Ketidak Pedulian Atas Sejarah Film Jogja


Saya tak begitu paham mengenai peraturan pemerintah yang mengatur mengenai cagar budaya, ataupun peraturan pemerintah yang lain dalam hal penyelamatan peninggalan sejarah. Walaupun dalam hal ini bukan masalah sejarah pada jaman kerajaan, ataupun jadul banget. Obrolan kali ini lebih nge pop banget, anak muda, dan bisa dikatakan masa kini lah. Walaupun kebanyakan sudah terlalu negatif mengenai hal ini.

Bioskop tua. Apa mereka sudah termakan jaman, atau bioskop jaringan? yah berbicara dengan kalimat positif maka saya yakin kalau bioskop tua masih bisa berpontensi untuk mendapatkan pengujung dengan cara menjual romantisme masa lalu. Tua – Sejarah, kita lupakan yang tua-tua karena kita generasi muda yang saya yakin ada beberapa yang masih peduli dengan sejarah, cerita-cerita lalu.
Mungkin kalau sudah tak peduli lagi dengan sejarah akan jadi seperti apa negara kita tanpa yang meresapi sejarah bangsanya, itu kelewat besar banget bung! muluk-muluk, yang kecil lah maka dari itu sejarah bioskop tua aja noh mumpung belum ditutup sama yang punya.
Kata pak Bagyo “kalau mau saya tutup, sekarang pun bisa mas saya tutup. cuma saya harus ngopeni 9 pegawai saya gimana. yang penting jalan walaupun harus nombok sekitar 5 juta sebulan” kira-kira seperti itulah inti quote dari pak Bagyo ketika saya dan Arum Manis berkunjung kesana. Wah saya yakin anak-anak event dikampus pasti memiliki pikiran yang sama, tetapi enggan ataupun malu. Kinoki punya nama besar pun bisa saja direpotin untuk bantu garap acara, ataupun JAFF, FFD yang punya ranah dibidang film, sinematografi.
Romantisme bioskop tua di Jogja setidaknya bisa dijual kembali, apa gunanya kota pelajar tapi tak pernah duduk dibangku bioskop tua. apalagi saya sebagai pengunjung yang tak pernah mencicipinya.
Kalau kata perempuan saya yang selalu bilang kita harus positif thingkin biar hidup enteng, saya yakin kalau saja bioskop tua itu jadi tempat kunjungan wisata, ataupun dijadikan tempat wisata dan menjadi nilai lain dari sisa-sisa sejarah jogja masa lalu. walaupun pilihannya antara indra dan permata.
Menjadikan sebuah point of interest dalam wisata jogja,masuk kedalam ruang proyektor, diskusi dengan penjaga tiket, pemutar roll, tukang parkir, ataupun pemiliknya. Bukan tidak mungkin untuk mengadakan hal tersebut, kalaupun tidak mungkin itu hanya prasangka saja. Kalau sibuk kuliah ngurusi sebuah client dengan produk ini itu, mending digarap aja kampanyenya mengenai bioskop tua di jogja. Dekat dengan kita, walaupun saya yakin kalau teman-teman yang cerdas ini berfikir, ngapain mikirin bioskop tua, toh ada 21 ataupun XXI. Lebih naasnya lagi, buat apa dipertahankan? semoga saja itu tidak keluar dari teman-teman pembaca notes setia…

 

“Sebuah notes kegalauan saya ketika mendengar betapa acuhnya pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta ketika tidak memperhatikan dunia hiburan kelas bawah, mengenai peninggalan sejarah dunia perfilman Jogja sendiri. Notes facebook yang tercatat pada tanggal 5 Juni 2010”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s