Split Second, Split Moment by Julian Sihombing


Disebuah sore sudah saya menyediakan waktu untuk datang ke sarasehan pada pameran foto Julian Sihombing, salah seorang editor foto di Kompas. Ketertarikan saya untuk datang ke acara itu Sabtu (9/4) di Bentara Budaya, untuk bertemu tatap muka, kemudian sedikit bincang-bincang mengenai fotografi jurnalistik, tentunya mengikuti diskusinya. Disanalah arus bertukar pikiran terjadi, antara penikmat pameran dan pembuat karya.

Sarasehan pameran Split Second, Split Moment oleh Julian Sihombing di Bentara Budaya Yogyakarta

Karya dan Penikmat.

Menghubungkan antara karya fotografi dan penikmatnya tidak bisa dilepaskan, bagaikan satu kesatuan dalam sebuah kegiatan. Ada karya dan ada yang menikmati, sama seperti musik, atau seni dimana ada bentuk karya dan ada yang menikmati. Sama halnya dengan pameran foto Julian Sihombing yang diadakan di Bentara Budaya Yogyakarta, ini adalah karya-karya yang terpilih dari sekian banyak hasil jepretan beliau.

Untuk mendapatkan karya-karya terpilih dalam pameran “Split Second, Split Moment”. Beliau menjelaskan saat diskusi “beruntung Kompas, salah satu media besar yang mempunyai sistem arsip yang rapi” sistem arsip yang rapi mendukung beliau untuk mencari foto-foto yang waktu dulu mendapat apresiasi baik dari pembaca kompas. Mendapatkan karya-karya ini pun butuh waktu beberapa bulan, tentunya proses yang lama ini mewakili dari setiap rentang jaman di Indonesia yang terekam dalam frame Julian Sihombing.

Dari sekian puluh karya Julian Sihombing yang menghiasi dinding-dinding Bentara Budaya Yogyakarta seminggu penuh itu mendapat apresiasi cukup tinggi sekali. Terbukti jumlah pengunjung yang datang, usut punya usut katanya lebih tinggi dari Bentara Budaya Jakarta dan Bali. Ditambah lagi kalau melihat yang hadir saat sarasehannya, ternyata Jogja boleh bangga dengan jumlah yang cukup memuaskan. Satu ruangan Bentara Budaya penuh sesak oleh pengunjung yang datang mengikuti diskusinya. Hal ini bisa dianggap tolak ukur tingkat apresiasi fotografi.

Seni?

Disalah satu bagian diskusinya malam minggu yang ramai di Bentara Budaya, memberi saya pencerahan tentunya sedikit boleh sombong setelah mendapatkan pernyataan mengenai fotografi dalam seni. “berhubung saya tidak bisa menjelaskan definisi seni fotografi itu apa, maka dari itu saya motret apa saja” kira-kira seperti itu quote yang memberi saya keyakinan, dimana dulu sempat ada pernyataan teman mengenai fotografi itu seni. Tapi kalau sejujurnya nggak bisa menjelaskan seni itu sendiri apa, mungkin nggak selayaknya menghubungkan hal itu dengan seni. Sehingga bang Julian tidak berbicara banyak dari hal seni, dimana ada pertanyaan yang berkaitan dengan itu.

Proses

Seorang fotografer tampaknya belum “diakui” kalau belum berpameran (semoga quote ini benar, tapi sumbernya nggak tahu). Saat diskusi juga ada sebuah pertanyaan yang menarik, kemudian memancing bang Julian untuk menceritakan proses sampai pameran ini terwujud. Eksistensi dari seorang fotografer tampaknya kurang lengkap kalau belum pameran tunggal, seperti pada pameran foto “Split Second, Split Moment” oleh Julian Sihombing yang merupakan pameran tunggal pertamanya setelah sekian puluh tahun berkarya didunia fotografi.

Beliau belum begitu yakin untuk pameran tunggal, sampai pada akhirnya beliau memberanikan diri untuk memulai diskusi dengan teman-teman terdekat beliau dan teman-teman seprofesi mengenai pameran. Disitulah bang Julian berani untuk berpameran tunggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s