Bulannya Hilang!!!


Gerhana bulan yang merupakan salah satu fenomena alam, yang jarang sekali terjadi. Sudah sepantasnya untuk dinikmati, ditunggu seperti apa fenomena gerhana bulan tersebut. Mungkin menunggu melihat adalah sebuah pilihan, atau lebih baik tidur dibuai oleh mimpi kemudian saat paginya baru kita melihat rekamannya di youtube, atau melihat google yang merubah theme-nya menjadi gerhana bulan.

Kemarin gerhana bulan jatuh pada tanggal 16 Juni 2011, waktunya kira-kira sekitar pukul 1.00 dinihari. Tetapi sayangnya saya tidak begitu memperhatikan jam berapa secara detilnya.  Karena berdasarkan informasi yang beredar, gerhana bulan dapat dilihat dibeberapa tempat di Indonesia, kemudian pada pukul 1 pagi. Tentunya pada cuaca tertentu juga, semuanya berharap agar langit cerah.

Seberapa niat kalian untuk melihat fenomena alam ini? Ah sejujurnya saya sangat mencintai alam, melihat kebesaran Tuhan dari cipatanNya yang bernama alam semesta. Mengapa kita enggan untuk sekedar menengoknya beberapa jam saja, sambil kita mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita.

Foto selengkapnya lihat slideshow

This slideshow requires JavaScript.

Karena begitu besarnya informasi yang beredar, secara tidak langsung saya jadi penasaran untuk melihat seperti apa sih namanya gerhana bulan. Nah saya mau sharing disini dulu deh, nggak lengkap rasanya kalau cerita nggak penting tapi nggak dibagi juga tips-tipsnya.

1. Perhatikan waktu jatuhnya Gerhana Bulan. Karena dengan mengetahui perkiraan jatuhnya Gerhana Bulan kita bisa mempersiapkan apa yang harus dibawa. Dan memastikan pergi atau tidaknya. Kenapa? Bayangkan saja kalau gerhana bulan jatuh pada saat matahari juga masih bersinar? Tentunya gerhana bulan tidak begitu nammpak, mungkin bisa tampak dibelahan bumi yang lain. Maka dari itu lebih baik tidur dirumah ketimbang ngeliat bulan ketutupan.

2. Pikirkan lokasi yang tepat untuk melihat. Nah pastikan kamu memilih lokasi yang sangat nyaman untuk melihat, karena benda-benda angkasa lebih baik dilihat dari tempat yang lebih tinggi, dan jauh dari keramaian. Nah kebetulan saya memilih bukit bintang (bukti patuk) untuk melihat fenomena gerhana bulan kemarin. Walaupun rekan-rekan wartawan foto pada kumpul semua di daerah Prambanan untuk memotret.

3. Apa yang harus dibawa? Nah ini yang paling penting kalau mau melihat fenomena alam yang jaraknya nun jauh disana (bulan). Kebayang nggak? Ngeliat gerhana bulan dengan mata telanjang? Sangat sulit sekali rupanya melihat dengan telanjang mata. Maka dari itu ada baiknya membawa binocular, monocular, atau kalau ada teropong bintang sekalian. Walaupun kalau memang tidak punya, mau gimana lagi ya sudah lihat aja pake mata telanjang.

Yang harus dibawa lainnya adalah dompet! Lengkap beserta idenditas diri, kemudian juga uang yang mencukupi tentunya. Dan jangan lupa ajak teman setidaknya berdua lah untuk ngeliat fenomena beginian, walaupun pada kenyataannya saya sendirian sih. Toh mau gimana lagi? Teman dirumah sudah pada tidur, mau mengajak orang se-keren awe pun bisa saya pastikan nggak tertarik yang beginian (sorry i judge you).

Menuju Bukit Bintang

Sekitar pukul 22.00 malam, saya menyempatkan mampir ketempat mas Indra di daerah Sawit Sari untuk mengambil lensa wide saya yang kemarin dipinjam. Sekalian mainin kucingnya Teteh Hera (Totoro dan Nero nama kucingnya). Nah ngobrol-ngobrol singkat, kok saya malah tertantang untuk motret fenomena alam tersebut, ditambah mas Indra yang memang punya alat lumayan lengkap dengan lensa tele 80-200 f 2.8, tentunya dia punya tele converter 2x. Kamera D70s pun jadi sangat ampuh untuk mendokumentasikan fenomena alam ini.

Usai dari Sawit saya langsung cabut kerumah sekaligus siap-siap untuk berangkat ke bukit bintang. Sebuah tempat yang saya anggap lumayan tinggi dan nyaman untuk melihat gerhana bulan. Mengambil beberapa kebutuhan kamera, tripod dan tentunya nggak lupa bawa jaket karena akhir-akhir ini memang udara Jogja sedang dingin.

Sebenarnya dirumah sedang ada Imam, nah sudah saya coba mengajak dia untuk menemani saya ke bukit bintang untuk nonton gerhana bulan. Eh dianya ogah-ogahan, padahal udah saya bilang kalau saya yang tanggung bensin motor sampe kopinya disana. Ya sekalian dia bawa kamera pun, dia ogah-ogahan. Akhirnya saya memutuskan jalan sendiri.

Semua barang sudah siap ditas kamera, telinga kemudian saya sumbat dengan earphone yang sedang memutarkan radio Swaragama FM. Saya pun tancap gas sendirian ke bukit bintang, sebelumnya mampir ke SPBU dulu buat ngisi bensin. Diperjalanan sambil smsan dengan Imam yang lagi dirumah, eh rupanya dia mau tapi sayangnya saya sudah sampai jalan wonosari. Sudah mau naik ke bukit bintang, sebuah pilihan bodoh kalau saya balik lagi. Walaupun akhirnya tetap Imam urung untuk berangkat sendiri menyusul, jalanan sangat sepi sekali dan kalau tidak berani entah takut dijambret atau apapun lebih baik nggak usah berangkat.

Perjalanan berdasarkan google earth itu 35 menit dari rumah, walaupun kenyataannya sendiri sekitar 45 menit saya habiskan dijalan untuk menuju bukit bintang di daerah Jalan Wonosari.  Tentunya tidak ada pikiran ragu-ragu, atau was-was sekalipun, melewati jalanan yang sepi dengan kecepatan motor yang biasa-biasa saja. Dan saya pun tiba di Bukit Bintang sekitar pukul 23.35, itu sudah duduk nyaman disalah satu warung yang juga ramai dikunjungi orang yang ingin menunggu penampakan si gerhana bulan.

3 Gelas Kopi dan Indomie telor

Datang lebih cepat lebih baik ketimbang ketinggalan moment, spend time lah sedikit sambil menikmati hembusan udara dingin Jogja dari ketinggian, ditemani kopi panas yang menjadi lebih dingin lebih cepat. Saya datang sendiri, langsung menuju salah satu warung yang sudah ramai tetapi masih ada tempat yang kosong. Cukup untuk duduk berempat, tetapi saya duduk sendiri.

Terlalu egois saya memang tidak mengajak teman, tetapi tidak apa-apa memang. Daripada merepotkan melibatkan orang lain. Saya sangat tidak suka kalau dianggap “merepotkan” dalam arti sebenarnya. Maka dari itu saya datang sendiri, kemudian melihat-lihat gemerlap bintang bertaburan diatas kota Jogja yang juga tak kalah cantik hamparan lampu-lampu.

Sebuah pemandangan malam yang indah dari bukit bintang, jujur ini pertama kalinya saya kesini. Tentunya sendirian, oke saya langsung nyamperin mas yang jualan. Untuk memesan kopi hitam panas juga mie goring telurnya. Lumayan makanan untuk menjaga kehangatan badan, tentu agar perut tidak kosong.

Dari pukul 23.35 untuk menunggu pukul 01.00 itu waktu yang lumayan lama, tentunya kalau saya mau tidur pun mungkin bisa tidur diwarung itu. Tetapi karena sudah tidur siang, saya jadi lebih siap untuk begadang semalam suntuk tentunya. Sambil menunggu semalam suntuk saya melepaskan beberapa ratus frame untuk mengambil gambar lampu-lampu kota dari bukit patuk, tepatnya dari tempat saya duduk di warung itu.

Gini doang ya gerhana bulan?

“lah ini gerhana bulannya sudah selesai?” celetuk salah seorang yang berada didekat saya. Kalau dirasa-rasa orang yang datang kesini memang sama sekali tidak menikmati fenomena gerhana bulan ini, dari mulai menutup, ketutupan yang lamanya minta ampun dan sampai terbuka lagi (mendekati subuh).

Sebenarnya ini proses yang cukup lama, karena gelas kopi yang ketiga saya habiskan sambil memotret fenomena gerhana bulan ini. Agar risih juga denger orang-orang yang nyeletuk gitu. Kemudian tiba-tiba ngeloyor pergi, saya rasa sih orang kayak gitu mending nungguin dari depan rumah atau kost terus ngelihat habis itu masuk lagi. Nggak perlu spend time untuk ke bukit bintang.

Ah lucu juga ngeliat orang-orang satu persatu pergi meninggalkan tempat ini, lama-lama menjadi sepi. Padahal gerhana bulan saat itu sedang memerah, sedang saat puncaknya. Tetapi mengapa orang-orang disini malah pulang. Mungkin karena jam sudah menunjukkan pukul 3.00 pagi.

Sayangnya tidak ada yang menyewakan atau fasilitas seperti teropong yang kemudian di tayangkan live disana, maklum teknologinya jarang yang memiliki secara pribadi. Karena terhitung mahal sekali harganya. Setidaknya banyak orang yang tertarik untuk melihat secara mata telanjang.

Kehangatan Matahari Terbit

Pernahkah kalian merasakan betapa hangat terpaan mentari pagi yang masih malu-malu memberikan kehangatannya ke kalian? Yak saya setelah menunggu si gerhana bulan. Sekalian saja melihat matahari terbit, berbekal informasi beberapa jam sebelum berangkat. Tepat di tempatnya mas Indra dapat informasi kalau mau melihat matahari terbit datang saja ke tower didarah Gunung Kidul, sekitar 15 menit dari bukit patuk.

Nah dari jalan wonosari yang naik itu, ada perempatan yang kalau lurus kearah Wonosari maka pilihlah jalan ke kiri. Kemudian ikuti saja terus jalannya, maklum jalannya kecil cukup satu truk dan satu motor. Tetapi sepanjang jalan cukup mulus sekali jalannya. Sebenarnya pagi itu sangat indah sekali, merapi dengan gagah keliatan, dan keliatan juga gunung Sindoro yang juga tak kalah gagah keliatan pagi itu.

Wajar saja mas Indra mewanto-wanto (wanti-wanti) kalau menuju ketempat ini (pemancar, tower) agar membawa teman. Oh saya baru mudeng karena tempatnya tidak seperti bukit patuk yang jadi tempat nongkrong atau jadi tempat wisata. Ini masih perkampungan toh, wajar saja sepi dan pagi-pagi buta saya kesana pun itu lampu jalanan tidak ada. Beruntung saya kesana sendiri dan matahari sudah mulai naik, jadi tidak begitu gelap sekali.

Lokasinya cukup mudah, karena ditempat ini rupanya tempat pemancar entah televisi, radio atau operator seluler. Karena tempat ini banyak sekali tower-towernya, sekitar 6-7 tower dengan jarak tidak jauh.

Setelah saya selesai mengambil gambar kegagahan merapi dipagi hari, sambil olahraga lari-lari kecil. Saya pun memutuskan untuk segera pulang ke Jogja, keburu matahari panas dan baterai kamera saya habis. Untung disini saya sempatkan mengambil scene untuk timelaps saya, sekitar 400an frame sebenarnya saya pulang juga karena baterai kamera sudah kritis (4%) dan saya lapar.

Saya turun dari tempat indah ini pukul 06.40 pagi dan sudah tiba di ringroad Wonosari-Jogja sekitar pukul 07.15. Waktu yang indah dinikmati sendiri, kemudian terekam dalam gambar untuk dinikmati sendiri pula. Setelahnya? Jangan ditanya, karena saya menggelepar sukses sampai siang harinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s