Mengapa Tidak ber Twitter?


Wah tampaknya ini sebuah pertanyaan sensitif? mengapa? mungkin kalau ada beberapa teman tertanggal 4 Maret 2011 yang sedang login twitter akan melihat betapa chaosnya timeline. Tentunya saya akui kalau itu ulah saya. Mungkin anggap saja saya adalah orang yang nggak ingin membuat orang tersakiti, melakukan tindakan kekerasan entah verbal, tindakan atau apapun itu.

Melihat chaosnya dunia timeline twitter tampaknya saya berhenti untuk menggunakan twitter. Ada beberapa hal yang membuat saya berhenti, pertama karena saya memang tampaknya tidak bisa menahan hasrat untuk terbuka. Seperti ketika saya mengatakan “saya tidak suka kamu”, tentunya akan saya bilang seperti itu. Dan tidak akan saya katakan berbelit-belit sepanjang 600 kata atau sebagainya. Tentunya 140 karakter itu membuat dimensi makna menjadi bias.

@danangwawan – mungkin teman-teman pernah ingat saya menggunakan nickname twitter ini, nickname twitter ini sebagai nama mula twitter saya. Tentunya saya sendiri lupa pertama ngtweet kapan, apa isi tweet pertama apa pun saya nggak inget, dan sebodo amat mikirin yang pertama kali. Nah tampaknya dengan nick twitter ini panjang dan boros, saya berinisiatif untuk memperingkas. Tentunya dengan pertimbangan keren atau tidaknya nick tersebut.

@dwikm – secara branding nama? sudah oke menurut saya. Dwi Kurniawan Muhartono, nggak kayak yang diplesetin anak-anak #nomention jadi Dwi Kamar Mandi? not bad lah. Toh saya seneng-seneng aja dengan bercandaannya mereka. kalau saya Dwi Kamar Mandi = dwikm, sekarang saya pengen lempar balik account @bramadr diplesetin apa? hehehe… dipikir sendiri aja ya.. 

@fotodeka – why why why? nick terakhir sekaligus penutupan untuk branding. Ada banyak faktor yang bisa dibaca disini dan disini. Secara tampilan tidak kalah keren dengan @dwikm yang kabarnya saat ini sudah dipakai oleh user tidak jelas beralamatkan turki kalau tidak salah. @fotodeka ini sudah keren? mengapa? jelas ini nama blog? nama channel youtube saya juga. Walupun berakhir dengan tidak nyaman mungkin bagi orang-orang, tentunya saya tidak memilih untuk ngtweet berdasarkan perasaan tidak suka, penilaian pribadi saya.

Nah? sayangnya nasib si @fotodeka sekarang sudah failure for brand. Saya mendapat ide ini dari mas Fickry dalam suatu obrolan malam, dimana saya menentukan ingin berpindah dari multiply kesini. Fotodeka ? ya tepat mengapa dinamakan Fotodeka, karena kenarsisan saya dalam berkarya untuk menunjukkan karya saya, hasil jepretan, hasil liputan, hasil tulisan, tentunya bukan hasil hubungan saya dengan seseorang perempuan karena hal ini memang belum pernah terjadi. Karena saya memutuskan untuk nge-blog disini untuk berbagi cerita, pengalaman dan apa yang saya lihat dan rasakan. Sebuah statment #klise lah pokoknya, sama dengan orang-orang lain kalau ditanya buat blog kenapa? dan mengapa.

Tampaknya ngeblog memang memberikan ruang lebih untuk menyampaikan rasa ketidakpuasan, kebebasan dan keleluasaan orang untuk memberikan waktu berpikir memberikan waktu untuk mencerna apa maksud dan tujuannya. Memberikan orang lain untuk masuk dan memberikan feedback dengan panjang lebar, memberikan keleluasaan mereka melemparkan statment cerdas ketimbang emosi sesaat yang bodoh. Atau mungkin tampaknya ada perbincangan yang hangat untuk itu.

Resmi Tutup

twitter @fotodeka tepatnya telah resmi tutup pada tanggal 4 Maret dinihari, entah pukul berapa. Karena saya sendiri nggak begitu ingat, saya menutup account itu pukul berapa. Banyak pertimbangan untuk menjadi seorang pengecut, loser dengan menghindar ketimbang menghadapi kenyataan. Tetapi dibalik itu saya sadari kalau seseorang itu memang tidak akan senang kalau ada orang lain jujur lewat twitter, kalau tidak suka tapi nggak bisa ngomong mending di kirimkan pesan pendek. Twitter itu sangat menyakitkan tampaknya, dan itu terbukti. Apalagi kalau kamu terlalu banyak ocehan, terlalu banyak melontarkan apa isi hatimu secara general dan gamblang.

Tidak perlu dibuat lagi, tentunya sudah terkunci erat nick @fotodeka. Dan saya juga memang tidak berniat untuk ngtweet, apapun itu. Karena saat ini saya sudah membuat page untuk facebook saya sendiri. Bisa dilihat ditampilan utama blog ini, badge-nya ada disebelah kanan atas. Sudah besar dan tinggal di like saja. Sedikit menggantikan apa yang tidak ada dengan page. Sedikit berbeda tetapi tidak masalah untuk memulai semuanya dari awal kembali,

Lebih Baik

Sudah beberapa bulan ini, saya menjadi lebih nyaman dan tampak tenang tidak perlu menunjukkan eksistensi melalui update twitter. Membuat saya menghilang perlahan, tetapi tidak seperti menghilangnya teman saya Cemi yang menghilang secara mendadak. Padahal yang bersangkutan sedang berada dirumah. Dengan menghilangnya eksistensi ini, kehidupan teman-teman terkait pun bisa kembali damai tanpa perlu sakit hati. Mereka semua hidup tenang tanpa merasa terganggu. Hanya perlu mengetahui tanpa perlu memberikan feedback tampaknya sudah cukup, seperti kata anak-anak sekarang “cukup tahu aja ya lo” (sambil pasang laga anak Jakarte). Ya kira-kira seperti itu.

Twitter itu eksistensi? bisa dikatakan iya. Tentunya saya tidak perlu merasa kecewa juga, tetapi sangat senang dengan saya bisa kembali menulis panjang lebar agar yang baca mengerti apa maksud dibaliknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s