Berlibur bersama ke Malang


Kita pindahan kesini ya kawan -> fotodeka.com
“Dimana kaki dipijak, disitu langit dijunjung” kira-kira seperti itulah pepatah yang benar juga. Dimana kita berada disitulah kita harus menyesuaikan keadaan sekitarnya. Memang tidak ada sambungannya dengan tulisan kali ini, sudah selayaknya saya untuk menginjakkan kaki dibelahan bumi Indonesia yang lain. Setidaknya pengalaman kemarin saya berhasil ngerepotin si Om dan keluarga untuk jalan-jalan di kota Apel, kota adem, yaitu kota Malang.

Rumah saya Rumah Singgah

Berawal dari keluarga Om berkunjung tugas kantor di Jogja dan menginap beberapa hari dirumah. Rasa kangen saya mendadak timbul ingin pulang dan bertemu keluarga dirumah. Padahal baru adeknya si ayah nih yang datang sama keluarganya, saya sudah cukup dekat dengan si Om. Dari jaman bujangan, sampai sekarang. Dari jaman susah, sampai jaman si om punya anak tiga. Yah keluarga sudah selayaknya saling merepotkan dan nyaman. Sama halnya saya, rumah saya terbuka untuk menerima keluarga saya, ataupun sahabat karib kalau ada yang ke Jogja. Silahkan menginap dirumah saya, anggap saja bukan rumah sendiri (yaiyalah rumah saya :P). Dan ini yang pertama kali si Om membawa full team kerumah, minus anak paling tua karena memang belakangan disamperin di Malang boy. Sebelum-sebelumya si Om, kalau ada dinas di Jogja ya mampir kerumah atau saya suruh nginap dirumah aja daripada bayar hotel. Hahaha… saya senang rumah saya jadi selalu ramai…

Tidak ada salahnya ketika saya senang rumah saya ramai, selain hati senang. Rumah jadi lebih aman karena banyak orang didalam. Tidak sedikit teman sekampus yang sudah hapal rumah saya, walaupun masih terkadang saya memang semuanya tahu. Tetapi cukup mudah untuk dicari, dan tidak blusukan (masuk ke jalan kecil). Dari jalan utama tinggal belok taraa… kalian dapat menemukan rumah saya mungil ditengah kosan putri yang tidak pernah kosong oleh mahasiswi yang cantik-cantik *curhat*. Sayangnya belum ada yang pernah check-in 4sq dirumah, jadi belum tampak di jejaring sosial. Tetapi untungnya saya sudah lebih dahulu mengunggah foto saya di panoramio yang mempunyai fitur geotag. Singgahlah teman-teman kalau ada di Jogja kerumah saya, anggap saja bukan rumah sendiri tidur di ruang tamu, ruang tipi, ataupun didapur itu pilihan anda. Asal tidak menggeser tahta kamar saya. Hahaha.. #egois juga saya.

Malang oh Malang

Sebelum saya berangkat dari Jogja ke Malang bersama si Om dan kru, saya pun mencarikan info biro perjalanan alias travel. Dengan maksud sih biar enak nggak ribet mencari kendaraan lain, dan ketika sampai malang bisa sampai nyaman ditempat tujuan. Kira-kira seperti itu, nah berhubung si Om juga bawa pasukan kecil-kecil dirasa beliau ribet kalau naik kereta api tut tut tut untuk pergi ke Malang.  Memang ketika berlibur bersama keluarga seperti om saya, harus pandai-pandai dan cekatan membawa dan mengurus barang bawaan yang seabrek. Maklum ada anaknya si om yang masih balita cerewet, hahaha… Makanya si Om memilih naik travel ke Malang ketimbang naik kereta api.

Cari-cari informasi keberangkatan travel, yah seperti biasa kalah bukan musim mudik lebaran. Jogja-Malang dikisaran harga 110-120 ribu rupiah sudah termasuk makan lho bro, di warung padang Sederhana entah didaerah mana. Saya lupa nge-tag pake ponsel android saya. Yang jelas tidak jauh dari tempat biasanya travel berhenti untuk istirahat makan juga sih. Memang harganya sebanding dengan tarikan gas supirnya yang bikin penumpang dag dig dug ser, kalau nggak bias naik travel ya malah nggak bisa tidur.

Travel jalan begitu cepat, membuat jantung berdegup kencang.

Risau hati tak bisa tidur

Terlalu muda untuk merasakan kecelakaan

Dan kemudian mati bersama travel

Perjalanan Jogja ke Malang, sekitar 12 jam kurang sedikit. Karena ketika saya berangkat dari Jogja pukul 8 pagi, dan baru sampai hampir pukul 8 malam juga di Malang. Berhubung sudah cukup malam, om saya pun langsung mengarahkan kami untuk masuk ke hotel Sahid Montana, secara terdaftar sebagai group hotel Sahid. Lebih tepatnya dibawah bendera Hotel Sahid juga. Dengan harapan fasilitasnya sesuai dengan harganya. Sayangnya waktu yang sudah tak mungkin untuk mencari penginapan yang lebih “miring” pun, kami sedikit terpaksa menginap di hotel sekelas hampir bintang tiga (berarti belum kelas hotel berbintang).

Om saya turun, membayar pelunasan travel. Saya pun turut membantu menurunkan barang-barangnya si Om, maklum si tante sudah repot ngangkat si adek kecil yang sudah tidur. Kami pun langsung menuju lobby hotel, sekaligus mengurus administrasi tentunya memilih kamar, saya pun intip-intip room rate untuk hotel yang tergolong oke ini. Yah lumayan bikin kere, kalau mau backpacker sangat tidak saya sarankan kesini. Lah disini buat orang yang berduit, maklum semalamnya minimal anda harus merogoh kocek 400ribu untuk semalam, itu kamar standar lho. Berhubung kami banyak, dan harus menggunakan deluxe tentu sedikit lebih dalam merogoh kocek dan harus extra bed karena ada saya yang ngerepotin ikut liburannya si Om. Makin dalam merogoh kocek untuk deluxe room 650ribu + 120 extrabed, semoga datanya tidak salah karena saya lupa mengambil list room rate.

“hotel berbintang kok kayak gini” gerutu si om sambil mencet remot tipi berharap ada channel yang gambarnya bening. “iya nih om, teleponnya aja nggak nyambung” saya pun habis mengangkat telepon dikamar hotel itu yang nggak bisa dipake menghubungi room service, etc. Saya pun ngacir ke front office, “mas kok teleponnya rusak ya?”. Masnya pun menimpali, “wah mas itu sedang dalam perbaikan, sudah dua hari ini dikerjakan. Mungkin besok sudah selesai”. Ya sudah saya pikir daripada berharap nelepon makan malam dikamar hotel. Saya, si om dan tiya (anaknya om yang kedua) pada ngeloyor ke resto-nya untuk makan malam. Yah ini makan malam yang sebenarnya bikin saya kere, berhubung saya lagi jadi parasitnya si om akhirnya saya bisa makan malam di restoran hotel. *sejujurnya mending ke angkringan deh kalau ada*

Ya sudah semoga besok malam kita sudah tidak menginjakan kaki di hotel ini lagi, kelewat mahal dan nggak sesuai servis juga menurut saya. Lah? wong mau makan aja harus turun ke restonya. Saya dan si om pun sepakat untuk check-out ke esokan harinya, yah dengan berbekal internet saya pun mencari informasi telepon nomor taksi, kemudian penginapan yang agak miring. Memang hotel ini kelewatan kok, yang nggak habis pikir saya dan si om adalah. weekdays dengan weekend, harganya lebih murah weekend. Mungkin ini peraturan baru dari hotel ini, agar orang menginap pada saat weekend. *dalam hati sih menggerutu, kok ini weekend malah murah. aneh*

Keesokan harinya pun kami berlima memutuskan check-out, dari hotel itu. Dan menuju salah satu hotel yang tergolong murah, dengan fasilitas yang tidak kalah baiknya. Kami pun menuju ke hotel Trio Indah I, terletak dijalur pusat kota Malang. Kalau yang disini jelas, di front-office ada selebaran yang mencantumkan roomrates hotel itu. Mungkin yang di hotel Sahid Montana kemarin lagi habis kali selebarannya. Yah yang ini mah habisnya cuma dikisaran 500ribuan rupiah saja, dengan kamar yang lumayan lega. Kira-kira kamar deluxe cukup untuk koprol, atau mungkin breakdance. Nggak kebayang kalau kamar yang trio in suite, mungkin cukup untuk tim futsal dikampus.

Dari hotel berbintang kecil, sampai sekelas hotel melati pun dijabanin. Beruntung saat kemarin sudah selesai masanya liburan sekolah, tentu sangat mudah untuk booking atau reservation kamar. Dan berakhir menginap dikosan mas Adit, yak dia anak sulung si om yang lagi magang kerja di Malang. Beruntung pemilik kost berbaik hati membolehkan kami berlima untuk menyewa kamar kost yang kosong, hanya 50ribu permalam dengan fasilitas kost-kostan. Tentunya kamar mandi luar, dan kamar kosongan sih. Cukup untuk mengistirahatkan badan, untungnya daerah ini termasuk ramai karena dekat dengan pasar tradisional.

Liburan singkat seperti ini memang tidak terasa, kalau tidak ada rencana sebelumnya ingin mengunjungi wisata apa saja? Malang luas dan sayang sekali kalau tidak dijelajahi lagi. Mungkin kalau ada kesempatan dilain waktu, rasanya perjalanan 3 hari akan molor jadi seminggu minimal. Tentunya dengan niat backpacker, dan ngerepotin teman-teman di Malang. Untuk ngerepotin tempat tinggalnya, kalian pun kalau mau ke Jogja dan ngerepotin saya pun nggak apa kok. Selama saya ada di Jogja dan bisa saya bantu.

2 thoughts on “Berlibur bersama ke Malang

  1. Saran aja pak dwi, kalo ke Malang lagi coba menginap di hotel Kartika Graha. Baru renovasi, harga terjangkau, & suasananya cukup nyaman…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s