Catatan Perjalanan Pulang Liburan



Sungguh aneh yak mungkin dari judulnya, seperti menggambarkan rangkuman kegiatanku sendiri selama liburan di Samarinda. Tapi saya mencoba untuk membuat runtutan kejadian dari pra liburan sampai pasca liburan (yang jelas yang paling inget sih), dan kucoba berbagi dengan teman-teman.


Perjalanan Jogja – Surabaya

Untuk liburan kali ini sebenarnya agak memaksa karena memang lagi-lagi telat pulangnya, sebagian besar teman-teman kuliah yang berasal dari daerah yang sama sudah lebih dahulu pulang tepat sehari atau dua hari selesai ujian. Sedangkan saya masih bertahan sekitar hampir dua minggu di Jogja karena mencoba menyesuaikan harga tiket yang melonjak dua kali lipat karena saat itu merupakan liburan sekolah.. Mahalnya harga tiket tujuan Balikpapan dari Yogyakarta tersebut memaksa saya untuk berangkat melalui Bandara Juanda Surabaya.



Setelah sekian lama bertahan di Jogja, saya menuju Surabaya menggunakan travel dari Jogja yang berangkat sekitar pukul 8 malam. Dengan perkiraan waktu perjalanan sekitar delapan jam untuk nantinya tiba bandara Juanda sekitar pukul 4 subuh. Di tengah perjalanan kami pun seperti perjalanan menggunakan kendaraan darat melakukan istirahat serta makan, tepatnya saat itu kami beristirahat disalah satu warung makan yang cukup ramai disinggahi oleh sekitar 20 – 30an kendaraan travel. Warung ini kalau tidak salah di daerah Madiun, mungkin sekitar 3 jam sebelum sampai ke Surabaya.



Waktu singgah di warung itu pun tidak begitu lama, karena kami harus kembali melanjutkan perjalanan lagi ke Surabaya. Oh ya saya hampir lupa, kalau travel yang saya tumpangi terisi penuh ya maklumlah karena liburan sekolah. Dan tujuannya semuanya ke Surabaya, tetapi sekitar 4 orang termasuk saya langsung menuju ke Bandara Juanda sedangkan 2 orang turun di Terminal Bungurasih, dan 2 orang lagi turun setelah kami berempat diturunkan di Bandara Juanda.



Perjalanan yang cukup nyaman memang sudah sepantasnya dirasakan penumpang dengan seorang supir yang sudah memiliki jam terbang tinggi dalam mengemudikan kendaraan. Supir yang bisa dikatakan tidak juga muda, tapi masih memiliki wajah segar dipadu dengan seragam travel yang menandakan ke profesionalan beliau mengendarai kendaraan yang membawa 8 penumpang.



Sendiri di Bandara Juanda yang luas

Setibanya di Bandara Juanda sekitar pukul empat pagi sudah ramai, maklum bandara ini tergolong Bandara Internasional. Jadinya melayani penerbangan pertama sekitar pukul setengah 6 pagi kalau tidak salah. Setibanya disana saya memang agak bingung sekali, maklum saya seorang diri dengan keadaan financial yang memang pas-pasan untuk sampai di kota saya nanti. Tepatnya saya sudah tidak mempunyai saldo yang cukup di buku tabungan, sehingga saya tidak bisa mengambil uang di mesin ATM yang tersedia di Bandara Juanda.



Yang benar saja, saya menjadi sangat aneh sekali ketika turun di Bandara yang cukup besar dibanding Bandara Sepinggan Balikpapan. Dengan sedikit menahan dingin saya menyeret-nyeret koper yang sebenarnya hanya memiliki berat tidak lebih dari tujuh kilogram. Sesampainya dikerumunan para penumpang yang sedang bersantai menunggu jam keberangkatan saya juga masih kebingungan karena toko-toko yang berada di daerah sekitar terminal keberangkatan belum juga buka. Maklum setiba disana, karena suhu udara yang sedikit dingin membuat saya ingin menikmati secangkir kopi panas beserta roti yang tidak mungkin saya dapatkan ketika saya tiba disana.



Menunggu Check In

Karena saya tidak ingin berlama-lama diluar menunggu toko-toko itu buka, saya pun lebih memilih langsung masuk kedalam terminal keberangkatan untuk kemudian menunggu loket check in tiket buka. Sesampainya di dalam rupanya loket check in Lion Air tujuan Balikpapan yang berangkat pukul 6.15 rupanya belum juga buka pada pukul 5.10. di loket nomor 22 dan 23 ini sudah cukup panjang antrian yang tidak teratur menunggu loket check in dibuka.



Keadaan yang cukup dingin diluar membuat saya untuk menunggu di dalam, sekaligus menunggu loket dibuka. Sambil menebar pandang ke seluruh sudut ruangan terminal yang cukup luas karena terdapat hampir 30 loket dari berbagai maskapai penerbangan. Waktu dimana orang banyak terlelap berbeda dengan keadaan bandara Internasional Juanda yang sudah cukup ramai dengan adanya penumpang yang menggunakan penerbangan pertama dihari itu.



Memang dari sekian banyak loket yang terdapat di terminal tersebut tidak semuanya aktif, hanya beberapa loket maskapai saja yang melayani check in penerbangan pagi. Kalau tidak salah ada dari Lion Air, Mandala, Dan Garuda yang melayani penerbangan pagi dari bandara juanda yang melayani semua tujuan di daerah di Indonesia.



Untuk menghindari uberan dari para calo tiket pun saya lebih memilih masuk ke dalam, ketimbang tampak seperti orang bingung di luar. Memang bandara besar tidak akan lepas dari yang namanya calo tiket, apalagi saat itu adalah masa liburan sekolah. Yang kemungkinan besar orang membutuhkan tiket di Bandara atau beli langsung, walaupun harganya tergolong sangat mahal ketimbang membeli seminggu atau lebih dari hari sebelum keberangkatan.



Tapi dari dua orang calo yang sekilas menawari pada saya tiket keduanya menawari tiket tujuan Jakarta pada penerbangan pagi itu. Ya mungkin Jakarta merupakan tujuan yang mungkin banyak dicari, terutama para pengusaha, pejabat ataupun orang berduit lebih yang terkadang tidak sempat membeli tiket langsung sehingga menggunakan jasa calo ketika membutuhkan tiket di Bandara.



Dari kilas pandang saya tadi mungkin cukup menarik ketika saya belum mengantri check in di loket. Tetapi ketika sudah ikut mengantri pemandangan yang baru hadir disini. Dari berbagai jenis penumpang, tingkah laku, cara berpakaian, tapi hal ini merupakan hal biasa terjadi dimana tempat ini merupakan tempat umum yang terdapat berbagai jenis masyarakat yang menggunakan transportasi pesawat. Sama halnya dengan ketika di stasiun, terminal, tetapi yang mencolok adalah penampilan dari setiap calon penumpang di setiap tempat transportasi tersebut. Aroma segar, perfume wangi tercium dari sebagian banyak pengguna pesawat yang jarang ditemukan di stasiun ataupun terminal.



Penumpang yang semakin ramai, terkadang membuat saya kesal apalagi penumpang yang tidak tahu abad mengantri. Hal ini terjadi ketika saya sedang mengantri di loket, dan pada awal antrian ada beberapa orang dalam hal ini bapak-bapak tanpa rasa dosa menyerobot antrian. Untungnya saat itu tidak ada petugas yang sebelumnya telah menertibkan antrian check in di loket tersebut. Tapi saya cukup dongkol sekali dengan bapak itu, ya tapi apalah daya beliau sepertinya sudah cukup berumur dan menurut saya bisa jadi lebih tua dari orang tua saya.



Masalah serobot-serobot antrian sungguh tidak termaafkan, bayangkan saja. Saya, 2 orang di depan saya yang diserobot yang sudah menunggu hampir sejam. Tiba-tiba saja ada orang yang menyerobot antrian tersebut, mau negur juga nggak enak karena beliau yang nyerobot sudah agak memutih rambutnya. Rasa sabar sungguh terlatih disini mengenai mengantri, walaupun saya agak sedikit misuh-misuh yang sekiranya terdengar oleh orang yang dekat dengan saya saat itu.



Setelah sekian lama berdiri dan mengantri akhirnya saya kelar check in dan mendapat kursi di 11 D, sedikit lagi dapat deh tuh jendela. Tapi mungkin karena saya memang tidak meminta di pinggir jendela tidak begitu masalah. Untuk mendapatkan boarding pass tersebut seperti biasanya dicocokan dengan identitas diri, kemudian langsung membayar airport tax di loket tersebut. Berbeda dengan bandara Adi Sucipto, ataupun Sepinggan yang ada loket tersendiri setelah melakukan check in, hal ini sebenarnya efisiensi dari kerja dan juga penggunaan kertas dari setiap penumpang.



Saya coba tarik ulur lagi ketika dulu waktu kecil sekitar SD atau SMP melakukan penerbangan bersama keluarga saya. Kartu boarding passnya itu berhahan fiberglass, yang lama kelamaan berganti hanya sebuah tiket yang disobek. Kalau waktu menggunakan kartu yang berbahan fiberglass dan bertuliskan boarding pass kalau tidak salah, barang itu ketika keluar dari ruang tunggu menuju pesawat dikumpulkan di pintu keluar. Lain halnya sekarang yang menggunakan kertas, sehingga tinggal disobek saja. Merupakan hal yang memudahkan control dan check jumlah penumpang.



Setelah boarding pass ditangan saya tidak langsung masuk kedalam ruang tunggu, tetapi saya menyempatkan sholat Subuh di Bandara Juanda. Mengingat waktu subuh sungguh sempit, dan masih ada waktu untuk menjalankannya. Saya pun menyempatkannya, dan tempatnya dekat sekali dengan ruang tunggu saya. Tepatnya ruang 3-4, yang tepatnya ruang ini menjadi satu. Hanya berbeda keluarnya saja, jalur 3 dan 4.



Mahalnya minuman di dalam Bandara

Dari sekian banyak penumpang memang tidak banyak yang memanfaatkan fasilitas mushola di dekat ruang tunggu. Tetapi selalu dipenuhi oleh penumpang yang menjalankan sholat di mushola tersebut. Setelah menjalankan sholat subuh saya langsung menuju ruang tunggu, untuk pengamanan diruang tunggu ini memang lebih ketat. Tapi hebatnya saya bisa lolos, ya maklum lah kan saya tidak membawa barang-barang yang terlarang dibawa ke dalam cabin pesawat. Setelah saya masuk kedalam ruang tunggu yang belum begitu ramai saya meletakkan tas beserta diri saya di kursi yang menghadap televise, ya sekalian nunggu waktu naik pesawat sambil nonton berita pagi ini. Sekaligus ditemani oleh ponsel dengan pulsa sekarat, sehingga hanya untuk mengabari orang tua saya posisi terakhir saya dimana.



Baru saja saya duduk di ruang tunggu, sekitar 10 menit, tiba-tiba saya ingin menghamburkan uang di Bandara. Bukan maksud apa-apa, membeli makanan atau minuman di dalam bandara merupakan perbuatan yang menurut saya menghamburkan uang, karena waktu itu saya ingin minum susu saya keluar sebentar untuk membeli susu berkemasan dengan harga Rp. 10.000 yang jika saja saya membeli di perjalanan travel tadi mungkin dapatnya paling mahal setengah dari harga di bandara atau sekitar Rp 5000, bahkan kalau saya membeli di toko biasa hanya sepertiga dari harga bandara. Wah sungguh mahal sekali, memang sebanding dengan harga sewa tempat di Bandara yang tidak murah.



Tidak lama setelah masuk untuk yang kedua kalinya ke ruang tunggu setelah tadi keluar hanya untuk membeli susu indomilk, pengeras suara sudah memanggil penumpang Lion Air tujuan Balikpapan untuk segera menaiki pesawat. Wah bentar lagi aku sampe nih, ya memang sebentar saja sih kalau menggunakan pesawat dari Surabaya menuju Balikpapan.



Saya mendapat kursi 11 D, yang berarti dipinggir jalur penumpang lalu
lalang. Dua penumpang disamping saya adalah sepasang suami istri kalau tidak salah, yang sudah berumur. Ya mungkin udah punya cucu kali ya, untuk hal ini setelah saya lelah dalam perjalanan darat dari Jogja ke Surabaya membuat saya butuh istirahat. Saya sudah tidak begitu peduli dengan langit biru ataupun silaunya matahari yang sebenarnya bisa saya nikmati kalau saya duduk di kursi 11 F yang ditempati orang tua tersebut.




Untungnya saat itu cuaca sangat cerah, tapi tanpa awan biru yang menghiasi langit. Sehingga saya tidak begitu kecewa mendapat kursi di bagian D, dan saya juga butuh istirahat karena perjalanan di travel kurang puas. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan ketika perjalanan di pesawat, karena saya cukup lelah dan tidak terlalu niat untuk berkenalan dengan pramugari Lion Air yang tergolong muda, tapi jelas lebih tua mereka ketimbang saya yang masih kurang 4 bulan lagi untuk umur 20 tahun saat itu.



Matahari pagi di Sepinggan

Sebagian banyak waktu saya di pesawat dihabiskan dengan tidur, padahal kalau saja saya mempunyai uang lebih saya ingin sekali menikmati hidangan pagi di pesawat yang sangat mahal. Tapi itu hanya harapan, karena semuanya memang sudah pas-pasan. Lebih tepatnya lagi pas untuk tiba di rumah Samarinda.



Sekitar sejam lebih sekian menit, maklum agak lupa berapa lama dari Surabaya ke Balikpapan. Kalau tidak salah 10 menit sebelum mendarat saya baru bangun, dan sedikit mengumpulkan aura saya yang beterbangan bersama mimpi-mimpi indah di Samarinda sesaat setelah saya terbangun dari tidur tadi.



Akhirnya tiba di bandara Sepinggan Balikpapan, nikmatnya menikmati matahari pagi di Bandara setelah turun dari tangga pesawat menuju tempat pengambilan bagasi. Masih tergolong pagi, apalagi masih bisa menikmati hangatnya sinar matahari pagi jumat itu. Setelah itu saya langsung menuju toilet untuk sedikit merapikan rambut saya yang agak gondrong serta membasuh wajah saya agar lebih segar.



Setelah menyelesaikan ritual di toilet bandara, saya langsung menuju tempat pengambilan bagasi yang masih belum bergerak sama sekali. Maklum saja, baru sekitar 10 menit penumpang turun dari pesawat. Bagasi pesawat pun masih diturunkan dari badan pesawat, kami pun kembali menunggu sekitar 10 menit sampai alarm tempat pengambilan bagasi penumpang pesawat menyala yang berarti peringatan bagi para penumpang yang terkadang menduduki tempat mengambil bagasi yang berjalan memutar serta diatasnya terdapat bagasi penumpang untuk diambil oleh penumpang.



Sekitar 10 menit setelah alarm tersebut menyala koper saya satu-satunya pun lewat dengan perlahan, tapi nggak kebayang kalau lewatnya ngebut. Mungkin jarang penumpang yang bisa mengambil bagasi yang tidak jarang setiap kolinya kadang beratnya sampai 15 atau 20 kilogram. Saya yang mungkin koper dengan kapasitas maksimal bisa sampai 12 kilogram pun hanya berbobot 7 kilo saja. Maklum nggak ada bawaan yang begitu berat seperti palu, paku,. Ataupun dongkrak.



Alternatif melanjutkan perjalanan

Setelah koper saya ditangan saya pun melenggang keluar, dan diluar sudah ditunggu para supir mobil carter, taksi, ataupun tukang ojek. Dalam hal ini saya memang sebelumnya telah pengalaman untuk pulang menuju Samarinda menggunakan bus. Setelah berada diluar, saya sebenarnya ingin menikmati roti boy yang sepertinya kurang dari 2 tahun sudah berada di Bandara Sepinggan ini. Tapi sayang, saya terkendala masalah dana terbatas yang memang pas untuk semua biaya transportasi sampai dirumah, tanpa jajan diperjalanan.



Setelah saya melewati kios roti boy saya langsung menghampiri bapak yang belum begitu tua, dari tebakan saya orang ini tukang ojek. Yap benar saja, dia tukang ojek yang setia melayani penumpang pesawat setelah tiba di Bandara untuk mengantarkan kemana saja, asal tidak jauh. Saya memilih ojek karena harganya yang memang murah, ketimbang naik taksi bandara untuk menuju terminal Batu Ampar.



Sebenarnya ada lagi cara yang lebih murah dari bandara Sepinggan menuju Terminal Batu Ampar, dengan naik angkot tapi untuk nomornya saya memang tidak tahu. Jadinya saya memilih ojek, dan saya sebelumnya pernah menggunakan ojek dengan tarif dua belas rupiah pada 6 bulan lalu kalau tidak salah, lain halnya kali ini. Hanya sanggup menawar ojek tersebut diharga lima belas ribu rupiah, itu pun sudah sumpah-sumpah si tukang ojek. Kalau nyari diluar pun nggak ada harga segini untuk sampai terminal bis.



Setelah deal dengan harga tersebut, saya berjalan keluar dengan koper dibawa si tukang ojek di depan saya untuk menuju parkir motor. Dimana tukang ojek tersebut meletakkan kendaraannya. Tidak begitu lama beliau mengambil motor shogun 125 biru miliknya, saya pun langsung diantarkan ketempat tujuan. Tetapi sebenarnya tujuan utamanya adalah tempat mangkalnya bis yang langsung berangkat ke Samarinda. Ketimbang mesti menunggu 15-30 menit di Terminal Batu Ampar mending langsung ketempat nge-temnya bis tujuan Samarinda ini. Hanya menunggu paling lama sekitar 10 menit saja kalau di tempat ngetem bis tujuan Samarinda ini.



Setelah di atas bis yang bisa dikatakan tua, mungkin bunyi reotnya bis yang belum ada regulasi jelas dari dinas terkait di daerah ini menyebabkan bis yang menurut
saya sudah tidak layak jalan pun masih diopreasikan untuk jalur Samarinda Balikpapan atau sebaliknya. Mungkin menggunakan bis bisa menghemat biaya perjalanan dikala mepet seperti saya saat itu. Maklum kalau menggunakan taksi bandara bisa kena dua ratus tujuh puluh lima rupiah ketimbang, oper-oper bisa kena mentok-mentok lima puluh ribu rupiah.




Tapi terkadang untuk yang punya duit lebih, mungkin memilih taksi argo tidak ada salahnya. Terutama yang mengejar waktu untuk kegiatan yang penting. Karena saya memang santai, saya memilih menggunakan ojek untuk menuju terminal yang kemudian naik bis untuk menuju Samarinda. Hanya dengan harga tiket bis dua puluh satu ribu, sudah bisa sampai terminal bis di Samarinda.



Dalam perjalanan bis Balikpapan Samarinda yang kebanyakan pohon-pohon memang tidak terlalu menarik. Sehingga membuat saya beberapa kali sempat tertidur, walaupun hanya tidur-tidur ayam saja. Karena saya dibangunkan untuk mengecek tiket yang saya pegang oleh kenek bis tersebut. Dan kemudian saya menikmati perjalanan pulang, sampai tiba di terminal Samarinda.



Selama perjalanan biasanya bis berhenti dibeberapa tempat sebelum tiba di terminal, itulah tempatnya bis menurunkan penumpang karena lebih dekat dengan penumpang tersebut. Sehingga memudahkan penumpang bis sampai ke tempat yang dituju. Sekitar dua tempat sebelum berhenti di terminal Samarinda, ada di daerah Loa Janan, dan sebelum Jembatan Mahakam. Untuk kemudian berhenti di terminal sebagai tujuan akhir.



Setibanya di terminal yang terletak di daerah Sungai Kunjang, saya pun disambut oleh supir-supir angkot, para tukang ojek yang menawarkan jasa transportasi. Karena saya tidak begitu senang didesak oleh mereka dengan logat sulawesinya saya pun menjauh dari tempat bis berhenti tadi dan segera menuju pintu keluar untuk naik angkot dari pinggir jalan saja.



Memang tidak jauh jaraknya, saya sudah menemukan angkot yang sudah terisi sebagian. Sambil menunggu 2 orang lagi supir itu pun tancap gas melalui jalan yang masih berdebu dari terminal sungai kunjang menuju daerah rumah saya. Hanya sekitar 5 menit perjalanan saja, sudah sampai depan komplek perumahan saya. Perjalanan angkot hanya menghabiskan empat ribu rupiah saja.



Setelah tiba saya langsung mengunakan ojek kembali untuk menuju rumah jumat itu, maklum saya tiba di depan komplek sudah dekat waktu sholat Jumat. Jadi tukang ojeknya pun tinggal sedikit, sebagian sudah pulang kerumah masing-masing kali buat beres-beres mau sholat jumat. Hanya mengannggukan kepala, atau juga mengangkat jari tangan sambil menunjuk arah kedalam komplek para tukang ojek sudah mengerti. Saat diatas ojek pun saya tinggal mengatakan,”pos wawali belok kanan” merupakan patokan yang sangat mudah dipahami. Karena memang rumah saya tidak jauh dari pos keamanan rumah pribadi Wakil Walikota yang tidak lain juga tetangga saya. Untuk sampai ke rumah dari depan komplek sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan kaki, karena dulu waktu SMP ataupun SMA pun saya kadang berjalan kaki dari depan komplek. Tidak jauh hanya sekitar 10 menit saja, lumayan untuk olahraga. Tetapi saya menggunakan ojek karena saya telah melakukan perjalanan jauh, yang secara tidak langsung menyita energi saya. Harga ojeknya pun tau diri, karena mereka tau orang-orang dikomplek perumahan saya rata-rata orang mampu jadi harga tarifnya pun sama dengan angkot dari terminal tadi, empat ribu rupiah.



(ganti font biar enak bacanya-ditulis dalam 2 kesempatan)

8 thoughts on “Catatan Perjalanan Pulang Liburan

  1. danangwawan said: Tapi hebatnya saya bisa lolos, ya maklum lah kan saya tidak membawa barang-barang yang terlarang dibawa ke dalam cabin pesawat

    Nah itu yang gw heran wi. Emang muka lo gak dianggap barang terlarang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s