Sudah saatnya berbuat yang terbaik untuk almamater


Ah aku sudah merasa hampir tua dengan status mahasiswa tahun ketiga, tepatnya menjelang KKN yang sedang diproses fundingnya. Dan semoga saja sukses berangkat sukses juga laporannya nanti. Ketika saya merasa semakin tua,tapi saya merasa sama sekali belum melakukan apa-apa, tanpa maksud egoisme saya untuk melakukan hal itu karena lain hal.

Ditahun ketiga ini saya masih merasa sama sekali belum memberikan sesuatu yang terbaik untuk jurusan, dan bukan merendah. Tetapi saya sepertinya masih mengabdi sekitaran itu saja, membantu pameran selasar kantin, membantu diklat kine, dan belakangan ini lebih kepada dokumentasi acara saja.

Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, sebuah peribahasa yang sampai saat ini dipegang teguh. Oh ya, istilah peribahasa itu saya pinjam dulu deh buat kehidupan kampus yang sepertinya kompleks. secara umum bumi ini adalah kampus, atau secara umum lagi fakultas, atau secara umum lagi program studi. Mungkin bukan masalah bumi itu secara umum, tetapi kategori mengeneralisirnya.

Kalau aku mengatakan bumi perkuliahanku adalah UGM, maka aku akan berkutat di BEM KM yang mengkritik kampus memberikan masukan, walaupun tidak di dengarkan oleh yang namanya rektorat yang penting aku sudah cukup eksis dan punya nama yang mewakili UGM walaupun tidak semua orang kenal aku andaikata aku menjadi seorang Presiden Mahsiswanya UGM.

Tingkat Universitas terlalu luas ah, saya masuk ke kampus ini saja. Sospol, dengan beraneka ragam pemikiran yang menarik dari teman-teman. Ketika dikampus ini tanpa ada sebuah lembaga seperti BEM, hanya Forkom. Ah hanya itu, toh akhirnya akan kembali ke Badan-badan yang menaungi teman-teman entah HMJ ataupun BSO.

Ditingkat yang lebih kecil hal untuk semakin dikenal pun berbanding searah, karena jumlah tidak begitu banyak. Ruang lingkup pun semakin kecil, dan mudah diketahui pergerakan atau kegiatannya. Kalau berada dilingkugan internal kecil setidaknya kita memiliki kesadaran dengan apa yang sudah kita perbuat, bukan masalah kita bayar BOP kuliah yang rajin, tugas on time, KKN lancar, skripsi dan lulus cepet dengan selendang khusus dan duduknya pun beda(mungkin feodal). Tetapi memaknai kuliah dalam hubungan komunitas, ataupun kekeluargaan.

Kalau ngobrolin tentang makna keluarga disebuah jurusan, saya anggap bullshit aja deh. Capek bahasnya ada yang nggak suka, sama-sama tidak ada titik temu untuk sebuah keluarga yang harmonis dalam arti sesungguhnya. Dan arti yang ada sekarang biasa saja, walaupun tidak layak dikatakan harmonis menurut saya.

Karena mau ditarik untuk melakukan sesuatu di dalam sepertinya susah banget, sudah kelewat apatis kedalam. Entah merasa sok sibuk atau apalah namanya, atau sudah tak mau bersentuhan lagi dengan yang namanya kegiatan dilingkup kecil. Mungkin saya juga sudah tampak apatis juga dengan apa yang ada.

Keapatisan saya sendiri ngerasain kenapa setiap kegiatan internal itu sepi atau susah, mungkin katanya sharing power nggak merata dan malah jadi ajang untuk eksistensi orang lain, tapi kita berada disebuah organisasi bung. Tapi kalau maunya orang-orang yang pengalaman atau sudah mengerti ya nanti memang bakalan hanya orang-orang itu lagi yang bakalan turun tangan.

Letak sharing powernya adalah berbagi dari yang mengerti dan pengalaman kepada yang belum dikasih ribet-ribet sama sekali. Dan jangan menyalahkan kalau memang kurang memuaskan, karena inilah asas yang adil. Tetapi kalau kita mau ngobrolin tetang kegiatan lain. Ah itu makin luas bung.

Bukan hal yang aneh ketika saya hanya mendengar obrolan santai teman-teman tanpa memberikan feedback yang mungkin ingin terlontar dari mulut saya. Tapi itu tidak mungkin karena saya mungkin bukan orang yang dipandang untuk mengutarakan sesuatu secara lisan. Tetapi saya coba menyampaikan secara tertulis, lumayan lho olahraga jari kalau ngejer garap paper tapi waktu mepet.

Saya menyadari kritik dari tulisan yang mungkin ditanggapi dingin dengan target yang dituju setidaknya kumpulan tulisan kritik itu dimaknai bukan hanya masalah tempat nongkrong saja, tetapi lebih kepada ada sesuatu yang berubah. Dan sudah dari dulu menyatakan kalau kami memang berbeda dan akan merubah tradisi yang ada. Begitu sepenangkap saya dari omongan seseorang.

Nah sebenarnya kalau ditarik lagi sama-sama pihak yang ribut tadi itu punya point-point tertentu dalam arti berbuat baik untuk almamater. Entah dibagian apa namanya, karena dalam hal ini lupa dijelaskan di awal bahwa lingkup almamater disini adalah jurusan Ilmu Komunikasi.

Kalian boleh bangga ribet-ribet urusan event diluar, dengan bendera luar dan bukan fisipol toh itu urusan kalian. Sangat beruntung kalau kalian memang berada dalam posisi inti sejak awal bukan seseorang yang comotan ataupun posisinya hanya sebagai volunteer. Dan itu kalian bangga-banggakan boleh, tapi ingatlah kita semua harus berproses jikalau terlalu senang dengan posisi seperti itu maka itu adalah sebuah posisi stuck, nggak berpindah tempat atau nggak berkembang.

kalau kamu mau berkembang bolehlah memilih jalur sebagai orang pekerja, tetapi ada waktunya kamu berada diposisi sebagai perancang. Berada diposisi punya nilai tawar, atau katanya bargaining posisi kali ya. Dan seperti itulah, mungkin karena sudah sejak awal kalian dicekoki oleh pekerjaan yang sudah ada, apalagi dengan fee. Mulailah kalian berpikir malas untuk berbuat baik untuk almamater.

Apa susahnya mencoba mendekatkan diri ke almamater kemudian mencoba mencari tahu tentang suatu perkembangan, intinya kalian itu sudah terlalu segan untuk bergadang monting yang rapi dan siap-siap dipisuhi dan disuruh ganti baru, bergadang sampai pagi buat masang pigura-pigura. Mengurus editing film ataupun berkutat dengan produksi film buat diklat. Atau mungkin sedang asik les ini itu ngakunya, tapi ya jebule bolosan juga.

Ah kalian sudah terlalu bayar mahal kuliah wajarlah kalau saya hanya mengatakan kalau generasi ini(bukan hanya kalian) adalah generasi mahasiswa yang hanya mengejar kelulusan walaupun tidak sepenuhnya harus lulus cumlaude. Masih ada banyak hal yang bisa dikerjakan selain alasan untuk sesuatu untuk almamater jurusan kita.

Ilmu Komunikasi yang disitu kita ditempa, kuliah ini itu rebet-rebet, dan sempatkanlah untuk menengok, ataupun sedikit membantu apa yang ada didalamnya. Atau hanya sekedar ngobrol santai di bunderan yang sudah semakin nggak ada orang. Dan saya akan bilang sudah nggak perlu ada PPC Day ataupun Kine Day atau malah deAd Day. Karena ya itu tadi kalian sudah tidak butuh itu, kalian hanya butuh selembar ijazah S1 dengan harga sekian puluh juta yang ditempuh selama 3 tahun 6 bulan.

Persiapkan diri kalian untuk commfest2010, sebuah event yang katanya(bukan kata dan bukan ide saya) besar dan akan mengalahkan Pekom punya UI kemarin setidaknya sama.
Akan ada ide-ide besar dan menarik. Saya tunggu ide-ide sebentar lagi.

5 thoughts on “Sudah saatnya berbuat yang terbaik untuk almamater

  1. danangwawan said: maaf mas awe dan nadia. sudah kita tutup saja lembaran bukan kepel news itu, dan menutup lembaran commex. toh saya yang penting udah ngerasain, nggak perlu peduli mau jadi atau nggak yang lain.

    opo tho. ra mudeng haha

  2. maaf mas awe dan nadia. sudah kita tutup saja lembaran bukan kepel news itu, dan menutup lembaran commex. toh saya yang penting udah ngerasain, nggak perlu peduli mau jadi atau nggak yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s