Apa Kabar Hutan Borneoku?


Yah! Kompas tertanggal 25 Januari 2010 yang tergeletak tadi pagi sampai pukul 10.00 baru saya ambil, padahal loper koran secara rutin sudah tiba diteras pukul 6.30. Maklum saya baru bangun dan mengambil koran karena baru bangun jam segitu juga. Nasib liburan bertahan di Jogja seperti inilah, seharusnya saya pulang lebih dulu tapi sudah bosan mending bertahan dulu di Jogja. Dan menikmati suasana santai tiap hari. Harusnya koran itu saya baca lebih cepat untuk mengetahui apa sih yang sebenarnya terjadi di halaman pertama.

Kebiasaan melupakan membaca koran pagi hari mungkin membuatmu kehilangan informasi, berita, apalagi tidak menonton berita televisi. Ah makin menjadilah itu buntu informasi. Tapi memang media jejaring menyuguhkan informasi, ataupun pemancing untuk mengetahui informasi lebih jauh. twitter dengan beberapa link headline news media nasional, ataupun inbox facebook yang menyuguhkan informasi yang lebih lokal di Jogja.  Itulah informasi yang saat ini bisa di dapat darimana saja sumbernya.

Satu hal membuat saya tergerak untuk melihat koran hari itu(senin,25/01) yang menjadi langganan saya kompas. Sebuah yang membuat melihat membaca koran. Ambro salah satu teman saya yang bisa dikatakan kakak tingkat jauh sekali, baru saja menulis status facebooknya.

Damn apa sih kok doi sampe nulis kayak begitu, penasaranku terbayar setelah membaca tulisannya yang masuk halaman pertama kompas. Oh bro! salut bro, tulisanmu masuk halaman pertama! begitu saya mengirimkan pesan singkat ke dia. Semoga nggak jadi anget-anget tai kucing ajalah, biar sekalian menteri kehutanan, pemerintah pusat sampai daerah panas dan respect.

Nggak kebayang betapa kebakaran jenggot para pejabat daerah yang meloloskan masalah ijin tambang, pembukaan lahan untuk tambang atau hal lain yang mengeksploitasi hutan lindung di Kalimantan Timur. Saya tak memungkiri Kalimantan Timur adalah provinsi yang kaya, tapi entah kemana kekayaannya. Masih ada jarak yang sangat tampak disana, infrastruktur yang lambat dibangun atau malah stagnan. Hal itulah yang menjadi miris, sebuah tamparan besar bagi pemerintah memang.

Tak habis pikirnya aku, ketika 3 tahun lalu aku sudah mulai tersadar akan rusaknya hutan borneo yang sudah parah walaupun masih tetap dibangga-banggakan. Dan entah sampai kapan orang yang membanggakan tersebut melihat sendiri separah apakah hutan lindung yang ada. Ataupun hutan lebat yang tak selebat dahulu kala.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/25/03590432/penambangan.memprihatinkan

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/25/03593960/kami.tak.sanggup.menghentikan.kerakusan.ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s