yang sepertinya memang tidak menunjukkan itikad hendak memberi jalan pada kami. Dan benar, mobil tersebut memberi kode lampu, tanda hendak terus melaju. Mas awe yang paham akan kode ini pun melambaikan tangan tanda mempersilakan si mobil untuk terus lewat. Dan………. dengan songongnya mas dwi justru tancap gas nyebrang jalan dengan kecepatan nanggung yang innocent abis…. (sik..tarik nafas sik..) otomatis si mobil tadi kagok setengah mati dan mengklakson sambil ngerem. Namun sodara-sodara.. tanpa perasaan berdosa mas dwi tetap melaju, entah polos entah bego, atau memang hendak bunuh diri karena sudah tak tahan dengan beban hidup yang ditanggunggnya selama ini…. Atau juga karena sudah begitu banyak orang yang berkata “mati wae wik” di dunia ini? Entahlah.Lalu, apakah keinginan bunuh diri mas dwi berhasil terlaksana? Nyaris. Saya, mas aldi, mas prada dan mas aji yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa ngakak. Sangat-sangat parah. Dan saat sampai di tujuan, dengan entengnya mas dwi membela diri “orang dia ngesen tapi ngerem”. Wooo….gebuki wae!!Tapi untung saja kecelakaan itu tak terjadi, komunikasi tanpa dwi bisa apa?ckakakak..Wis, lanjutke dewe, pegel ak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s