Purnama Indah Malam Itu


“dek, apa kamu lihat bulan purnama yang terang benderang itu?” tanya seorang lelaki muda kepada seorang perempuan

“lihat mas, cuma nggak bisa lama-lama. Masih ada tugas kuliah banyak” jawab pendek perempuan manis yang menggunakan hijab.

“mas disini ngeliat sambil nungguin teman-teman ngobrol, sayang nggak ada kamu dek” ucap anak lelaki ini.

“ah nggak apa-apa mas, ntar kan juga balik kesini” balas perempuan yang sedang menunggu meraih mimpi di kota pelajar.

Sebenarnya tidak mudah untuk seorang lelaki muda ini untuk mencoba merebut hati perempuan cantik berhijab ini, tetapi mencuri sedikit perumpamaan kalau batu sekeras apapun bisa hancur dengan tetesan air. Walaupun secara teknisnya sendiri sekarang sudah ada alat pemotong besi sekalipun dari air yang bertekanan. Mungkin tidak ada salahnya untuk mencoba meluluhkan hati seorang perempuan itu, menurut lelaki muda itu. Toh dia saat ini sudah mencoba mencari kehidupan yang layak, mapan dan siap untuk menghadapi tantangan baru dalam kehidupan. Dan perempuan cantik ini pun sudah lama mendambakan seorang kekasih yang tidak seperti yang dulu, yang pernah menyakiti perasaannya.

Rasa sakit hati yang dulu pernah dirasa mungkin bagi perempuan manis itu, sudah menguap entah kemana. Karena waktu yang sangat lama, dan semakin tidak ada waktu untuk memikirkan ada sesuatu yang tersimpan dihati. Bilik hati itu sudah terisi oleh penat atas kehidupan kampus yang rasanya berhenti ketika mengisi Kartu Rencana Studi ataupun setelah Ujian Akhir Semester. Selalu begitu selama perempuan ini menjalani kehidupan kuliahnya yang penuh dengan banyak lelaki hadir dalam kehidupannya, tentunya hanya sebatas teman semata. Mungkin karena rasa sakit hati dulu yang membuatnya untuk menutup bilik hatinya itu.

Bermula dari kehadirannya yang cukup menarik di kampus ternama itu, perempuan itu menganggapnya biasa saja. Tidak ada yang spesial dalam hidupnya, kecuali kekasihnya yang dulu sempat singgah dihati perempuan manis itu. Entah mengapa sulit sekali untuk merebut hati dia wahai perempuan manis, hanya lelaki muda itu yang tampaknya akan dapat menaklukan kerasnya hati perempuan manis itu. Sayangnya hal itu merupakan sebuah cerita lalu, dan harapan. Kemudian tiba-tiba saja lelaki mudah itu hadir lagi dengan sesuatu yang berbeda, dia sudah memiliki masa depan cerah sedikit titik putih hadir memberikan secercah harapan.

Masa lalu yang mungkin hanya sebuah harapan semu, tampaknya akan benar-benar memberikan sebuah kenyataan indah bagi mereka berdua. Pasangan ideal yang ingin melihat purnama indah bersama, walaupun terpisah jarak dan waktu. Yang bisa menerima kekurangan satu sama lain, dan melihat dia lebih dekat dengan mengenalnya lebih dalam. Perempuan berhijab manis itu dan lelaki muda itu tampaknya akan hadir dikehidupan yang lain. Setelah semuanya usai dan kini mereka akan berjalan bersama suatu saat nanti. Dan purnama saat itulah yang menyatukan mereka, tentunya ditempat yang indah untuk melihat pemandangan malam kota pelajar itu. Antara lampu-lampu kota, bintang yang bertaburan dilangit, kemudian ditemani dua gelas wedang ronde yang menghangatkan badan.

-Purnama 20 Maret 2011-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s