17 Januari 2011


Sore bersama segelas kopi dan sebungkus rokok

Matahari kembali redup setelah tadi siang panas sebentar kemudian dilanjutkan sedikit hujan rintik-rintik. Setelah itu cuaca menjadi berawan dan sedikit dingin apalagi setelah bumi dibasahi oleh tetesan air hujan. Entah mengapa niat untuk menulis kembali hadir untuk menghabiskan sore yang akan berganti dengan senja.

Masih disudut yang sama disetiap aku menemui dirimu, yang tidak dapat kusentuh seperti orang lain ketika menyetuh kekasihnya. Merasakan dirimu hadir disetiap detik, tetapi sebuah kenangan yang tidak mungkin terlupa untuk setiap saat. Walaupun sudut itu terlalu kecil untuk ditemui ditempat lain, tidak ada ruang besar yang bisa menyimpan hatimu. Karena sudut kecil ini milik kita berdua.

Sore itu milik semua umat manusia yang dicintai oleh TuhanNya, kemudian umatnya menikmati sore yang indah itu dengan pasangannya. Melepas lelah sepulang kerja, berbagi cerita seusai kuliah tentunya menunggu waktu sore berganti senja karena waktu yang diberikan oleh Tuhan.

Disebuah sore pada sudut kecil hatimu itu masih sulit aku mengenalmu, sama ketika aku mencoba mengenalmu dengan cara yang berbeda, entah bagaimana caranya aku harus menyentuhnya. Ah! hampir terucap kata lelah di sore itu, bukankah kita boleh mengeluh? tetapi kamu tidak suka hal itu. Maka aku pun harus menyentuh pemikiran-pemikiran positifmu untuk membesarkan hatiku dengan tidak mengeluh.

Disebuah ruang tadi siang kutemui dirimu yang masih menikmati kesibukan kuliah, dan aku kembali tersadar untuk segera menyelesaikan kuliahku. Jangan sampai aku kalah cepat dibanding kamu. Mungkin hal konyol ketika aku diam, kemudian tidak berusaha untuk lebih cepat menyelesaikan studiku. Walaupun ada beberapa teman yang demikian adanya.

Entah ini kali keberapa bertemu denganmu, tetapi aku belum menyegerakan untuk menyelesaikan studiku. Yang baru saja kusadari sudah saatnya untuk diselesaikan, kemudian aku masih belum mendapatkan apa yang menjadi resolusiku diperkuliahan. Tampaknya semua itu harus dikejar di tingkat akhir, karena Tuhan selalu bersama mahasiswa tingkat akhir.

Tak mungkin aku habiskan waktu siang itu bersamamu, lebih baik aku berpindah tempat yang lebih ramai dengan mencoba melupakan perasaan yang begitu besar untuk meyakinkanmu tentang sudut kecil hatiku untuk dirimu. Tetapi mungkin itu sesuatu hal yang entah mengapa membuatku tidak bisa tenang.

Tetaplah bersama gelas kopi yang lama-lama menjadi dingin dan akan aku kurangi rokok ini demi kesehatanku sendiri. Tetap akan kuceritakan hari ini, besok dan nanti untuk kemudian aku hadir bersamamu entah kapan. Tanpa kamu menutup hidungmu, atau mengibaskan tanganmu untuk meracaukan asap rokok yang mengarah padamu karena aku sudah berhenti menghisap racun ini.

_Kisah segelas kopi dan sebatang rokok_

Yogyakarta, 17 Februari 2011

3 thoughts on “17 Januari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s