Mudik Lagi Nulis Lagi


Foto ini diambil ketika buka bersama DeadLine, menggambarkan seorang blogger yang sedang bimbang ingin melanjutkan makan dulu atau nulis di blognya.

Kepergianku mudik lebaran kali ini mungkin menjadi pengganti setelah tahun lalu tidak berlebaran di Samarinda. Ya nasiblah tahun lalu yang lebaran di Tegal, dan balik-balik jatuh sakit gitu di Jogja yang masih sepi sehingga ditampung oleh Awe untuk beberapa hari yang setelah itu saya mengungsi di B21 sekitar 2 malam. Ya maklumlah, itu sedikit kilas balik cerita mudik lebaran tahun lalu.

Mungkin rentang waktu mudik mudik “>lebaran saja “>dengan pulang kampung dalam rangka liburan semester kemarin hanya selisih sekitar 2 bulan saja. Dan semakin seringnya pulang kampung, jadi semakin biasa saja dengan keadaan di Samarinda. Walaupun memang saya biasa-biasa saja kalau mudik ke kampung halaman, nggak ada yang spesial kok selain bertemu dengan keluarga (bokap, nyokap ma mbak). Dan dalam rentang waktu 2 bulan tadi, di Jogja jelas mengurus kegiatan ospek, beberapa rapat dies, dan kuliah sekadarnya. Sehingga kepulangan lebaran ini memang terkesan pemborosan dari segi ekonomi – walaupun sedikit dipaksa juga sih pulang lebaran.

Kembali ke kotaku… Ya beginilah rasanya, kembali ke kegiatan seperti biasa kalau lagi libur di rumah. Ya ngendon dirumah, dan keluarnya pun kalau ada temen, kalau nggak ya keluar trus jadi anak ilang disuatu tempat di Samarinda tentunya – saya pun nggak habis pikir membayangkan diri saya yang keluyuran sendiri di salah satu Mall yang bernama Samarinda Central Plaza, walaupun terkadang terasa aneh tapi itu kadang terjadi kalau sudah benar-benar bosan dirumah.

Kepergianku pulang lebaran kali ini seperti biasa, entah tujuh Jogja-Balikpapan “>atau delapan kali aku pulang pergi Jogja-Balikpapan atau juga sekali lewat Surabaya. Sudah sekian seringnya hilir mudik dengan jarak yang tidak dekat ini, saya pun sudah semakin terbiasa dengan barang-barang yang akan saya bawa. Tidak seperti pada awal-awal dulu pulang yang masih membawa banyak bawaan, tetapi kini hanya tas punggung yang berisi laptop, kamera dan beberapa charger. Kecuali ada pesanan dari orang tua minta dibawakan gudeg, ataupun oleh-oleh dari Jogja. Kalau ada saya pun Cuma menambah beberapa tentengan saja, tidak begitu senang saya menggotong-gotong barang bagasi sampai 2 koli.

Sebuah koper setiap kali saya berangkat pun tidak pernah penuh terisi, hanya beberapa oleh-oleh itu serta beberapa Jogja “>semua “>pakaian dalam dan pakaian yang saya nantinya saya tinggal di Samarinda. Maklum hampir semua pakaian di Jogja semua, maka dari itu saya sedikit membawa pakaian yang dipastikan tidak saya gunakan ketika di Jogja. Ketimbang menuh-menuhin lemari, mending dibalikin ke asalnya aja. Ya sejenis pakaian santai, baju-baju rumah buat tidur, dan bukan buat berkegiatan yang formal.

Ada sebuah cerita menarik yang mungkin setiap kali saya menikmati perjalanan dari Bandara Sepinggan menuju Samarinda. Belakangan ini saya cukup sering menggunakan bis antar kota untuk mengantarkan saya dari Balikpapan menuju Samarinda. Selain tidak ingin merepotkan orang tua untuk menjemput, saya pun ingin menghemat biaya transportasi.

Semendaratnya saya di Bandara Sepinggan sekitar pukul setengah 12 hari sabtu(12/09), sebenarnya saya ingin ikut bersama teman yang kebetulan tadi satu pesawat. Tapi berhubung tidak begitu kenal dekat, dan dia juga sudah pergi duluan jadinya nggak dapat tumpangan. Ya maklumlah suma say hello waktu ngantri naik di tangga pesawat.

Untungnya saya tidak banyak membawa banyak barang kemarin, jadi seperti biasa saya menggunakan bis untuk menuju Samarinda yang jarak tempuhnya kurang lebih dua jam. Ketimbang saya menggunakan jasa taksi bandara dengan harga 250 ribu, atau carteran mobil 150 ribu? mending naik ojek dulu ke tempat ngetem bis tujuan Samarinda. Ya biasa hitung-hitungannya seperti ini.

Naik taksi bandara 250 ribu.

Carter mobil 150 ribu.

Ojek + Bis + angkot = 15ribu + 21ribu + 4ribu = 40ribu

mungkin angka-angka diatas secara tidak langsung menandakan semakin kurangnya antusias pengguna bis sebagai transportasi masal. padahal lebih murah ketimbang naik taksi atau mobil, ya tapi itu kembali kepada kebutuhan dan sedalam apa kantong anda untuk menggunakan jasa transportasi.

Tapi yang masih rasa agak aneh adalah ketika saya menuju pintu keluar untuk mencari ojek ketempat ngetem bis, seperti biasa saya langsung menuju pintu keluar setelah memastikan semua barang bagasi sudah ditangan saya.

Ketika mendekat tokonya roti boy, saya memang ditawari para supir-supir yang menawari jasa transportasi ke Samarinda dengan harga 150 ribu menggunakan kijang inova ataupun mobil-mobil jenis keluarga. Ya itu pun kadang dicampur dengan pengguna yang lain, hal itu tidak masalah yang penting sampai tempat tujuan.

Ketika saya menampakkan wajah kebingung saya, langsung jelas “>saja makin banyak orang yang datang dan menawari saya. Ya jelas saja saya jadi tambah males ngeladenin, yang saya butuhkan ojek yang datang supir mobil. kecuali dia mau saya bayar seharga tukang ojek yang 15ribu sampai tempat ngetem bis. Ya jelas saya doyan, glamour gitu ke tempat ngetem bis naek mobil.

Itung punya itung macam warga cina yang pandai berhitung dan tidak perhitungan. Saya pun tetap keukeh milih naik “>ojek, tapi saya ngeliat suatu wajah tak asing. Ketika 2 bulan lalu naik ojek, dan saya naik ojek sama si Bapak ini. Ya jelas saya masih ingat wajahnya mending saya langsung tanya ke bapak ini. mari mulai mengingat percakapannya.

“mau kemana mas? balikpapan? sangatta? bontang? samarinda? tenggarong?” begitu cepatnya si bapak nyerocos nawarin mau kemana aja, layaknya broker yang kejar setoran.

“mau ke terminal aja pak” begitu jawab saya,

“30ribu mas?” tawarnya.

“15ribu aja deh, kan 2 bulan lalu saya juga pernah naik sama situ” berhubung sya masih ingat jadinya ya saya tawar segitu.

“ah masak segitu, mana dapat? bensinnya gak nutup. mungkin dulu mas pelaris saya. jadinya saya kasih 15ribu” begitu jawabnya cerocos panjang tak karuan dengan muka ditekuk segala macam mau marah dibulan puasa.

“waduh mas, gimana sih?” kejar saya

“ya nggak mas, gimana naik mobil aja. ntar dapat deh 50ribu sampe samarinda” begitu tawarnya pada saya entah broker macam apa dia meyakinkan saya, ya mungkin digabung dengan penumpang lain.

-sejenak berpikir karena bingung, saya pun melangkahkan kaki menuju parkiran mobil-

“langsung ikut bapak itu aja, langsung ke Samarinda 50ribu”cerocos tukang ojek tak jelas satu ini.

-dengan langkah bingung saya pun menuju parkiran mobil-

“mas ikut sini juga?” tanya bapak yang membawa putrinya sekitar umuran baru kuliah itu kepada si supir dengan agak marah.

“iya pak, cuma tambah bensin ajalah pak. sekalian”jawab pak supir agak memelas sambil memasukkan barang si bapak marah tadi ke bagasi mobil

“wah gak jadi klo begitu pak!” saya gak jadi klo anak ini ikut(saya)” jawab bapak ini makin ketus sambil menurunkan kembali barang yang sudah dinaikkan pak supir ke bagasi mobil sambil marah-marah.

-saya tidak memperhatikan anaknya yang mungkin terlihat bingung saat itu. kemudian saya tinggal pergi menjauh meninggalkan percekcokan mereka berdua-

Saya cukup mbatin disaat puasa siang tukang “>ojek “>itu, hanya untuk ke Samarinda kenapa mesti ada percekcokan si bapak dan si supir itu. Apalagi kesombongan tukang ojek itu yang sok-sokan nggak mau ditawar, yang akhirnya saya dapat tukang ojek diluar bandara sekitar 5 menit jalan kaki dengan harga 15ribu. Inget bung! rejeki kok ditolak, pake acara ndobos lagi tuh tukang ojek, bilang pelaris.

Ya sudahlah, mungkin mungkin “>saja kalau tampang saja setidaknya lebih tampan dengan setelan klimis atau macam anak gaul sekarang mungkin bapak marah-marah tadi akan berpikir ulang untuk menolak saya bergabung dengan mobil itu untuk menuju Samarinda.

**Kini aku mencoba menikmati liburan lebaran hari demi hari… melewati hari-hari bersama keluarga sebelum suatu saat nanti saya memastikan diri untuk pindah jari warga negara Sleman.**

6 thoughts on “Mudik Lagi Nulis Lagi

  1. @ mbak Henny
    Nah itulah dia mbak, walaupun saya baru 2 tahun padahal sering mudik ke Samarinda. pun masih mengalami seperti yang anda rasakan juga tuh. jadi Geje di kota sndiri.
    roaming bgt gtu katanya. hehehe…
    tp gak ap2… namany juga nuntut ilmu.

  2. Yup Bener bgt tuh,dulu saya ngalaminnya… Selama kuliah 9 thn (Bukan krn oon Mknya Lama,tp krn ambil s1 dan s2) di bdg, Tiap mudik…jd serasa berada dinegeri antah berantah…no friends,no activities, nothing have to do, jdnya bengong kuadrat…karena kebiasaan Sbk Selama di bdg, sbnrnya Sbk2 amat jg gak sih…sok Sibuk aja….hehe

  3. @ mbak Henny
    Wah beneran nih mbak. saya juga nggak kebayang setiap kali saya mudik dari tempat menimba ilmu (jogja), selalu mengalami ke-asingain tersendiri. entah mau ngapain… wah klo acara blogger mah saya juga blum pernah ikutan. newbie.:D hehe… ya di Samarinda ada kok, link udah ada di FBku. hoho..
    wah bahasan plasa mulia udah ada pernah ku tulis, hehe. tp sekilas. selanjutnya lg on progress nih.

  4. Iya tuh,kalo ke smd…pulang mudik,kta Jadi oon…jd bingung mo ngapain yah,sdh kebiasaan sok Sbk di kota Tmp nimba ilmu🙂 skrg ada mall baru mas, Namanya mall mulia…ato semacam inilah,dibhayangkara,dpn hotel mesra.saya baru dr sana,parkirnya bikin pyusiing…muter2 gak jelas…msh belom beres lg. Wahhh kapan2 kalo mau pulkam, alias mudik,kbr2i dong…Ntar kan saya Bs titip2…hehe… Btw,kalo ada acara blogger mau dong ikutan (Henny/advanture.wordpress.com)

  5. @ Samarinda
    yoi mamen, ya mesti sabar2lah karena org2 tersebut nggak kira-kira klo ngeselin di bulan Ramadhan. huhu…
    wah plasa baru blum mampir jhe, eh kpn nih ada ngedate ank2 blogger samarinda??? aku pngn nih ikutan… hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s