Tur Perjalanan Religi Itu bernama Xtrareligi


buka yang disini ya http://fotodeka.com/2011/06/05/tur-perjalanan-religi-itu-bernama-xtrareligi/

 

Cangkringan, adalah tempat ke 53 dari 99 tempat yang akan dikunjungi dalam rangkaian Xtrareligi. Pondok Pesantren Al-Qodir yang dipimpin oleh KH. Masrur Ahmad MZ, yang tidak tegang ketika duduk bersama Iwan Fals saat Press Confrence.

Secara nama acara sudah tampak asik Xtrareligi, menurut saya sendiri religi lebih kepada keyakinan. Nah disini mungkin Iwan Fals dan Ki Ageng Ganjur didaulat oleh Djarum (coklat) dalam tur ke 99 tempat ini memang layak. Tentunya antara Ki Ageng Ganjur yang sebagai tokoh agama, dan Iwan Fals sendiri yang saat ini berusaha lebih dekat dengan agama. Sebuah ikatan religi yang kuat, antara background artis dan judul kegiatannya sendiri.

Sebuah kesempatan yang sangat berarti bagi para santri Ponpes Al-Qodir sendiri untuk membantu terlaksananya kegiatan ini. Dimana desa Wukirsari, yang menjadi tempat Pondok Pesantren ini waktu erupsi merapi November 2010 lalu juga terkeda dampaknya. Disinilah Iwan Fals dan Ki Ageng Ganjur, hadir dihadapan para warga lereng merapi memberikan hiburan yang secara tidak langsung menjadi therapy healing bagi masyarakat Cangkringan.

Sebuah keseimbangan, antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals yang sarat dengan kritik sosial, dan diselingi dengan pengajian melantunkan ayat-ayat quran.

Aksi Tanam Pohon

Saya tiba di Ponpes Al-Qodir, sekitar pukul 14.00. Parkir motor memang letaknya tidak begitu jauh dari pondok pesantren, dan tidak jauh juga dari venue acara. Itu karena saya datang siang, dimana acara belum dimulai dan memang belum ramai.

Desa yang menjadi tempat ponpes ini berdakwah yang dulu sempat abu-abu ditutupi abu merapi (November 2010), saat saya datang siang itu sudah menghijau semua. Tampak dari simpang tiga terakhir sebelum menuju ke lokasi acara, semuanya sudah tampak hijau subur.

Hijaunya lingkungan sekitar kita, memberikan dampak yang baik juga untuk kelangsungan polulasi (termasuk manusia) di lingkungan tersebut. Kegiatan penghijauan pasca erupsi merapi pun tidak hanya kali ini saja bersama Xtrareligi. Tetapi sebelumnya juga banyak aksi dari Organisasi Masyarakat, atau lembaga-lembaga yang menangani bencana merapi sudah melakukan aksi tanam pohon didaerah lereng merapi yang kemarin habis tersapu bersih oleh awan panas.

Hasilnya sekarang sudah mulai kelihatan, tanah-tanah tandus pada Desember lalu kini sudah mulai hijau secara perlahan-lahan.

Xtrareligi ini sendiri tidak hanya acara konser musik, dan dakwah saja. Tetapi sebagai bentuk dari tanggung jawab sosial sponsor kepada lingkungan. Maka diadakan juga penanaman pohon di desa, yang dilakukan secara simbolis oleh Iwan Fals, KH. Masrur Ahmad MZ, dan Ki Ageng Ganjur. Harapannya dengan penanaman pohon ini, dapat membuat desa Wukirsari ini kembali menjadi hijau.

Tetap Istiqomah dijalan musik

“bang! Kenapa nggak ngajukan jadi calon anggota dewan aja?” kira-kira seperti itu salah seorang yang hadir di press confrence melemparkan pertanyaan kepada Iwan Fals.

Pertanyaan ini cukup menarik dari sekian banyak pertanyaan. Sama halnya banyak musisi yang membawakan musik bernuansa kritik sosial, dengan lirik-lirik lagu yang mengkritik. Setidaknya menjadi salah satu alternatif jalan untuk menjadi kontrol dari keputusan pemerintah. Tidak hanya Iwan Fals, ada juga Ebiet G. Ade, Franky Sahilatua, Slank (dibeberapa album), apalagi sekarang ada Efek Rumah Kaca, dan beberapa musisi yang secara tidak langsung membawa nuansa kritik sosial di lirik lagu mereka.

“kalau saya jadi anggota dewan, nanti siapa yang mengkritik saya” jawab Iwan Fals singkat, dengan senyum. Yang kemudian sang penanya tadi pun tidak puas dengan jawaban Iwan Fals, sejujurnya malah jadi diskusi dan menjadi lebih dekat antara pengunjung yang datang saat press confrence dengan Iwan Fals sendiri.

Rambut Iwan Fals boleh memutih, tetapi semangat dari lirik-lirik lagunya tidak pernah pudar. Walaupun pemerintah juga tetap tuli dengan apa yang disuarakan melalui lirik-lirik lagu Iwan Fals. Tetapi hanya bermusiklah yang mampu untuk selalu mengiringi jalannya setiap keputusan pemerintah, untuk selalu mengontrol dan mencaci dari lirik lagu yang dapat dinikmati.

Minim Publikasi Media.

Entah mengapa saya cukup berani mengatakan acara Iwan Fals di Ponpes Al-Qodir kali ini tidak di-cover kebanyakan media di Jogja. Tetapi yang saya yakini saya berani mengatakan tidak di cover, karena mungkin ini hal biasa. Sama halnya dengan konser-konser artis-artis lain, atau mungkin media yang terkait dengan dunia hiburan, musik, seni lebih tertarik meliput acara musik yang lain, yang paling penting pada hari itu 31 Mei 2011 agenda setting untuk pemberitaan media porsinya jatuh pada si anaknya Amin Rais yang sedang berada di KPU (jl Magelang) sore harinya.

Hari itu kan juga paginya para calon mahasiswa sedang melaksanakan tes SNMPTN yang dilaksanakan di beberapa tempat di Jogja. Ini ibarat kata jadi menu sarapan para wartawan di hari itu, yaitu meliput seputar tes SNMPTN. Sedangkan menu siangnya ada aksi demo Centre For Orangutan Protection di simpang empat kantor pos besar (nol kilometer jogja), beranjak agak siang lagi ada teman-teman dari kaskuser sepeda yang lagi mampir ke Jogja dalam rangkaian keliling Indonesia kalau tidak salah.

Kira-kira seperti itulah jadwal yang harus di cover media Jogja, sehingga yang tampak di Cangkringan, Ponpes Al-Qodir adalah jarang sekali keliatan dari orang media. Kecuali para tukang foto dadakan termasuk saya yang mendokumentasikan Iwan Fals.

Sore harinya setelah rangkaian acara penanaman pohon selesai, saya pun turut untuk mencuri-curi kesempatan untuk dapat masuk ke dalam rumah dimana ditempati oleh Iwan Fals dan kru untuk beristirahat hari itu. Dan kebetulan saya mendapatkan kesempatan itu.

Dan diruang tengah yang cukup besar itu, sama sekali tidak ada teman media yang meminta waktu untuk wawancara, wajar setelah press confrence. Tanya jawab, prosesi simbolis penanaman pohon usai dan semua pulang masing-masing. Kecuali lagi males pulang, dan itu pun ada beberapa orang yang lebih memilih bertahan ketimbang balik (mungkin faktor jarak tempuh)

Menariknya lagi ketika saya berada diruangan itu, ruang agak besar dibelakang saya sudah ada meja tersusun rapi diatasnya juga sudah ada berbagai macam menu makanan untuk kru tentunya. Dan didepan saya ada dua OI dari Surabaya, kemudian ada Ki Agung Ganjur. Kemudian beberapa kru Iwan Fals (mungkin dari Tiga Rambu).

“ntar lead beritanya mau gimana?” Tanya seseorang bertubuh besar, sambil memegang ponsel dan bertanya ke Ki Ageng Ganjur. (saya tidak tahu siapa, yang jelas kru juga)

“sik tak hubungi wawan kompas dulu” sambil mencet-mencet cari nomor hp si mas-mas bertubuh besar tadi (semoga bukan mas Wawan Fotografernya Kompas Jogja, karena dia sudah balik lagi ke Jakarta sekitar dua bulan lalu) walaupun akhirnya saya nggak tahu siapa yang datang dari kompas. Mas bertubuh besar ini pun menghubungi seorang lagi, untuk menawarkan membuat feature entah tentang apa.

“nanti ada yang mau bikin feature bang, jadi sebelum naik panggung ada wawancara dulu bentar” ujar mas besar itu kepada Iwan Fals

Saya mau ikut campur, atau nyamber orang tua ngomong bukanlah hal yang sepantasnya, tetapi lebih pantasnya lagi saya tulis saja😛. Karena toh itu keadaan yang terjadi dilapangan, dan di cek ke media online aja sedikit yang publish. Sedangkan media cetak, mungkin ada beberapa (saya nggak memperhatikan pemberitaan tanggal 1 Juni).

2 thoughts on “Tur Perjalanan Religi Itu bernama Xtrareligi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s