Hanya sharing tentang rumah


Hanya sekilas tampak

Sudah setahun lebih tepatnya saya tinggal menempati sebuah rumah kecil, tidak begitu mewah tampak dari luar. Yah seperti rumah-rumah biasa, tanpa carport dan sebuah penampilan yang tampak menonjol. Seperti kebanyakan rumah biasa, tapi ada sesuatu yang tak tampak dari luar seperti apa rumah ini.
Suasananya pun tampak biasa-biasa saja, tanpa atribut yang mencolok kecuali bekas-bekas isolasi, ataupun sebuah poster yang sedang menutupi kaca depan rumah ini. Dan terkadang ramai kadang sepi, dengan sepatu atau sandal yang berhambur di teras depan. Hal itu pun tak selamanya karena kadang-kadang itulah yang mungkin membuat rumah ini berwarna. Dan tetap warna polos yang tampak dari luar, sedangkan di dalamnya cukup ceria dan berwarna. Tapi kalau benar-benar dilihat lagi memang warna sebenarnya cuma putih, maklum belum berniat untuk mengganti warna setiap ruangannya, tentunya belum tersedia budget untuk mengganti warna putih yang sudah ada pola-pola alami rumah sebuah rumah.
Yang polos tampak dari luar sehingga dibilang biasa, sedangkan didalam tampak berwarna walaupun ada warna-warna alami tadi itu.Sungguh menarik rupanya melihat kehidupan disebuah rumah, dan lingkugan sekitarnya. Sebuah lingkungan sosial yang ada terdekat dengan kita, dekat dengan rumah kita tentunya. Melihat dari sisi luar atau dalam, atau mencoba meraba seperti apa dan bagaimana dari dua sisi yang berbeda seperti uang koin.

Mencoba menerawang dari dua sisi
Tinggal ditempat yang baru perlu sebuah adaptasi, dalam bahasa IPA penyesuaian dengan lingkungan sekitar. Sama seperti dengan ketika kita memasuki sebuah lingkungan baru, apapun itu. Pendidikan kah? dunia kerja kah? atau malah tempat tinggal. Semuanya perlu proses yang dihitung dengan hari dan sebuah kualitatif tentang kemampuan adaptasi beserta variabel-variabel adaptasinya.
Mengenal sesuatu yang baru kemudian menyesuaikannya itulah sebuah adaptasi. Kehidupan perlu sebuah penyesuaian, katanya dimana bumi dipijak disitu langit dipegangin.😀. Seperti itulah aku harus menyesuaikan bagaimana dan seperti apa dengan tempat tinggal baru ini. Jauh dari suasana komplek, atau kampung ya memang bukan kedua-duanya.Karena memang rumah yang menjadi tempat tinggal ini berdiri diatas tanah berukuran 15 x 8 meter ditengah-tengah pemukiman kos-kosan yang notabene rata-rata kosan anak kampus elite.
Sebuah bangunan mungil berdiri diantara daerah kos-kosan, walaupun ada sebagian rumah yang menjadi tempat tinggal pribadi. Karena terlalu mungilnya tak tampak karena tertutup oleh bangunan kos-kosan berlantai dua dan full bangunan. Sama seperti rumah disebelah, dan disebelahnya lagi pun rata-rata berlantai dua. Sebuah bangunan-bangunan besar dengan penghuni yang beraneka ragam.
Berbeda ketika dulu pertama tinggal dilingkungan kos-kosan yang cukup nyaman bagi saya, terutama nyaman dengan teman-teman dikos. Itulah faktornya, dan begitu nyaman saya dengan suasana lingkungan. Walaupun tergolong kecil kamar itu dulu hanya 2.5 x 3 meter, dengan kamar mandi bersama yang pintunya tampak hampir lepas. Dengan dapur bersama yang bergabung dengan gudang, mungkin satu-satunya tempat pelarian adalah ruang tengah dengan ornamen-ornamen sangat identik dengan kebanyakan rumah lama di Jogja. Diruang tengah itu pun bersama televisi yang memang sudah ada lebih dulu ada.
Ah itu dulu bung, menikmati suasana pejalan kaki pagi, siang, sore ataupun malam. ataupun menikmati kendaraan roda empat yang datang dari arah berlawanan mengantri, maklum hanya muat untuk satu mobil dan satu motor. Dekat dengan beberapa orang dekat kos, sungguh menikmati suasana tahun pertama kemarin.

Sebuah sisi yang baru
Lain tempat lain cerita, seperi itulah tentunya akan hadir setiap sisi kehidupan. Sama dari sebuah kamar kecil berukuran 2,5 x 3 meter menjadi sebuah rumah kecil diantara bangunan-bangunan besar. Ah seperti itulah, tidak begitu terasa suasana yang dulu. Rindu dengan lalu lalang orang jalan kaki, bergegas menuju kampus, ataupun terburu-buru mengejar pedagang lewat. Romantisme suasana kos-kosan anak kampus negeri.
Terlalu tak sadar diri dengan membanding-bandingkan antara suatu wilayah dengan wilayah lain, tapi hal ini hanya sebuah hal yang saya tangkap dimana dulu menempati lingkungan dan saat ini berada dilingkungan yang berbeda jauh. Begitu yang saya rasa, dan mungkin teman-teman kampus saya merasa ada hawa atau apalah yang berbeda menurutnya.
Itu sepenangkap saya lho kalau pun itu salah maaf karena sisi baru dilingkungan yang baru pula cukup menarik buat saya tuliskan. Sayang toh kalau nggakd ditulis ntar menguap kemana-mana, dan hanya sekilas lewat tanpa terekam dengan unik disini atau malah memancing suasana jadi panas.
Saya hidup bersama dua perjaka lain, Yustan dan Ikrar yang tentunya jebolan pesantren semua. Seperti antara Assalam dan Gontor. Suasana tak lagi kering, sedikit hijau dengan penyejuk hati lumayan cowok curhat kan asik men. tapi pada doyan ngebo, dan akhirnya lari curhat via YM atau notes buat dia.
Hal inilah yang setidaknya membuat sedikit berwarna dan juga teman-teman kampus yang kadang singgah. Buat numpang minum ataupun numpang pipis malah, tapi kadang juga numpang tidur rame-rame sambil garap tugas.

Maaf saya cuma cari perhatian.
Awal-awal begitu biasa, rada-rada caper juga saya sama anak-anak kosan depan. Pake maen ketempat isi pulsa lah, sok-sok kenal ama Asih lah. mau kenal ama yang laen lah. so what? just i want know? hellow… what’s wrong… ngobrol girl..
oh yeah… maaf salah saya yang memposisikan sebagai kuli bangunan rumah yang ujuk-ujuk pagi belum panas manjat genteng buat ngeberesin genteng yang bocor. Walaupun hasilnya harus naik lagi karena tetap aja bocor ditempat yang sama.
Atau malah saya dianggap cari perhatian dengan cara nongkrong diteras rumah, ngerokok, ngopi ngobrol. Ya obrolan pria-pria bujang klo nggak
perempuan apa coba? ini normal kawan, kecuali mas aji yang sudah tak single lagi. toh kita ngobrol juga tau suara kok nggak banter-banter banget sudah kita check sound mbak… yakin nggak kedengeran sampe situ ngaku punya kosan. kecuali tawa riang ataupun tawa lepas yang kamu mengiranya ngomongin kalian. di omongin nggak enak, tapi akan lebih enak di omongin cowok cakep, ganteng tajir dan tentunya kalian wahai perempuan juga demen. Ah ini gender bung, tapi saya anggap realita sama jadi perlakuan sama juga sama pria-pria bujang juga deh.
Hmmm… atau gini deh, kalau nongkrong-nongkrong di teras depan dikira caper. ntar besok buat lincak di belakang aja biar agak pewe deh… sapa tau anak-anak bosen meeting di indoor kan bisa outdoor. lumayan asik lah suasana baru gitu deh…
Ah itu saya cuma mengira-ngira deh… tapi saya pengen ngira-ngira lagi aja, karena semuanya nggak mau diajak ngobrol dengan kemungkinan variabel diatas tadi kita perlu asas praduga kudu bersalah(tak bersalah). Karena toh saya sudah menjelaskan secara lembut diawal, tapi lebih ngena nih di akhir-akhir gini. paragraph deduktif apa ya? kesimpulan di akhir.
Sibuk beneran dikira sok sibuk kali ya? anak-anak pada kumpul biar dikira eksis, terus saya ditanggepin sama anak2? cuih… ogah saya alasan. itu sibuk beneran mbak! ada kerjaan kelompok, atau kelompok orang numpang garap dirumah mungil ini. Jadi tampak ramai mungkin biar dikira saya banyak teman yang perhatian, walaupun saya sendiri nggak tau peduli atau nggak. Dan yang dateng Yogi dengan Kodoknya, Yoga dengan boilnya juga, atau apalah anak2 yang kendaraan pemberian orang tuanya. Kali ini mungkin mereka mengira biar teman-teman saya yoi? oh no bukan. karena memang adanya itu. suka-suka yang punya mau kesini naek apa walau saya nggak punya parkiran.
Hmmmm… atau gini deh, apa saya salah klo ngegarap kerjaan dirumah dan karena terlihat rame biar keliatan “gw” eksis? sok sibuk? biar anak-anak depan perhatian dan penasaran.
bullshit lah. saya yakin se yakinnya kalian bukan orang yang care terhadap ribetnya orang lain, kalau di buku laskar pelangi kalian bukan orang bitong yang selalu mau tahu kawannya atau setidaknya orang di dekatnya sedang apa. tapi mungkin malah sok tau, atau nggak mau tau lebih bagus.
Ah semua itu mungkin karena culture yang beda kali, dengan istilah saya menyebutnya kampus elite yang sebenarnya kampus swasta, dan kampus negeri ya sudah jelas. dan kos-kosan pun pengaruh gimana orang-orangnya, lingkungannya dan suasananya pun.
Saya disini sampai selesai dan sampai kerja, akan menghabiskan waktu tahunan. Dan kamu selesaikan saja S2 kamu dengan tipikal orang Samarinda yang nggak terima kalau dikasih kritik atau disinggung dan sama sekali itu nggak ngerugikan kamu. Paling-paling sakit hati, emangnya saya nge tag terus ngasih komen gitu rugi buat kamu apa? nggak toh? ini hanya kepuasan ego saya untuk nunjukin hello! gw nih ada girl… dan anda membalas so what?
hmmm atau mungkin kaca depan yang ada stiker-stiker aneh dan kecil? atau mungkin kadang ditutup poster? yeah saya aneh karena saya pengen beda sama kalian semua yang di depan…
no no big no kali ini untuk nanggepin kalian. Kesenengan kalau ditanggepin, kalau dari awal saya nangkep kalian suka hidup cuek-cuekan begitu disinggung nggak terima so what?
oke sampai kalian lulus semua jalani saja hidup dikosan depan atau pindah. saya tetap santai dengan kegiatan saya yang sudah semakin longgar hanya memperbaiki kuliah saja sambil nyambi motret.
*sebuah tulisan setelah terjadi keributan masalah wifi. sya nggak cari ribut, cuma pengen show, hello gw ada men. lw gak pernah keliatan.

12 thoughts on “Hanya sharing tentang rumah

  1. agamfat said: Rumah baru, lingkungan baru. Total aku pernah satu tahun lebih hidup tanpa keluarga karena kerja jauh dari Jakarta. berat, tapi ya ngupoyo upo

    iyo pak… TFS pak :((

  2. luqmanhakim said: Trus kalo ada preman di lingkungan itu deketin juga, jangan ampe itu rumah jadi sasaran kengocolannya.

    sudah dicoba untuk terbuka, fine2 saja sama bapak-bapak atau tetangga yg lain.dan sudah kok mas laporan ke pak RT yg ngeribetin mau ngurus Kipem. yg belum nemu ya preman disini, *jgn2 malah ak dewe premane. hehehe

  3. Jangan lupa lapor RT/RW, trus datengin rumah-rumah tetangga buwat kenalan. Adain syukuran juga kalo perlu buat kenalan sama warga. Trus kalo ada preman di lingkungan itu deketin juga, jangan ampe itu rumah jadi sasaran kengocolannya.Tertanda, Mantan RT, mantan RW juga mantan preman setempat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s