Kota Saya Kota Tepian


Benar-benar di tepi sungai kurang lebih dua belas tahun saya besar di kota yang dikenal dengan sungainya. Benar-benar merasakan asiknya dunia pinggir sungai yang penuh dengan endapan lumpur  [FOTO] dari gunung-gunung yang semakin gundul disebelah sana [FOTO]. Terkadang saya menepi untuk menikmati angin sungai saat keci dulul. Memang kota saya kota Tepian yang indah diliat dari tepi.

Tidak terdapat banyak isi di tepi, yang ada bukan berarti toping dari pizza hut. Tapi mungkin tepi dulu dan kini jelas sudah sangat berbeda, semakin berbenah karena sudah semakin kumuh. Tahun ke tahun semakin padat dan kemudian diadakan relokasi-begitulah tepian sungai karang mumus salah satu anak sungai Mahakam yang sepertinya menjadi anak tiri kareng sempat tidak begitu diperhatikan atas kekumuhannya. Tapi yang jelas saat ini berusaha untuk berbenah menjadi lebih baik, mari tunggu kabar dari sang sungai Mahakam dan karang mumus yang bagai anak angkat dan orang tua angkatnya. [FOTO]

Banyak cerita yang bisa dikisahkan dari jaman ke jaman, melewati dimensi waktu yang berbeda, melalui masa kepemimpinan walikota yang beda juga. Tapi tidak banyak dokumentasi mengenai cerita dari sisi sungai Mahakam yang sebenarnya tidak sebanding dengan banyaknya alirang. Tapi banyaknya segi cerita yang lahir tentang tepian Mahakam pun melahirkan kebosanan orang-orang warga tepian itu sendiri yang sudah merasa biasa dengan kehidupannya masing-masing.

Aku terlahir dari jaman ketika Jembatan Mahakam tidak begitu lama diresmikan, [Piagam peresmian] dan juga ketika bukit yang berada di pertengahan antara jalan Balikpapan menuju Samarinda itu dilewati Presiden Soeharto saat itu untuk meresmikan jembatan Mahakam masa lalu sehingga bukit itu pun dinamai Bukit Soeharto sampai saat ini. Itu sekilas saja begitu sensasionalnya ketika sungai Mahakam tidak dilewati diairnya, tetapi melewati jembatan yang berada di atasnya, berhubung juga jembatan pertama kali maka diberi nama jembatan Mahakam.

Mahakam hanya sebagian kecil dari bagian sejarah sungai Mahakam yang memang membatasi Samarinda kota dan Samarinda Seberang(karena nyebrang sungai dulu). Dari bagian kecil dari sungai Mahakam yang bernama jembatan itu tadi, mungkin ada banyak bagian lain yang lebih menarik dari sepanjang tepian Mahakam sendiri. Setelah kamu menyebrang melewati jembatan Mahakam, nanti bisa kamu menikmati tepi sungai Mahakam melalui kaca mobilmu itulah jalan utama –mungkin lebih tepatnya mahautamanya jalan sampai saat ini, dimana jalan raya yang menyusuri tepi sungai Mahakam sampai saat ini tetap menjadi jalan yang sangat vital sekali untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lain.

Aku ingin sekali memulai perjalananku ketika menyusuri tepi sungai-mungkin lebih tepatnya lagi segala sesuatu yang berada di tepi sungai, lingkungan, atau apapun. Dari waktu ke waktu yang semakin membuat Ibu kota propinsi Kalimantan Timur ini begitu hedon dengan sudut-sudut kota penuh tempat hiburan malam yang memberikan kesenangan bagi para penggemarnya, tidak seperti dulu yang masih menikmati alunan tingkilan-sejenis alat musik tradisional, apalagi menikmati pantun-mahalabiyu(maaf nggak ngerti tulisannya). Kini seperti itulah salah satu sudut kota tepi sungai Mahakam ini yang memang tidak begitu jauh dari sungai Mahakam. Antara sudut hedon yang kini mengikis suatu kebudayaan daerah yang memang semakin hari semakin tergerus oleh jaman, dan semakin ditinggalkan oleh pemuda-pemudanya yang sebenarnya menjadi penerus budaya itu.

Semakin banyak penunggu(kongkow) di sepanjang tepian-kami menyebut tepi sungai Mahakam, entah menghabiskan waktu dipinggir sungai untuk menikmati kesendirian ditemani hembusan angin sungai, atau juga menikmati beberapa tepi yang tertutupi pohon yang agak rindang-tahu sendiri apa yang diperbuat. Mungkin kebanyakan mereka menikmati nuansa lain ditepian Mahakam yang ada, dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang kering disiang hari. Mungkin nuansa mengingat ketika sungai Mahakam dulu yang menjadi saksi bisu perkembangaan kota ini.

Begitu banyak muda-mudi, tua muda, datang untuk menikmati hiburan malam disalah satu bagian tepian yang tepatnya di seberang bekas asrama polisi (kini jadi tempatnya lakalantas kalau tidak salah), sudah tampat ricuh riuh suasana ketika matahari sudah mulai merendah dimana memberikan hiburan untuk masyarakat yang mungkin sudah jenuh dengan makin maraknya mall yang berdiri menggeser lahan resapan air, atau lebih tepatnya alih fungsi lahan.

Bergeser beberapa kilometer, tapi tidak begitu jauh dari tempat diatas. Sebuah pelabuhan yang terletak berseberangan dengan Masjid Raya Darussalam yang salah satu icon  Samarinda dan kemudian muncul Islamic Centre [FOTO] yang lebih megah lahir belakangan ini dan terus dikebut pembangunan beberapa bangunan pendukung lain disekitar komplek Islamic Centre. Mungkin Masjid Raya Darussalam lekat dengan sejarah kota tepian setelah Masjid Shiratal Mustaqim yang lebih dulu ada sehingga bisa dikatakan masjid tua yang terletak di Samarinda Seberang.

Di pelabuhan ini merupakan salah satu organ penting dalam kehidupan kota Samarinda, dimana kegiatan ekonomi Samarinda berjalan, dan terdapat pasar pagi-begitu namanya, yang cukup ramai sampai membuat jalan raya yang terletak di tepi sepanjang sungai Mahakam sekitar pasar pagi pun tak luput dari kemacetan. Yang entah bagaimana mengatasinya hingga kini, Ya maklumlah karena jalan itu juga dilewatin oleh kendaraan besar sejenis truk, ataupun kontainter [FOTO]. Kini dermaga itu sudah tidak begitu ramai katanya ketika dulu belum ada jembatan Mahakam, mungkin hanya beberapa kapal kecil yang mengantarkan masyarakat yang berada di pedalaman yang perahu menjadi alat transportasi utamanya. Mereka masih menggunakan pelabuhan ini, tidak begitu ramai dengan aktifitas perahu motor. Tapi ramai dengan para pendatang yang dulu sempat membuka lapak-lapak atau pedagang kaki lima. [FOTO] Bahkan sempat menjadi tempat tinggal semi permanen oleh beberapa warga pendatang yang kebanyakan dari suku bugis, tapi itu sudah tidak begitu tampak ramai lagi ketimbang belakangan ini setelah ditertibkan oleh pemerintah kota. Maklum hal itulah yang membuat daerah dermaga kecil di pasar pagi itu menjadi semakin kumuh, dan kini coba untuk ditertibkan.

Mungkin akan lebih banyak lagi sudut-sudut kota samarinda yang tidak jauh dari tepi sungai yang menyimpan bukti “kejam”nya jaman terhadap kota yang tidak bisa dikatakan kota karena masih dalam perubahan secara sosial orang-orangnya dalam memahami kotanya sendiri. Dengan pemahaman yang arif tanpa melupakan unsur sosial budaya menarik yang terdapat di dalamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s