Mangan ora Mangan Ngejazz



Ketika mendengar tagline Ngayogjazz tahun ini “mangan ora mangan ngejazz” menurut saya cukup unik. Dimana jadi plesetan “mangan ora mangan kumpul”, dari situlah saya niatkan datang ke Ngayogjazz untuk benar-benar belajar menikmati musik jazz, menikmati suasana jazz yang memang dikemas merakyat. Tidak jauh dari konsep pada tahun sebelumnya yang cukup asik sekali dengan tiga stage, ditempat terbuka berdiri kemudian ada pasar jazz yang turut diramaikan oleh komunitas jazz jogja, ada dari JazzMbenSenen, beberapa lapak makanan yang bisa jadi tempat pemadam kelaparan saat lagi nonton.

Kalau mau ngobrolin masalah konsep, Ngayogjazz dari tahun ke tahun memiliki ciri khas jazz yang sebenar-benarnya jazz menurut saya. Sebuah pertunjukan seni musik yang benar-benar bisa dinikmati oleh khalayak umum, semua tingkatan. Lain halnya ketika kita berbicara pertunjukan seni musik jazz yang dilaksanakan di gedung (baca: Graha Sabha Pramana) yang memang dikemas ekslusif oleh penyelenggara, dan menurut saya itu akan membentuk tingkatan dalam masyarakat penontonnya, ada strata waktu mau nonton. Dan tentunya tidak bisa menikmati makan minum, yang ngerokok bisa bebas ngerokok walaupun akan mengganggu penonton yang lain, ataupun dat/ang hanya ingin sekedar kumpul-kumpul bareng teman-teman kemudian menikmati musik dari kejauhan. Itulah nikmatnya pertunjukan seni musik jazz malam itu.

Sebenarnya saya sempat berpikir, antara datang atau tidak kesana. Walaupun saya tahu disana pasti bakalan ketemu dengan teman-teman kampus, para seniman, tetapi posisi jadwal Ujian Akhir Semester kadang jadi penghalang untuk nekat pergi. Dan itu tetap dengan berbagai konsekuensi dengan urusan kuliahmu. Tapi ini suasananya yang tidak akan kamu dapatkan ketika kamu melihat timeline twitter @ngayogjazz, #ngayogjazz, dan sebagainya yang mungkin bikin iri, sedikit gondok nggak datang. Dan lebih gondoknya lagi pura-pura ngerjain tugas, ngeliatin timeline twitter, tapi acara ngayogjazz kelar tugas kamu pun tidak selesai atau tidak dikerjain. Lucu juga sih ketika saya harus berangkat sendiri dari rumah, yang biasanya cari tebengan atau berangkat bareng.

Cuaca jogja sore itu sebenarnya cerah, tetapi makin malam rupanya awan hujan pun datang memberikan rintik-rintik menemani perjalanan yang tinggal sedikit lagi. Sejenak memasang mantol, kemudian melanjutkan perjalanan ke selatan diiringi playlist  yang temponya cukup nyaman untuk menemani perjalanan disaat hujan.

Ngayogjazz tahun ini diadakan di Pelataran Djoko Pekik,  Desa Sembungan, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan di publikasi via online cukup menarik dengan ditambahkan koordinat tempatnya (-7.83264022265, 110.338750259  (7°49’57.50″ S 110°20’19.50″ E)) Dan dengan teknologi dapat dipastikan tidak mungkin kesasar karena sebelum saya berangkat tinggal masukin koordinatnya via google earth pun sudah dapat posisinya dimana. Apalagi kalau pakai GPS (glopas positioning system) tentunya akan dipandu ketempat tujuan. Sebuah teknologi yang memudahkan kita, tetapi sayangnya saya tidak punya itu. Untungnya saya rada-rada inget di daerah selatan jalannya kemana jadinya nggak begitu susah mau kesana.

Saya nggak sempat foto bareng dengan teman-teman yang ketemu, sempatnya ngerekam waktu pak Sujud Sutrisno yang merupakan seniman kendang yang pernah saya kenal dan cukup bersahaja. Itulah yang jadi nilai tambah bagi saya malam itu, menikmati sebentar pak Sujud memainkan gendangnya dengan lincah dengan lirik-lirik lagu yang sudah diplesetkan. Walaupun banyak musisi lain yang menghiasi daftar acara malam itu (sabtu 15  Januari), yang saya rekam memang pak Sujud karena beliau memang spesial karena sebelumnya tugas kuliah saya pernah berhubungan dengannya. Mengikuti menelusuri gang-gang kampung, dan malam itu saya terobati karena rupanya beliau main juga. Dan saya rekam.

5 thoughts on “Mangan ora Mangan Ngejazz

  1. Oohh masih kuliah toh mas?
    asyiknya masih kuliah tapi foto2nya udah dipakai media2 besar.. hihihi
    kuliah dimana mas?

    Iya nih, tanggal 18 november aku ada rencana mau ke jogja,
    mau merasakan gimana nikmatnya “jazz jalanan ala jogja”
    mudah-mudahan bisa bersua di sana lah mas
    hehehe

    1. @Andha KP – uhmmm mengerjakan skripsi saat ini, #eh nggak semua media. Cuma kadang ada media online yang perlu menghubungi saya mas untuk menggunakan foto.🙂

    2. Kuliah dimana emangnya mas? haha

      Iya soal’e saya pernah liat foto e mas di rolling stone indonesia,
      muantap tenan lah kl udah dipake RSI mah mas.
      haha

    1. @Andha KP – yah begitulah, kebanyakan teman-teman kampus saya terlibat didalam penggarapan acara itu. Yang intinya saya pribadi hadir kesana untuk bertemu kawan-kawan. Nggak perlu berharap banyak bisa nonton artisnya, dengerin suaranya dari jauh sambil pegangan payung juga asik.
      Salam kenal juga jangan lupa 18 November Ngayogjazz lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s