Membangun mood itu butuh kemauan


Sekitar seminggu belakangan ini saya mencoba untuk kembali membangun mood nulis yang kemarin sempat bergelora bak memperjuangkan kemerdekaan, tapi daku malah lebih memilih istirahat lebih dulu. Maklum kalau hanya berlama-lama di depan monitor tanpa menulis, mungkin lebih tepatnya cuma wasting time. Malah daku membangun mood dengan tidur, bukan sesuatu yang solutif tapi setidaknya kembali mengembalikan kebutuhan tidur 8 jam sehari seperti biasanya yang hanya 6 jam saja.

Terlalu banyak kejadian yang kemarin-kemarin ingin saya tuliskan, tetapi mungkin hanya lewat saja. Nggak begitu dapat waktu yang tepat untuk nulis(hanya alasan saya), ataupun lagi nggak mood(lagi-lagi si mood dijadikan kambing hitam). Tapi yang jelas untuk menghadirkan itu semuanya saya lagi-lagi membutuhkan sesuatu yang tidak begitu tenang, tapi keinginan yang benar-benar untuk bermain-main dengan tuts keyboard notebook saya merangkai huruf demi huruf.

Mungkin sudah lama saya melewatkan romantisme produksi film bersama teman-teman, ataupun pergelutan saya dengan Ujian Tengah Semester yang saya rasa cukup untuk lulus dengan nilai memuaskan dari 24 sks ada 9 sks yang mengulang. Dan saya pun sudah melewati masa krisis dimana saya harus sedikit mengalah egoisme saya untuk bergabung di acara Locstock Fest di Kridosono ataupun terlibat kembali dalam produksi iklan buat televisi lokal yang digarap teman saya. Hal tersebut saya memang sedikit songong karena banyak tawaran dan harus mengerti prioritas. Dan saya nikmati saja apa yang bisa dirasakan makrab bersama-sama pengurus Komako ditengah rintik-rintik hujan dan hembusan udara dingin yang menusuk tulang.

Sudah cukup lupakan kemarin-kemarin hari yang sedikit ada gejolak, tapi kini harus lebih bergejolak lagi. Tanpa ragu dan sedikit egois pun harus kembali ada karena saya terikat di organisasi dan ingin juga berkegiatan diluar. Yakin bisa kawan! bisa diatur waktunya biar nggak crash aja sih. Kali-kali ada waktu yang sela dan bisa dimasukin agenda lain.

Walaupun relita kemarin film Sakti tidak lolos untuk Festival Film Dokumenter 2009 nggak begitu masalah yang penting karya udah ada. Lolos atau tidak adalah pengalaman dalam membuatnya. Proses itu yang saya nikmati, walaupun saya kemarin nggak masukin jadi volunteer buat FFD 2009 sendiri. Tapi nggak masalah saya kan agak songong, nggak mau ah volunteer udah agak naik. langsung ditarik panitia baru ok. Maaf yah, tapi inilah saya bung. hehehe…

Realitamu bersama-sama kita menari diatas angin yang berhembus kemanapun sesuai musim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s