Sebuah Catatan KKN Maluku Utara (part II)


Setelah terhenti agak lama, mungkin kembali mengingat serpihan kenangan KKN Jailolo Metal kemarin. Agak susah kalau disuruh kembali mengingat hal lampau apalagi dituliskan, karena perlu sedikit flash back. Mengambil rekaman ingatan yang masih ada. Setelah sebelumnya pada membaca dibagian dua. Saya ingin melanjutkan cerita bagaimana kami bisa sampai disana dan sekitar dua bulan kurang menjalani kehidupan Kuliah Kerja Nyata di Pedalaman Halmahera Barat.

27-28 Juni 2010

Betapa susahnya untuk mencapai sebuah pulau di daerah timur Indonesia, perlu perjuangan dan ketahanan fisik yang lumayan walaupun jalur transportasi sudah sangat mudah. Seperti ditempuh dengan pesawat terbang, bayangkan kalau dulu hanya bisa ditempuh dengan kapal ferry yang akan menghabiskan waktu sekitar seminggu lebih dari Surabaya menuju Ternate kalau cuaca cerah, begitulah kira-kira cuplikan cerita dari salah satu warga ditempat KKN.

Setelah melewati jalan darat dibagian kedua, dan tiba di Surabaya setelah itu terbang ke Makassar untuk transit cukup lama. Barulah kami lanjut menuju pesawat batavia yang tujuannya Ternate. Cukup lama lho menunggu di Bandara Makassar yang megah itu, sekitar tiga jam lah. Saya dan Giri sibuk pergi kesana kemari melihat toko-toko lagi penuh para penumpang yang sedang menikmati piala dunia dini hari itu. Saya agak lupa tepatnya pada pertandingan apa waktu kami berada di Bandara Makassar.

Saya masih ingat sekali, mungkin hari itu adalah perjalanan pertama mas Giri. Seorang Geodesi yang lucu, baik dan pengertian serta pandai memijat (jari sakti bo). Mungkin kali itu pertamanya dia naik pesawat terbang, tapi sumpah mukanya polos banget sama sekali tidak keliatan walaupun saya melihatnya sedikit berbeda. Hihihi, tapi tak apalah saya menikmati sekali suasana dinihari Bandara Makassar. Sepi sekali, tetapi tiba-tiba teriakan para penonton piala dunia di Bandara itu cukup membuat ramai dan heboh.

Karena perlu save energy perjalanan masih panjang, kami pun segera memutuskan untuk duduk-duduk saja sambil menahan kantuk di ruang tunggu keberangkatan. Yah kira-kira merasakan bagaimana lelahnya menunggu lama di Surabaya, kemudian diniharinya di Makassar. Untungnya dua perempuan yang tangguh seperti Lolitya Anindita dan Fitra Sukma memang benar-benar teruji daya tahannya. Walaupun akhirnya mereka mengekspansi bangku ditempat tunggu juga untuk baring-baring.

Senyum diantara kita berempat selalu terjalin, walaupun dipesawat saya memang mengorbankan mas Giri agar pindah tempat duduk, saya ingin duduk didekat jendela pesawat. Mau liat sunrise dari pesawat. Mungkin sekitar pukul 3 pagi kami baru naik pesawat untuk melanjutkan perjalanan ke Ternate, Maluku Utara. Kantuk pun tak tertahankan karena lelah menunggu di Bandara yang cukup besar. Dan membuat kami melanjutkan tidur di pesawat selanjutnya.

Sekitar jam 8 Pagi kami sudah mendarat di bandara Sultan Babullah Ternate, mungkin karena jam di kamera saya belum saya ubah masih menunjukkan pukul 6 waktu Jogja. Ya sebenarnya ini telat hampir dua jam dari jadwal sebenarnya akan mendarat di Ternate pukul 6 pagi waktu setempat. Tetapi karena ada kendala teknis di Surabaya dan Makassar, Batavia yang kami tumpangi pun jadinya terlambat. Matahari di Bandara Ternate sudah meninggi, sudah hangat dan cukup menyadarkan saya kalau sudah tidak berada di tanah jawa lagi.

“eh beneran nih udah di Ternate?” tanya saya kepada teman-teman —-> foto waktu pertama kali mendarat di Ternate disini.

“ya iyalah wik! masak mau balik lagi ke Jogja?” jawab Lolitya

tetot! parah gilak saya merasakan betapa saya sangat jauh dari orang tua, dari hal-hal yang sangat jauh dari yang saya pikirkan sebelumnya. Dan sebenarnya dari dalam hati “serius saya sudah di Maluku Utara, pengen balik ah. gak jadi KKN disini”. Tapi hal itu memang membuat saya sedikit shock dan segera beradaptasi sangat singkat untuk hal seperti ini. Walaupun sebelumnya sudah mempersiapkan mental, tapi mental saya agak jiper waktu pertama kali datang di Bandara. Padahal belum angkat-angkat bagasi lho, itu pun dari pesawatnya mau ke bangunan Bandara kudu jalan kaki dan menanjak. Lumayan olahraga karena cukup lama dipesawat.

Pagi yang hangat itu menyadarkan saya dan membuat saya untuk segera bergegas mengajak teman-teman untuk langsung naik ketempat pengambilan barang. Dengan menenteng tas kamera, yang lumayan berat kami pun menuju tempat pengambilan bagasi. Entah berapa bawaan kami berempat totalnya, yang jelas untuk carier saya sendiri itu sekitar 10 kilo, kemudian lolitya yang lebih berat sekitar 13 kilo dan Fitra kira-kira sama dengan Lolitya lah. Dan urusan paling selo adalah Giri, barang bawaannya sumpah enteng banget serasa mau minggat dua minggu. Cukup rawkz sekali menurut saya mas Giri ini, tetapi itu sebuah pilihan tepat untuk menghemat dalam sebuah perjalanan. Kelar cek kertas boarding yang isinya nomor seri bagasi kami, tentunya itu saya bawa disaku saya agar mudah diambil.

Agak bingung ngeliat suasanya bandara kecil tapi ramai juga dengan aktifitasnya, walaupun cuma ada satu landasan pacu yang belakangan ini semakin diperpanjang dan ditambah fasilitasnya katanya sih. Tetapi dari tempat pengambilan bagasinya kok agak aneh aja, pengamanan dari pihak bandara tidak ketat, malah tidak tampak ada petugas pengamanan disana. Mungkin masih dalam ranah aman kali disana dalam hal tindak pencurian barang di Bandara ataupun tindak kriminal. Tetapi ya memang seperti itulah bandaranya, kecil ramai, dan berisi orang-orang khas Indonesia Timur yang bertampang galak tapi baik juga. Ketika sampai ruang pengambilan bagasi seperti itulah hal yang saya rasakan, tetapi apa daya sudah sampai dan ya mau tidak mau sesegera mungkin bisa sampai Jailolo untuk menemui orang yang akan membantu kita selama KKN disana.

Entah berada diposisi yang cukup jauh itu saya ngerasa sempat linglung, kosong pikiran mau ngapain. Dan segera terisi agar cepat bertindak mengatur work flow disana. Lolitya dan Fitra menjaga barang bawaan cabin, dan kita mengambil salah satu sudut tempat untuk meletakkan barang bawaan itu. Disambi Lolitya menghubungi pihak Pemerintah Daerah Halmahera Barat mengabarkan kalau kami sudah tiba, ada cerita yang menarik disini. Yaitu kita semua menyadari kalau begitu turun di Bandara Ternate sinyal Indosat (apalagi XL) babarblas ndak ada dan harus sedikit bergerak menuju arah kota baru ada sinyal Indosat. Maka dari itu ketika turun pesawat Lolitya kalau tidak salah langsung mengganti simcardnya ke simpati sementara. Sambil menunggu bagasi lewat kami pun beristirahat mengambil napas, dan ngobrol walaupun saya lupa apa yang diobrolan saat itu.

Saya angkat-angkat bagasi bareng mas Giri. Setelah semua barang bawaan kami lengkap kami pun menuju keluar. Dan sama sekali tidak dicek kertas kontrolnya seperti biasanya kalau keluar dari Bandara. Kami pun pergi meninggalkan ruang itu yang semakin sepi, menujut keluar dan tetap Lolitya mencoba menghubungi orang-orang terkait. Saya juga turut menghubungi mas Ginanjar, Mbak Deeya Maria, dan Mas Asep yang mereka itu terkait dengan Festival Teluk Jailolo. Jadi sudah tahu dilapangan seperti apa, dari harga mobil penumpang Bandara ke Pelabuhan Dufa-dufa, trayek dan bagaimana hal-hal sepele yang perlu ditanyakan saya tanyakan ke mbak Deeya kalau tidak salah. Walaupun mereka tidak berada ditempat setidaknya mas Ginanjar, mbak Deeya Maria dan mas Asep membantu memberikan informasi.

For Your Information – Mobil penumpang dari Bandara Sultan Babulah itu Rp 100.000 untuk satu mobil, kalau perorangan kenanya jadi lebih mahal. Sebenarnya waktu itu saya berhasil menawar Rp 80.000 tapi sayangnya tidak ada uang pas. Jadi tidak ada kembalian. Itu ditawar dari Rp. 200.000 men, sial banget klo ndak nawar.

Setelah melewati sekitar 10 menit kurang lah kalau tidak salah dari Bandara ke dufa-dufa, dalam hati agak ngedumel. Tau gitu deket naik angkutan umum aja kali. Lebih murah cuma 3ribu rupiah, tapi sayangnya tidak ada di sekitar Bandara. Dan kendala barang bawaan kami cukup banyak juga sih. Rupanya kita tidak langsung bisa naik speed boat untuk menyebrang ke Jailolo. Ya maklum lah angkutan air yang satu ini memang harus menunggu penuh, dan tidak semua harga tiketnya sama. Tergantung ukuran speedboatnya, kebetulan waktu itu kita naik yang seharga 50 ribu. Walaupun ada yang harganya 37 ribu, tapi sayang bukan jam berlayarnya. Walaupun awalnya kita memprediksi harganya 37 ribu, mau tidak mau yaa ngikutin lah. Kalau mau yang harga segitu kudu nunggu 3 jam? so wasting time toh. Sebuah pengalaman berharga juga tuh. Kalau semakin banyak informasi yang kita dapatkan bisa membantu ketika dalam perjalanan.

For Your Information – Teori Speedboat, Kecepatan dan Jumlah Penumpang berbanding terbalik dengan harga tiket. Maksudnya kalau pake speedboat yang kecil penumpang dikit pasti harganya mahal.

see u next part

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s