Useless-nya Lensa Termos Saya


Sebelum saya melepas lensa termos saya(lensa tele dibaca termos) mungkin saya ingin membuat memoriam-entah kata apa yang cocok, untuk kembali mengenang mungkin sekitar setahun lebih dikit lensa tele itu menemani canon 400D saya yang tanpa Vertikal Grip. Setelah lebih dari setahun lalu lensa itu cukup banyak memberikan saya pelajaran mengenai fotografi bagi para pemula bagian pemilihan gear.

Pada bab pemilihan gear bagi fotografer pemula mungkin perlu lebih ditekankan lagi. Karena berdasarkan beberapa pengalaman yang di sharing-kan di beberapa forum fotografi membicarakan mengenai pemilihan gear bagi pemula. Mungkin karena pemula yang masih penasaran ingin sekali memiliki kamera dengan lensa yang panjang, hal inilah yang saya rasakan ketika menginginkan lensa tele itu.

Dari kebanyakan topik di forum mengenai pemilihan gear(lensa lebih tepatnya) banyak fotografer yang merasakan useless-rasa tidak berguna,nya lensa tele mereka setelah menggunakannya beberapa bulan setelah membeli. Dan kemudian menjualnya kembali setelah merasakan percumanya membeli lensa tele, mungkin sekitar empat sampai tujuh bulan setelah pembelian. Dari situlah bab pertama mengenai pemilihan gear dimulai, dimana fotografer mulai belajar memilih peralatan lain dan kemudian merasakan tidak bergunanya alat tersebut.

Terpesona di awal.
Mungkin inilah pengalaman saya ketika di awal dulu ketika “apa yang harus saya miliki selanjutnya?”-layaknya kaum burjois yang mau tinggal gesek kartu. Tapi berhubung saya kaum biasa saja, jadi nunggu kucuran ataupun proposal permohonan barang disetujui oleh si Ayah sebagai yang memiliki keputusan paling tinggi. Ibaratnya sudah presidennya disuatu Negara lah, yang menentukan jalan atau tidaknya suatu perencanaan, tapi ini dalam lingkup yang lebih kecil.

Setelah beberapa saat setelah memiliki kamera, seperti layaknya pemula saya sudah ada rasa pengen beli apa yah, kan kalau cuma lensa kit 18-55 aja nggak puas, mau yang mana nih? Yang itu mahal, yang itu murah tapi katanya warnanya nggak tajam. Seperti itulah bagi para fotografer yang baru mulai memulai masuk kedalam dunia yang tidak murah itu-penuh dengan rasa penasaran yang tak sanggup menebus peralatan yang tak sesuai dengan kemampuan mahasiswa. Tapi hal itu hanya beberapa saja yang kemudian terealisasikan dikalangan mahasiswa, apalagi untuk membeli suatu perlengkapan tambahan seperti lensa atau flashlight(lampu kilat coi). Tidak semua proposal yang diajukan kepada orang tua masing-masing kemudian cair seratus persen, sehingga kemudian mereka pun melancarkan rayuan maut agar bisa sesuai yang diinginkan. Kalaupun tidak seratus persen, maka harus berpikir ulang untuk cari utangan, bongkar tabungan, ataupun mengurungkan niat membeli untuk beberapa bulan ke depan menunggu waktu yang lebih tepat.


Dari sedikitnya yang bisa terealisasikan proposalnya, saya cukup senang waktu disetujui dulu untuk membeli lensa 70-200 F4L non IS, berhubung itu lensa tergolong lensa bergelang merah. Nggak begitu tau kenapa sampai disebut bergelang merah, mungkin ada gari merah dipinggir dekat ring filter. Dan lensa ini tergolong lensa kelas atas dengan budget yang cukup murah. Tapi berhubung saya sudah naksir duluan sama lensa tele saat itu, jadinya saya memilih lensa tele untuk gear selanjutnya setelah kamera dan lensa kit.

Sebenarnya ada alasan yang cukup kuat untuk kenapa memilih lensa itu, karena saya menyadari kalau saya beli lensa dengan merk selain canon takutnya harganya turun nggak karuan kalau mau di jual bekas pakai saya. Maklumlah saya bisa digolongkan tidak begitu awet menggunakan barang-barang, kemudian berhubung sebelum diputuskan membeli memang ada event yang cukup besar bernama Pekan Olahraga Nasional yang kemarin diadakan di Kalimantan Timur. Sehingga saya menjadikan alasan untuk membeli lensa tele, dan digunakan untuk memotret acara tersebut. Dari situlah saya berhasil melakukan rayuan-rayuan maut kepada orang tua saya untuk minta dibelikan lensa termos itu.

Saya memang awalnya tertarik karena memang kualitas gambarnya jelas berbeda dengan merk lain(thirdpart) seperti tamron ataupun sigma, tokina tidak termasuk karena kualitasnya tidak jauh berbeda dengan merk asli. Kemudian saya tertarik candid, maka dari itu saya juga memilih lensa tele, walaupun saya saat itu merasa kurang panjang nggak apa-apalah sudah cukup mumpuni untuk memotret dengan jarak agak jauh dari objek. Dan lebih tepatnya terkesan gagah dengan lensa tele-nggak tau lama-lama ngerasa useless juga pake lensa tele.

Terhitung Gengsi Juga Sih
Mempunyai barang yang tidak dipunya teman-teman saat itu merupakan suatu kebanggaan sendiri-kayak anak kecil lho, pake pamer-pameran gitu deh. Ya mungkin anak kecil banget, seneng punya barang yang orang lain nggak punya ya jelas aja nggak sanggup belinya-saya aja sampe ngerengek-rengek dengan balasan saya nggak dapat motor baru dengan gantinya lensa L series itu. Mungkin nggak banyak orang yang tahu, kalau lensa itu merupakan gantinya dari nggak jadinya beli motor baru buat kendaraan saya kuliah. Tapi nggak begitu masalah, kan masih ada motor lama yang masih sehat dikit-walaupun kadang batuk-batuk, maklum sudah umur.

Membelinya pun memang sebelum pulang ke kampung halaman, tepatnya sekitar seminggu sebelum mudik. Jadi baru beberapa hari saja saya gunakan di Jogja dan memang belum ada yang liat lensa baru saya, hahahaha… Tapi setelah saya memposting foto hasil jepretan dari lensa tele itu disini(kasih link album foto PON), mungkin ada teman yang bilang lensa baru-ya memang baru buat alasan moto PON juga sih. Setelah itu baru saya bawa ke kampus beberapa hari sepulang saja ke Jogja kembali dari liburan yang motret PON itu.
Mungkin nenteng-nenteng lensa tele satu ini kalau lagi hunting mungkin kenikmatan tersendiri, apalagi untuk dikalangan teman-teman memang nggak ada yang pake-wah saya jadi norak, ahahaha. Tapi nggak apa-apa rejeki juga sih, saya paling sering kalau lagi hunting baru nih lensa kepake dengan maksimal. Maklum kalau biasa-biasa saja ya masih dianggurin aja di tas kamera yang saya biarkan terbuka(bukan pamer, tapi biar dapat udara terbuka dan nggak lembab).

Sempat juga lho punya lensa ginian yang teman-teman sesama umat canon pada ingin pinjam lensa tele saya, yaa itung-itung saya jadi orang pelit. Nggak semua saya pinjamin, apalagi kalau nggak begitu kenal orang ini memperlakukan kameranya seperti apa. Jadi saya sangat enggan untuk meminjamkan lensa itu, kalaupun tukar-tukaran lensa itu pun di tempat hunting saja. Jadi saya juga tahu dia menggunakan lensanya seperti apa.
Lumayan buat pemasukan.

Karena saya lama kelamaan ngerasa useless-nya lensa tele saya ini jadinya sempat terpikir untuk menyewakan lensa saya ini. Maklumlah ada juga yang butuh sewaan lensa, dan itu disambut hangat oleh mas Indra yang punya gawean foto prewedding ataupun wedding, atau apapun mengenai foto yang menghasilkan uang dari foto. Dia pun sempat menyewa beberapa kali lensa saya untuk kebutuhan komersial dan itu menghasilkan sih. Dan dengan gantinya saya dibayarin uang buat sewa lensa saya. Kadang juga mas Gentong minjam buat kebutuhan foto komersial, dan setelah itu dia lama tidak memotret entah kenapa-mungkin mau ganti kamera lagi, maklum doyan ganti-ganti kamera.

Dari hasil sewa lensa saya itu sebenarnya nggak tau kemana duitnya, bukan lenyap begitu saja tapi juga tidak menjadi barang. Yang jelas sih hasil sewa lensa itu buat tambah-tambah uang hidup saya kalau lagi mepet tanggal tua dan nggak minta tambahan uang-mending nunggu kiriman aja. Jadinya uang itu habis disitu aja, atau malah kadang habis buat bayar tagihan speedy di rumah Jogja. Itung berhitung ya lumayan juga daripada nggak kepake mending tak sewain aja sih sebenarnya, jadi pemasukan pribadi.

Kelanjutannya sekarang nggak tau mau digimanain lagi nih kamera, daripada makin useless dan nggak kepake mending saya jual. Itu baru kemungkinan saja lho, karena sudah setahun lebih dan garansi sudah habis, ditambah sudah masuk servis karena sistem Auto Focusnya lambat dan memang sekarang sudah seperti semula sih. Itu sebenarnya sudah balik modal kalau digunakan untuk kebutuhan komersil, sayangnya bukan jadi nggak ada balik modal nih lensa. Nggak masalah juga sih, yang penting bab pertama untuk seorang fotografer pemula bagian pemilihan gear lanjutan sudah selesai. Semoga saja ada yang mendapatkan pilihan yang tepat, apalagi untuk mengeksplorasi kemampuan fotografinya tanpa mengisolasi gambar menggunakan lensa tele.

2 thoughts on “Useless-nya Lensa Termos Saya

  1. @ PabrikSendal
    hehe… kamu bisa aja, tapi bagus tuh emg dibahas. mau ngakak dikit aja tapi liat tulisan kamu itu.
    knp balas disini? ya reply aja sbnrny ditempatmu.hehe…

  2. hehe, terimakasih..
    ya, (alay) memang sebuah fenomena yang mestinya disikapi dengan “datar-datar” saja, bukan begitu..

    salam kenal🙂

    nb: sori nge-reply disini, abis bingung mau dimana lagi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s