Lebih baik disini, Negara kita sendiri


Masih sedikit teringat tentang obrolan siang bersama mas Dado salah satu Dosen dikampus. Mengenai betapa bangganya sebagian masyarakat ketika bekerja disebuah perusahaan multinasional, ataupun internasional, mungkin malah cukup jadi Pegawai Negeri Sipil. Hmmm… mungkin sebuah stigma, atau sugesti kebanyakan masyarakat mengenai arti sukses itu sendiri. Kami yang terlibat dalam obrolan singkat, ditemani beberapa batang rokok di Kepel sebenarnya sangat sadar akan hal yang kita bicarakan. “kok seneng banget kerja jadi di asing?” mungkin kita tidak dapat mengelak ketika ilmu yang kita tuntut selama kuliah, mungkin saja membutakan kita akan rasa nasionalisme. Dalam artian kita bingung mau kemana nantinya.

Banyak lulusan perguruan tinggi ternama lebih memilih bekerja dikantor pemerintahan dengan alasan nanti kalau sudah pensiun kan masih ada yang menghidupi dalam arti uang pensiunan. Memang dengan rasa sadar kita tidak mau secara langsung mengakui hal itu, toh hal itu masih cukup lama sekali. Sebuah Future! yang sudah tercipta sejak awal, padahal belum lulus kuliah. Atau mungkin para fresh graduate memilih bekerja diperusahaan swasta nasional ataupun multinasional untuk sebuah pencapaian pendapatan yang lebih tinggi. Wah kita tidak memungkiri bahwa itu semua adalah pilihan, saya sebagai mahasiswa pun ketika ditanya setelah lulus mau jadi apa? dengan mudah saya akan menjawab ingin bekerja diperusahaan media? freelance fotografer ataupun dimedia. Saya tidak bisa berkelit kenapa kita tidak lebih memilih jalan menjadi pengusaha? takut resiko? jelaslah itu.

Akan semakin banyak lulusan perguruan tinggi, tetapi lapangan usaha tidak sebanding? akhirnya nanti bisa kita bayangkan banyak S1 pengangguran begitulah kiranya. Kembali kepada kebanggaan kita bekerja dipemerintahan dengan mengharap pensiunan, bekerja diperusahaan asing dengan harapan gajih besar, atau apapun itu. “Man or Power” – semoga tidak salah. Ketika obrolan dengan mas Dado siang itu, negara ini terlalu banyak investor asing, bayangkan yang kita miliki sendiri hanya berapa persen? dan kita rela untuk dikeruk Sumber Daya Alam Nusantara ini? banyak lulusan S1 mungkin termasuk saya juga masih bingung memikirkan bagaimana caranya untuk pelan-pelan mengusir para investor, dan menjadikan negara kita mandiri. Tanpa bantuan asing, tanpa campur tangan asing. Sudah berapa lama Freeport, Tembagapura, ataupun perusahaan tambang yang ada di Negara ini? mengeruk perlahan-lahan, memberi cipratan kepada negara sebagai imbal balik yang tidak sebanding sebenarnya. Kita menyadari kalau kita dijajah secara perlahan? tapi apa kawan? mau gimana lagi, itu urusan pemerintah. sebuah jawaban keputusasaan akan sebuah kebijakan pemerintah.

Bukan hal yang mudah kita menjadi tuan di tanah kita sendiri? walaupun itu terkesan mimpi, atau hanya khayalan. Semua itu butuh keberanian dan kemauan untuk bekerja keras, berhubung ini sebuah negara maka semuanya dimulai dari orang-orang yang kita pilih 5 tahun sekali itulah yang membawa negara kita kemana. Menjadi tuan di negaranya sendiri sebuah mimpi ketika sampai saat ini sama sekali tak membawa perubahan. Pola pikir para teman-teman lulusan S1, tidak menutup kemungkinan saya juga masih sama. Tetapi pasti ada orang-orang yang memiliki idealisme tinggi tetapi ditolak oleh lingkungan, dan tertindas. Negara kita butuh perubahan cepat, negara kita sangat perlu orang-orang muda untuk berpikir panjang menyelamatkan Sumber Daya Alam, dan menjadikan negara Indonesia sebagai negara penguasa tanpa harus dikuasai asing. Dan berbanggalah kalian yang sudah bekerja diasing, semoga suatu saat negara ini butuh tenaga kalian, dan kalian akan menempati sebuah posisi penting dalam perusaahan asing itu.

Saya sempat terpikir oleh obrolan teman KKN saya, Andrea. “berusaha memberikan perubahan Indonesia dari luar”, sampai saat ini saya tidak habis pikir bagaimana memberikan perubahan kalau kita tidak berada didalam. Sama halnya dengan tokoh-tokoh lain yang berada diluar sono, segeralah kembali dan membenahi negaramu Indonesia ini dari dalam. Kembalilah para ilmuan-ilmuan Indonesia, kembalilah para calon doktor, calon master yang mengambil contoh penelitian di Indonesia dan penelitian anda malah menjadi hak milik di Negara kalian tempat kalian menuntut ilmu. Sebuah hal yang menyebabkan negara lain belajar adalah mereka mempelajari hasil penelitian para lulusan S2, S3 Indonesia yang berada di seberang negara nun jauh disana, entah Belanda, Amerika, ataupun Australia. Tetapi lucu juga sih quote dari mbak Pulung, “kalau boleh saya ingin jadi warga negara Jepang” wah bayangin aja dosen aja bilang gitu? kalau Pak Habibie yang jadi warga negara kehormatan di Jerman juga betah disana ketimbang di Indonesia. Ini ada yang salah bung dengan negara kita salah satu hal kecil yang pura-pura tidak tahu para pemerintah.

Kalau boleh saya memilih, saya akan memilih menikmati hidup di negara Indonesia. Melihat lesu penguasa tambang asing, hutan-hutan habis dibabat, entah mau bagaimana lagi? kita sadar negara (pemerintah) kita sedang sakit. Mau bagaimana lagi kita? Sudahlah, menyelamatkan diri sendiri saja dengan berdoa, dan berusaha untuk berbuat yang terbaik untuk negeri ini, dan dari dalam mari kita perbaiki.

-sebuah tulisan meracau dimalam hari yang terinspirasi lagu Godbless-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s