Traffic Management di Samarinda


Wow! saya sedikit terkejut dengan berkembangan Samarinda yang saya jarang kunjungi. Maklum saya berdomisili di Jogja untuk kuliah, dan kalaupun pulang tidak begitu lama disana. Tapi saya benar-bener belakangan ini iseng-iseng saja memantau perkembangan melalui beberapa situs koran lokal. Ya dari situ bisa tergambarkan sudah seperti apa Samarinda dari jauh, walaupun hanya penerawangan saja melalui tulisan.

Mungkin ada sedikit perkembangan yang membuat saya terkejut, ada sebuah teknologi yang baru diterapkan di Samarinda. Yang mungkin ingin saya coba kritisi kenapa sampai menggunakan teknologi ini, teknologi barunya bernama Automatic Control Traffic System seperti dikutip dari SamarindaPos yah saya jelas saja sedikit tidak yakin. Ataukah hanya latah belaka Pemkotnya? atau mungkin ingin menunjukkan kita punya teknologi baru nih buat ngatur lalu lintas.

Oke berlatar belakang yang bukan urusan teknis, tapi sering ngurusin hal-hal demikian mungkin saya bukan orang yang berkompeten dalam hal ini. Tapi mungkin cuma menanggapi, masak nanggapi aja nggak boleh toh? kan mengutarakan pendapat dilindungi sekaligus dibatasi oleh Undang-Undang. Ok kembali ke topik yang utama nih, awalnya  pengen ngebahas teknologi baru yang dibeli Pemkot Samarinda seharga total 2.8 milyar rupiah? so ini bukan uang yang kecil kalau sudah melewati beberapa tangan nakal. Takut aja hasil akhirnya nggak bagus, atau malah SDM yang ada malah nggak kompeten untuk hal ini.

Coba kita urut kembali kenapa tidak begitu yakin akan kompetennya SDM, ataupun pembelian atau pengadaan ACTS ini. Ada hal yang menarik mengenai traffic light, tapi bukan distro yang disimpang jalan Awang Long itu lho. Tapi ini traffic light yang sesungguhnya, dimana berguna mengatur arus lalu lintas. Dan teknologi baru itu memang sangat baik, untuk menghitung traffic dan kemudian mengatur berapa lama lampunya menyala. Apalagi dilengkapi CCTV, tapi ini mungkin diletakkan di 8 titik saja  rencananya. Yakin bertahan? atau malah ilang? ya kita nggak tau ntar jadinya seperti apa nanti setelah semua 2.8 milyar tersebut sudah selesai dipasang.

Tapi sebenarnya mudah saja, jangan latah untuk teknologi secanggih itu (saat ini). Tapi kenapa tidak disiapkan SDMnya terlebih dahulu, atau juga menggunakan teknologi yang ramah lingkungan. Jelas saja Solar Cell untuk sumber daya Traffic Light? toh gosipnya Samarinda krisis listrik. Ya mungkin saja ACTS itu sebaiknya sudah mengaplikasi sumber daya Solarcell yang lebih ramah lingkungan dan sesuai isu kurangnya listrik di Samarinda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s