Kritik Jalan di Samarinda


11 mei 2010

Seperti apa sih idealnya sebuah kota? Tata kota yang rapi, jalur hijau, kendaraan yang teratur, tanam kota. Mungkin hanya sebatas itu yang saya pahami. Tetapi dari keterbatasan tentang pemaham saya dari sebuah kota, saya ingin berbicara tentang kota saya yang sangat kecil menurut saya.
Masih ingat saya dulu pertama datang ke kota ini, Samarinda kota Tepian. Ayah memberikan pandangan waktu dulu, “Samarinda itu kota besar, ntar rumah kita dekat jalan raya” saya membayangkan dekatnya bakalan membuat penat, yaitu rumah nanti tepat dipinggir jalan besar. Walaupun bersyukur hal itu tidak terjadi, karena kami berada di komplek yang cukup bersahaja warganya. Butuh 10 menit jalan kaki untuk menuju jalan besar, tenang dan nyaman untuk istirahat tepatnya.
Yah itu dulu, masih sepi komplek saya. Masih ada beberapa tanah-tanah kosong, ataupun yang baru dipasang pondasi saat saya baru saja tiba di Samarinda. Tetapi perkembangan komplek cukup cepat sekali, tampak semakin padat. Ketika rumah-rumah banyak dibangun dan ditempati jalan komplek pun dipermulus. Hal itu hanya dalam 5 tahun perkembangan komplek saya cepat sekali, tahun 1996 saya di Samarinda dan 2001 saya merasakan perkembangan dahsyat itu secara kecil di Komplek saya.

Melihat perkembangan Kota Samarinda.
Setelah melihat dari dalam komplek saya sendiri, ingin melihat perkembangan seperti apa sih kota ini dari sudut pandang yang terbatas. Dalam hal ini saya sendiri melihat Samarinda dari waktu ke waktu. Lebih kepada tata kota Samarinda, walaupun saya tidak berada dalam ranah ilmu tata kota(planologi)

Kota Samarinda memiliki jalan penghubung utama yang berada di tepi sungai Mahakam, kenapa saya menyebutnya jalan penghubung atau lebih tepatnya jalan utama. Karena disini jalur yang sangat ramai, dan merupakan jalur peti kemas dari dermaga ke tempat penyimpanan atau gudangnya. Jalur ini melewati pinggir sungai Mahakam, komplek Islamic Centre, Kantor Gubernur Kaltim, Kantor Pos, Citra Niaga (pusat perniagaan), dermaga pasar pagi, kemudian Masjid Raya Samarinda, semuanya adalah point of interest dari jalur utama di Samarinda.
Jalan-jalan itu dulunya tak seramai, dan sepadat sekarang. Lebih tepatnya kepadatan pada jam-jam tertentu itu saya rasakan sekitar tahun 2005. Mungkin karena ada beberapa faktor yang semakin membuat ramainya jalan yang saya sebut sebagai jalan utama Samarinda itu.

Faktor perkembangan tempat tinggal.
Susah untuk memberikan patokan sesuai arah mata angin di Samarinda, karena kota ini menurut saya memang tidak dibangun berdasarkan arah mata angin. Yang jelas jalan ini akan dilewati oleh orang-orang yang bermukim di daerah Loa Bakung, Samarinda Seberang, ataupun daerah sekitar itu. Nah sedangkan memang pusat kegiatan itu berada di kota, terdapat pasar segiri, pasar pagi, Islamic Centre, Samarinda Central Plaza, Masjid Raya Samarinda. Jumlah penduduk yang akan menuju daerah tersebut sangat tidak sebanding, dalam hal ini sebagian besar penduduk berada di wilayah yang saya sebutkan tadi dengan tujuan tersebut. Hal ini akan mengakibatkan penuhnya jalan utama tersebut, dibeberapa titik dan pada jam-jam tertentu.

Faktor Fisik
Mari lebih fokus kepada pembangunan jalan utama itu, dari pertama kali saya berada di Samarinda sampai kini belum ada perubahan pada jalan itu. Yang ada jalan utama itu hanya diperbaiki, tambal sulam, dari tahun ke tahun. Pelebaran jalan pun sama sekali tidak ada. Padahal katanya propinsi kaya tapi untuk melebarkan jalan baru sekarang dipikir kenapa nggak dari dulu. Ya setidaknya orang-orang dulu telah memperkirakan dan segera melakukan perubahan yang berkelanjutan. Sebuah jalan utama yang tidak sesegera mungkin menyesuaikan dengan keadaan jaman, sehingga volume kendaraan yang melewati dengan kemampuan jalan itu menampung sangat tidak sesuai. Macet adalah akibatnya yang terjadi di jalan utama di Samarinda itu.

Saya tidak melihat adanya cetak biru kota Samarinda 5 tahun lalu, walaupun baru-baru ini saya mendengar kabar tentang cetak biru kota Samarinda walaupun belum tahu seperti apa itu. Masih kesulitan untuk di cari di google dalam hal itu. Atau saya saja yang kurang giat mencari info, ah tetapi menurut saya kota Samarinda memang tidak punya cetak biru yang jelas mau dibawa kemana kota ini.
Alternatifnya terdekatnya adalah segera berdiskusi dengan masyarakat, dan tampung pendapatnya. Buat jalan yang memutar, ataupun jalan lain yang lebih solutif untuk mengatasi kemacetan. Atau mungkin sebuah terobosan jangka panjang yaitu transportasi massal yang bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s