Melepas lelah menikmati Bandung


Wah akhirnya mampu untuk meloloskan diri dari rutinitas dengan cara ngabur ke Bandung dengan kedok datang ke festival film Unpar. Memang untuk berpergian kalau sendiri saya hampir belum pernah, mungkin sama dengan orang-orang lain. Kebanyakan yang saya tahu untuk berpergian biasanya mengajak teman, seperti kemarin hari akhirnya jadi juga pergi ke Bandung untuk ke tiga kalinya.

Kalau di ingat-ingat lagi pergi ke Bandung baru tiga kali, maklum memang saya sangat menikmati perjalanan tetapi belum benar-benar menikmati disetiap perjalanan. Makanya saya ingat sekali sudah berapa kali ke Bandung, dan dengan urusan apa saya juga masih ingat. Coba aja klo udah keseringan pasti malah lupa kapan terakhir kali ke Bandung.

Pergi ke Bandung yang pertama kali jelas karena saya pengen menyambangi teman SMA saya sekitar 2 tahun lalu. waktu itu masih semester 2, liburan natal dan hari raya idul adha saya habiskan di Bandung. Bersama keluarga teman saya yang sudah sangat dekat sekali, ya maklum kalau waktu SMA dulu dari numpang tidur, numpang makan sampe numpang boker atau cuci motor juga pernah.

Ya itulah mengapa saya pergi menghabiskan libur 2 tahun lalu di Bandung, dan mungkin faktor ada beberapa teman selain teman SMA saya yang bernama Indra tadi. Ada Achi yang di Unisba, mbak Ira di UPI, atau beberapa teman SMA kelas hedon yang nggak saya hapal namanya. Walaupun dia pasti mengenal saya dengan baik. hehehe.. maklum dulu SMA agak beken.

Setelah lama nggak ke Bandung lagi, maklum klo memang nggak ada urusan ya nggak berangkat atau nggak ada teman liburan nggak bakalan berangkat. Sekitar akhir 2009 mendapat jatah di daerah Bandung Selatan untuk syuting sebuah CSR dari Sari Husada kebeulan saya fotografer tim yang berangkat. Kalau nggak ada keperluan memang sulit untuk pergi sendirian.

Kebutuhan untuk di Bandung kedua kalinya itu kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan mas tunggal jadi kameramen, dan mas tunggul yang jadi sutradaranya. setidaknya menikmati layanan hotel bintang 3 di daerah jalan riau kalau tidak salah. Dengan proyek dari perusahaan memang harus benar-benar kerja maksimal sesuai dengan fee yang ditawarkan.

Memang setiap berpergian ke suatu kota memang nggak bakalan lama, rata-rata saja sekitar 3 atau 5 hari setelah itu pulang. Sesuai kebutuhan juga tepatnya, sewaktu di Bandung akhir 2009 kemarin memang cukup sebentar. Malamnya di hotel disambi mencatat timecode biar editingnya nggak kesusahan. Sebuah rencana ketika saya berada disuatu kota adalah menemui salah satu teman saya yang berada di kota tersebut. Siapa saja yang bisa dan sempat sih, waktu itu yang bisa ketemu Achi kebetulan jalannya searah dengan jalur biasa ngampus dan pulang.

Pertemuan dengan Achi pun nggak berlangsung lama, mungkin cuma sekitar 15 menit aja dan itu di lobby hotel. Ya kebetulan dia habis pulang kuliah dan saya juga baru tiba dari Jakarta(perjalanan pesawat dari Jogja). Ya istirahat juga toh nggak bisa lama-lama, udah ada agenda yang lain sih.

Dan untuk ketiga kalinya saya ke Bandung barusan saja, kebetulan ada acara Festival Film Indie dalam rangkaian Youthphoria Fisip Unpar.. ya langsung aja berniat untuk hadir dan nonton selama 3 hari pemutaran, tapi berhubung waktu yang memang mepet jadinya nggak bisa nonton di hari pertama dan akhir. cuma ditengah-tengah aja, yang penting udah sampe ke Unpar buat menghadiri film kami yang di screening disana.

Sebenarnya waktu saya memutuskan untuk berangkat saya terpikir lagi, kenapa saya harus datang kesana kalau cuma nonton film kita sendiri. Lebih tepatnya film Yogi, Awe, Irham, April yang mereka sutradara toh kita sendiri udah pernah liat. Mungkin ada pikiran dari teman yang tidak berangkat, mikirnya adalah yang kami nonton ke Unpar ini ngeliat antusiasnya atau gimanannya.

Semua tebakan anda salah.. kami berlibur di Bandung dengan berbekal Ponsel Blackberry Cemi dengan peta GPSnya. Sebenarnya saya sudah menyiapkan peta dari Jogja, eh rupanya ini peta malah cuma keterangannya aja. Petanya terlepas dari bukunya. Nasib oh nasib, kami pun putar-putar tak tentu arah di Bandung dan tiba-tiba melihat kalau ada Dinas Pariwisata Kota Bandung. Dengan sigap saya menyuruh mas Cemi buat putar arah mobil ke Kantor dengan alasan minta peta, dan rupanya saya dan Gilang Fathus pun turun ketika sampai. Yap! Peta Bandung gratisan di dapat dari Kantor DinPar Bandung.

Setelah dapat tetap saja yang kepake adalah peta GPS punya cemi, cihuy abis bisa tracking bo. nggak takut bingung kalau masuk jalan sempit pun masih kebaca. hehehe… yah begitulah menikmati bandung dengan teknologi tepat guna.
Dengan membawa cerita sebelumnya kali ini saya memaksakan diri untuk menemui teman saya yang sama yaitu Indra, kebetulan dia jadi mahasiswa angkatan 2008 di Geofisika di ITB. Agak saya paksa teman-teman buat pergi ke ITB cari makan, alasan aja padahal pengen cuci mata dikampus yang banyak cowoknya.

Yah udah janjian sebelumnya sih, biar tau kalau si Indra lagi nggak si
buk-sibuk amat kerjaannya cuma nongkrong di sekre HMJ. Alhamdulillah akhirnya anak satu ini bisa masuk organisasi juga, puas saya rasanya maksa-maksa dari SMP tapi jebule kuliah baru organisasi. yah lumayan buat pengalaman dia lah, walaupun SMP ataupun SMA bisa dibilang biasa-biasa aja.

Puter-puter akhirnya kita mendarat di Gelap Nyawa buat makan, eits ini nama jalan yang ada Kantinnya. lokasinya masih dekat kampus ITB walaupun tak bisa disebut kantin kampus ITB sendiri. Karena kantin ITB sendiri di dalam kampusnya, nggak diluar kayak kantin gelap nyawa ini. Indra saya suruh nemuin di kantin ini, maklum kalau dari dalam kampus keluar sekitar 5 menitan dengan jalan agak cepat(buru-buru).

Yah biasa ketemu sambil makan, ngobrol sekadar melepas rindu ama teman(rindu tapi bukan homo men!) saya memisahkan dari rombongan teman saya. Ya biar saja teman saya menikmati sejuknya ITB, dan saya di guide oleh Indra. Kelar makan menyempatkan merokok sebentar, ya liat-liat juga sih mau ngerokok ada yang ngerokok di dekat saya nggak. klo kagak ya ntar ngerasa aneh sendiri. Kelar semua ritual makan siang, saya pun diantarkan ke Masjid Salman buat dzuhur bersama, sekalian ngosongin perut juga sih.
*Setidaknya dari setiap perjalanan disetiap kota, ada maksud untuk tetap menjalin silahturahmi dengan teman-teman lamaku. Kata pepatah lama, tepatnya jaman SD “kawan baru, kawan lama jangan dilupa”.

8 thoughts on “Melepas lelah menikmati Bandung

  1. junedgde said: Hohoho…kalo gitu bukan teman namanya, kolega…sekedar ada sejenak untuk melengkapi hidup kita

    nah klo istilahnya saya nggak mudeng ned, tetapi setidaknya saya menyempatkan untuk mengujunginnya lah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s