Happy Holiday Yeah


Tepat 5 hari setelah kembali di Borneo tercinta saya akhirnya ingin sekali menceritakan sedikit liburan saya sebelum nanti terpaksa balik ke Jogja lebih awal untuk menyelesaikan beberapa kerjaan dikampus yang memang sudah siap saya sambut saat saya belum menjejakkan kaki di Samarinda. Tepatnya event yang sudah teragendakan sebelum liburan, dan harus diselesaikan sebaik-baiknya.

Mungkin tidak begitu “spesial” ketika saya menikmati liburan dirumah bersama orang tua, tapi yang munkin lebih tepatnya adalah menikmati suasana rumah. Sapaan orang tua, bersenda gurau dengan mereka, suasana hangat yang mungkin tak saya dapatkan di Jogja. Yaitu Keluarga yang mana mungkin hanya tergantikan saat liburan dirumah. Sarapan bersama mungkin adalah salah satu contohnya, dan sholat berjamaah yang lebih sering diwaktu subuh.

Menikmati hari-hari liburan dirumah bukanlah hal yang membosankan, lambat laun saya mengerti esensi pulang kampung yang lebih dalam. Bertemu dengan orang tua, menikmati suasana minimalis rumah, ah apalah namanya sebuah atmosfer penting penyeimbang kehidupan psikologis menurut saya.

Mendapatkan kembali rasa “enjoy” untuk benar-benar merasakan liburan pun kembali ada, tidak hanya kembali berkutat dengan permainan online tetapi merasakan dunia luar dengan angin malam, suara kendaraan, debu. Suasanya yang terbayarkan dengan keluar rumah dan berkendara keliling kota. Tidak cukup besar kota Samarinda, tidak begitu terang benderang juga lampu-lampu penerang jalan, malah ada yang mati.

Kembali mendapaatkan mood untuk melanjutkan menulis memang sulit bagi saya, entah sebuah pembelajaraan besar untuk membangun mood. Bukan mencari, tetapi memang lebih tepatnya membangun sebuah mood. Bagaimana usaha untuk membangun sebuah mood menjadi lebih baik.  Karena memang setiap kali liburan terkadang teringat berasa bosan, tapi mungkin itulah yang ada. Bersyukur masih bisa pulang dan berkumpul dirumah. Bukan bosan sebenarnya yang dirasa, tapi memang hidup saya sendiri membosankan dan saya sadari itu.

Happy Holiday Yeah! ketika quote yang semoga menjadi pertanda baik malam itu “ketika segumpal daging itu bernama.. hati..” yes she said that in facebook status. Tanpa tendensi apapun hanya mencoba menganalisa semiotiknya, yah berpikirlah positif. Kalau memang jodoh nggak kemana. Memang dia yang membuat saya kembali membangun mood menjadi lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s