Cerita jalan-jalan kemarin (part Gunung Kidul)


Mungkin saya bisa saja salah memberikan julukan pada ibu Listiyani Ritawati yang menjadi Bidan di daerah Gunung Kidul, dimana masalah utamanya adalah tersedianya air bersih. Bidan yang memang lulusan akademi Bidan ini sudah sejak lama tinggal di Gunung Kidul setelah mendapatkan suami yang memang berasal dari sini. Niat baiknya untuk mengabdi di desa sebagai bidan patut diacungi jempol dimana orang berbondong-bondong untuk mendapatkan materi(uang), bidan ini malah terkadang harus nombok untuk menyediakan air bersih untuk kebutuhan pasiennya.

Bu Lis sedang menangani anak kecil yang hidungnya tidak sengaja kemasukan kacang kedelai, walaupun akhirnya pasien ini mendapat rujukan kerumah sakit yang mempunyai alat lebih lengkap
Bu Lis sedang menangani anak kecil yang hidungnya tidak sengaja kemasukan kacang kedelai, walaupun akhirnya pasien ini mendapat rujukan kerumah sakit yang mempunyai alat lebih lengkap

Bidan Lis memiliki praktek sama seperti kebanyakan bidan desa lainnya, yaitu tempat praktek bersebelahan dengan tempat tinggalnya. Mungkin karena lebih mudahnya kontrol kepada pasien yang rawat inap menunggu kehamilan. Maklum rumah sakit jaraknya cukup jauh, sehingga Bidan Lis lah yang menjadi tempat terdekat untuk mengatasi masalah persalinan.

Masyarakat sekitar rumah, ataupun yang masih bisa menjangkau rumah Bidan Lis ini kebanyakan menganggap Bidan adalah dokter yang mengerti keluhan segala permasalah kesehatan. Tetapi itulah stereotip yang terbentuk disebuah masyarakat desa, dan itu menjadi hal biasa. Bidan desa seperi Bidan Lis ini sendiri memang sebenarnya tidak boleh menerima pasien-pasien seperti ini. Karena memang melanggar kode etik, tapi sebenarnya ada pergolakan batin sendiri. Sebagai orang yang dianggap mampu kalau menolak untuk membantu sendiri menjadi sebuah problematika sendiri bagi Bidan Lis ataupun bidan desa lainnya.

Bidan Lis menurut saya erat dengan Jet Pump yang menjadi salah satu peralatan vital bagi ketersediaan air bersih dilingkungannya. Jet Pump yang menarik air dari sumber sedalam 80 meter dibawahnya memang menjadi satu-satunya sumur bor didaerah yang terdapat 10 sumur gali yang sudah 3 tahun belakangan ini tidak ada lagi airnya.

Sedikit cerita saja mengapa daerah Bidan Lis ini tergolong sulit air. Berdasarkan obrolan bersama pak RT yang namanya saya lupa, sebelum gempa besar 2006 yang merusak sebagian besar Jogja masih baik-baik saja dengan sumur gali yang dalamnya hanya sekitar 20-30 meter masih ada airnya dan hampir tidak pernah kekurangan seperti saat ini.

Tepatnya pasca gempa Jogja 2006 tersebut, hampir semua sumur-sumur tidak ada airnya. Dan hal yang aneh lagi ada tempat pemandian atau Sendang di desa itu sama sekali tidak dilewati air seperti sebelum gempa. Dan kering kerontang, saluran-saluran air yang dulu basah sekarang sama sekali tidak dilewati air. Katanya  sih setelah gempa sumber air bawah tanahnya bergeser, sehingga tidak melewati desa itu. Entah seperti apa bahasan teknisnya, tapi begitu cerita-cerita yang saya dengan dari pak RT atau juga Bidan Lis sendiri.

Maka dari itu kebutuhan sumurbor sedalam 80 meter menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan di desa tersebut untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Dan satu-satunya sumur bor Bidan Lis di daerah itu yang memang memberikan kepada warga sekitar yang membutuhkan dengan gratis.

Persembahan dari Kine Club Komunikasi UGM yang membantu produksi profile Finalis Skrikandi Award yang diadakan oleh Sari Husada

Ini dia Sendang atau sumber air yang konon katanya setelah gempa jogja 2006 menjadi kering look here!!!, dan ada j

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s