Catatan Perjalanan Liputan Wafatnya Gesang


Kita pindahan kesini yaaa fotodeka.com
Sebuah catatan perjalanan kemarin sewaktu menemani kawan saya Ardi Wilda – kontributor Rolling Stone, untuk meliput proses pelepasan jenazah Gesang yang meninggal pada 20 mei 2010 di Pendopo Gede Pemerinta kota Surakarta untuk disemayamkan.

Sebenarnya sebelum saya datang di acara pelepasan jenazah Almarhum Gesang ini, saya dan Ardi Wilda yang biasa dipanggil Awe ini sebelumnya datang untuk cross check mengenai kabar meninggalnya pak gesang tertanggal 18 Mei, tepat 2 hari sebelum benar-benar pak Gesang menghembuskan nafas terakhirnya di RS PKU Muhammadiyah Surakarta. Terkait mengenai

berita ditanggal 18 Mei, hari Selasa itu beredar dari newsticker dari sebuah stasiun televisi swasta yang mengaku terdepan menghabarkan. Maklum pada selasa malam itu memang saya sedang tidak ada rencana untuk pergi, tetapi setelah memantau perkembangan dari twitter, info berita ada yang mengatakan pak Sujud wafat di tanggal 18, walaupun akhirnya berita kabar burung sesuai lambang twitter sendiri yaitu burung ya benar aja kalau kabar dari stasiun televisi yang beredar di twitter pun terbantahkan hanya dalam kurang dari sepuluh menit setelah newsticker itu tayang disusul pemberitaan berupa video dari stasiun televisi yang tadi dikabar burung.

Kedatangan ditanggal 18 Mei untuk membuktikan sekaligus mengunjungi Gesang tepat 2 hari sebelum dipanggil sang pencipta. Sungguh itu merupakan pertemuan pertama dan terakhir kali dengan beliau, walaupun nggak kenalan tapi yang penting saya sudah bisa mengujungi se

orang maestro. Tidak terpikir oleh saya hal itu sebenarnya, karena yang saya pikirkan adalah menemani Awe untuk liputan. Dan kami pun hari selasa itu merelakan untuk menginap di mushola PKU Muhammadiyah Solo. Maklum kami tiba di Rumah Sakit sekitar pukul 23.00, dan langsung saja kami mengambil tempat untuk beristirahat dan kami berencana wawancara keesokan harinya.

Rabu, 19 mei saya dan awe pun menikmati suasana tidur di mushola RS PKU Muhammadiyah Solo. Tidak hanya berdua, ada sekitar 3 orang lain selain kami yang menginap di dalam mushola. Mereka mengaku keluarga pasien, dan menginap di mushola. lucu juga rupanya, tetapi ada juga kalau tidak salah gelandangan. Maklum dari penampilan sudah ketahuan kalau bisa jadi tunawisma, mereka pun ikut tidur walaupun hanya diteras mushola. Yah kami benar-benar mengisi ulang tenaga kami, setelah itu pun subuhnya langsung sholat.

Sarapan pagi pun kami tidak jauh-jauh, tidak lama setelah sholat subuh kami pergi keluar berharap ada yang penjual yang sudah datang dipagi buta. Yah udara jug

a masih dingin, warung kopi terdekat pun masih tertata rapi tanpa penjualnya. Selayang pandang kami pun menemukan warung dadakan yang tiap pagi buka, tapi penjualnya pun baru saja datang dan beres-beres untuk berjualan. Yah sudahlah yang penting bisa sarapan pagi dulu, walaupun sedikit menunggu karena ada pelanggan yang lebih dulu. Wah warung dadakan ini sepertinya memang berjualan sebelum jam kerja bank, atau toko ini beroperasi atau jam kerja lah. Jadi warung ini tutup kalau tempat tersebut sudah mau buka.

Setelah sarapan itu kami pun kembali ke mushola untuk melanjutkan tidur lagi. Maklum masih kelewat pagi banget kalau mau mbesuk, walaupun akhirnya tahu kalau keluarga dari Pak Gesang pun ada yang menunggu di dekat koridor ICU dimana Pak Gesang d

i rawat. Pagi itu mendapat kabar ada press confrence jam 9 pagi, dari pihak RS PKU yang sepertinya membuat tim yang sepertinya mendadak untuk press confrence. Kami sudah mendapat informasi dari salah satu keluarga pak Gesang, kalau tidak salah namanya mas Yani beliaulah yang menjadi salah satu sumber informasi dari wartawan yang meliput. Sedikit kami melakukan wawancara, kami pun menuju salah satu ruangan yang ditujukan untuk Press confrence itu, teman-teman media sudah menunggu. Dengan hembusan pendingin ruangan yang membuat saya mengigil ini sepertinya tidak tampak dari kru “terdepan menghabarkan” mungkin gara-gara info yang diralat kemarin, walaupun sempat bikin heboh beberapa menit sebelum di ralat.

Yah suasana ruangan dingin itu sepertinya tampak hangat, bagi para wartawan ataupun seprofesi. Hal ini wajar, walaupun ada gurauan tentang salah satu teman mereka di media itu tidak datang di press confrence. Bla. bla bla

… press confrence dari pihak rumah sakit, beserta perwakilan keluarga pun selesai menyampaikan pernyataan. Semua berharap agar pak Gesang bisa segera sembuh, walaupun akhirnya beliau dpanggil sang Pencipta dua hari kemudian.

Singkat cerita kami menghabiskan tanggal 19 mei itu dengan wawancara mas Yani, kemudian dilanjut wawancara Waldjinah yang juga sedang dirawat di RS Kasih Ibu kalau tidak salah. Kami pun datang mengujungi maestro satu ini, wawancara langsung dikamarnya yang ramai dengan keluarga beliau. Kebetulan sedang berkumpul dan juga ada dari Eyang Guno yang menghibur kami diruangan rawat Waldjinah saat itu. Maklum Eyang Guno juga berencana menjenguk Gesang, Eyang Guno se

ndiri rupanya salah satu pelawak, pada masanya sekitar 30 tahun lalu. Suasanya hangat dengan banyolan dari Eyang Guno yang menghibur Waldjinah juga hari itu. Setelah Eyang Guno selesai berkunjung, kami pun baru mewawancarai Waldjinah singkat. Tidak begitu lama, karena sebelumnya sudah ada obrolan dari Eyang Guno juga. Yah hari itu kami menemui dua maestro yang mampu membuat nama Indonesia dikenal dengan kesenian, dan kami pun langsung bergegas pulang ke Jogja untuk segera beristirahat dan Awe pun langsung menulis berita untuk segera disampaikan ke kantornya.

19 Sore beristirhat di base camp, disambi Awe menulis berita saya pun tertidur pulas. Sambil melupakan tugas-tugas kuliah, yah saya main-main sekali dengan hal ini. semua berjalan seperti biasa, melanjutkan kegiatan sesuai jadwal yang diundur karena pergi ke Solo kemarin. Yah tetapi di tanggal 20 malam kami mendapatkan berita duka atas meninggalnya Pak Gesang. Hal itu membuat saya shock, karena dua hari sebelumnya kami kesana dan kondisi sedang dalam proses penyembuhan begitulah kira-kira. Tapi mungkin sudah umur juga kali ya, Tuhan punya kehendak lain. Berita wafatnya pak Gesang membuat saya kembali berniat untuk pergi ke Solo lagi, dan tentunya kembali bersama Awe.  Tetapi karena masih ada kumpul ngerjain tugas saya pun nggak langsung berangkat ketika mendapat kabar.

20 malam dini hari setelah semua tanggungan selesai di Jogja, saya dan Awe pun kembali pergi ke Solo. Entah pukul berapa berangkat dari Jogja, tetapi yang saya ingat kami mengalami bocor ban di simpang tiga Klaten disitu ada sebuah rumah sakit s

ekitar pukul 23.00 atau 24.00 lah. Karena semua tambal ban sudah tutup, kami pun terpaksa harus mem

arkirkan sepeda motor awe di rumah sakit itu. Maklum saran dari warga sekitar, yang kami kurang yakini karena ada orang yang memberi tahu tambal ban tetapi lokasinya terhitung cukup jauh dan melewati jalan yang gelap. Terlalu riskan, itu alasan awe dan saya mengiyakan. Kami pun memarkirkan motor dirumah sakit, kemudian tidur di Indomaret yang terletak di seberangnya. Sebelu

mnya kami minta ijin untuk istirahat, di teras Indomaret setelah membeli beberapa makanan untuk mengganjal perut yang sedang kosong.

Setelah gondok malam hari gara-gara ban bocor tepat ditengah-tengah pertigaan dengan jalur bus, ataupun kendaraan besar lintas propinsi. Kami pun melanjutkan mencari tukang tambal ban dipagi harinya, yah dipagi hari itu kami mengambil motor awe dan kemudian mencari tukang tambal ban sekitar pukul 7 pagi berharap memang sudah ada yang buka. Cuma ada satu yang sudah buka, walaupun orang yang nambal belum 100% mungkin karena baru bangun dan motor awe jadi pelanggan pertama hari itu mungkin. Yah untungnya saja mas tambal bannya sangat sigap sekali, jadi tak menunggu lama. Rupanya kabar meninggalnya pak Gesang memang memberi energi tambahan, walaupun kantong awe jebol dpagi hari diperjala

nan lanjutan mau ke solo habis tambal ban. Yah 60rebu melayang setelah melewati lampu merah, damn abis dah. mungkin perlu di cek keadaan rem depan dan belakang biar bisa cihuy klo ngerem lagi, itu gara-garanya sepele toh ngelewati lampu merah dengan santai dan nggak ngebut karena takut dikejar bapak-bapak yang nilep duit 60ribu dipagi yang cerah itu.

Yah tiba pun di Solo saya dan Awe pun mampir dirumah pak leknya si Awe, seperti setahun yang lalu waktu hunting 1 syuro di kraton Surakarta. Setibanya di Solo memang masih ada cukup waktu untuk mampir, sambil istirahat sejenak lah. Rehat sekitar 30 menit dirumah pak leknya awe, kami pun melanjutkan jalan menuju balai kota surakarta, tetapi sebelumnya saya mendapat traktiran soto sebagai sarapan pagi pengganjal sebelum meliput di balai kota. Entah lokasinya saya lupa, yang jelas mengarah ke kota. Mungkin lebih nikmat lagi soto, sate usus, gorengan dan jeruk esnya ra sah mbayar karena memang sudah tanggungan Awe yang kebacut janji menanggung akomodasi hari itu. Alhamdulillah, nikmat tuhan diberikan lewat hambanya bernama Ardi wilda.

Seharian di Pendapi Gede Surakarta yang ramai, karena pada melihat pak Gesang untuk terakhir kalinya sebelum dikebumikan, mushola Pendapi yang biasanya penuh. Mungkin Jumat itu makin membludak karena banyaknya masyarakat yang hadir dalam penghormatan terakhir. Ditengah-tengah riuhnya para pengunjung pendapi ada beberapa yang menarik perhatian, awalnya saya

merasa aneh kok rasanya pernah liat. Bondan dengan beberapa anak rezpector Jogja dan solo yang hadir, datang begitu cepat langsung mengambil air wudhu. Saya pun ikutan ngintil dengan maksud meyakinkan diri saya apakah benar ini Bondan. Setelah Bondan sholat jenazah, tepat disebelah saya. dan saya pun di potret orang bukan wartawan tentunya. Asik semoga in frame dengan bondan saat sholat. hahaha… tololnya saya, selesai sholat barulah saya memastikan kalau itu bondan. tanya sama anak rezpector gini, “mas bondannya sampe kapan e mas?”, dijawab gini “ya baru aja tadi mendarat di adi sumarmo (solo)” Alhamdulillah benerlah saya.

Disana saya meliat begitu ramainya teman-teman media ataupun sekadar hobi yang datang untuk mendokumentasikan. Yah begitulah hecticnya, walaupun tidak punya media tapi semangatnya kayak dikejar deadline foto bagus dari kantor. hahaha menarik lah pokoknya. Usah Jumatan, kami pun memutuskan untuk pulang tetapi singgah lagi ketempat pak leknya awe. Tidur sebentar sekitar sejam saya tepar tanpa sadar karena dibangunkan. Untungnya saya gantian yang bawa motor, jadi sudah istirahat dan segar kami pun kembali ke Jogja. Dengan membawa oleh-oleh foto, kemudian untuk awe dapat wawancara bondan, waljdinah, dan satu orang musisi lagi saya lupa namanya. Dan semuanya sudah tertulis di rollingstone online.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s