Obrolan Balkon


Rahmat tidak seperti biasanya, kali ini dia tampak begitu kehabisan akal. Mungkin karena kali ini Sarifah benar-benar geram dan tidak menginginkan dia kembali dihadapannya.

“mat! hentikan apapun yang kamu lakukan kepadaku” ucap Sarifah disuatu pagi.

Dengan tertunduk lesu, Rahmat pun pergi meninggalkan Sarifah yang mukanya merah bukan tanda tersipu tetapi marah.

“Maaf ya fah” ucap Rahmat lirih tanpa mengerti maksud Sarifah yang marah pada pagi itu.

Tidak seperti biasanya Rahmat yang mencoba untuk selalu tampil gembira, kemudian berusaha untuk tidak tampak lemah kali ini benar-benar dibuat luluh lantak dengan sifat Sarifah pagi itu. Padahal cuaca di kota industri itu sangat cerah sekali. Tetapi malah suasanya diantara kedua orang ini justru mendadak mendung.

“mesti gimana lagi ya? apa aku pergi saja. Rasa-rasanya aku memang nggak perlu dia untuk saat ini, sama dengan hubungan kita yang nggak perlu ada ketergantungan satu sama lain” gerutu Rahmat sambil menyeruput Kopi panas, ditemani rokok.

Tidak lama kemudian datanglah Udin dengan rambut gondrongnya, dia coba menghibur Rahmat yang tampak murung dibalkon kostnya. Dengan mengibas-ngibaskan rambutnya, sampai-sampai beberapa “salju” itu mendarat mulus digelas kopi milik Rahmat.

“Woy din! liat-liat dong tuh kepala kalau sembarang muter kayak iklan shampo dandruf jangan deket-deket ane dong!” bentak Rahmat sambil menarik meniup-niup “salju” udin yang dari kejauhan tampak seperti biji wijen.

“sory mat, peace yaaa” balas Udin sambil nyengir kuda.

“kenapa mat? mukamu kok kayak muka unta gitu? nggak senyum sama sekali kayak biasa?” tanya Udin penasaran sambil mengambil bungkus rokoknya ditas.

“ah nggak apa-apa sih din. Cuma masih bingung sesuatu aja” balas Rahmat sekenanya sambil menyeruput Kopi tadi.

“yaa tuh kan bener, nggak ada apa-apa tapi mukamu nggak jelas bentuknya. Nggak kayak biasa tuh!” balas Udin agak sok tahu.

“gini din. Aku bingung sifatnya Sarifah belakangan ini, selalu menghindar kalau aku hubungi” jawab pasrah Rahmat, setelah di-skak mat dengan muka ditekuk layaknya unta ngerokok.

“ah kamu mat. kok mau sama Sarifah? dia kan udah punya pacar? Mending kamu deketin aja tuh Juleha. Yang aduhay dan cantiknya nggak ketulungan” timpal Udin sambil menyulut rokok yang rupanya itu batang terakhir dibungkus yang dibawanya ke kost Rahmat.

“gimana sih din! katanya temen, ane kan demen yang pake tutup kepala” balas Rahmat

“tutup kepala? kresek? topi? atau trash bag? tukas Udin sedikit bego sambil tertawa.

“iya iya. aku tahu kok mat, seleramu gimana. Tapi mau gimana lagi? sudah dikampus seangkatan, terus kamu semacam blacklist buat cewek-cewek dikampus apalagi angkatan” Lanjut Udin agak serius

-suasana tiba-tiba menjadi hening seketika, mungkin saja ada setan lewat. Tetapi saat itu angin berhembus secara tiba-tiba membuat kedua bujangan ini terdiam sesaat-

“ah ya sudahlah din, aku pikir sendiri aja. Aku kayaknya perlu nenangin diri dulu, bener juga sih katamu” ucap Rahmat.

“bener nih mat? ente nggak mau curhat? kayak cewek-cewek biasanya kan tuh pada curhat, biar keliatan enteng gitu” balas Udin menawarkan jasa curhat terjamin rahasia.

“nggak din, nggak minat curhat. Apalagi sama situ din, rahasia terjamin menyebar” tukas Rahmat sambil mematikan rokok.

-kali ini benar-benar diam, bukan karena hembusan angin tiba-tiba tadi. Tapi seperti biasa, suasana hati Rahmat bisa dikatakan sedang tidak stabil-

“Ya sudahlah mat, kalau itu mau kamu. Ane pergi dulu ye, ntar kalau mau cerita sms aja ye. Ntar ane siap mendengarkan, atau perlu ane traktir bir? biar ente mabok sambil cerita?” ucap Udin dengan menawarkan opsi pembuat tidak sadar.

“yaaa nggak lah din, ogah banget aku. Mending mabok sendiri nggak cerita sama siapa-siapa, apalagi situ din” balas Rahmat lagi, sambil menghabiskan kopi yang sudah dingin.

Udin beranjak pergi, sambil menenteng tas yang kosong dari Balkon Rahmat. Tentunya meninggalkan bungkus rokok yang cuma berisi sebatang rokok kretek. Persis orang tua, yang doyan rokok berat, tepatnya kuli.

Pertemuan Rahmat dan Udin ini seperti biasa memang tidak pernah membuahkan sebuah hasil, ketenangan jiwa atau sebagainya. Kecuali menyisakan abu rokok, atau mungkin ampas kopi Udin di gelas yang dipinjam Udin. Belum larut malam padahal, kemudian Rahmat membiarkan Udin pergi dari kostnya.

Mungkin ini bukan kali pertama Rahmat seperti itu, hanya Udin yang paling tahu sifat Rahmat. Ibarat kata, Udin yang jadi paranormal pribadi si Rahmat. Tetapi bukan urusan hati, karena Rahmat bukan orang yang mudah ditebak.

#31harimenulis – day 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s