Merayakan dan Meramaikan #17an


Sebenarnya sudah cukup lama ingin menulis kembali, akhirnya bisa menyempatkan menulis disini. Kembali sedikit berbagi disini tentang berbagai arti, kali ini berbagi arti #17an menurut saya sendiri. Setidaknya mengartikan jujur dan polos #17an menurut saya pribadi.

#17an menurut saya kalau kecil dulu, bakalan nggak ketinggalan ikut lomba di kampung saya. Kegiatan ini terhitung sejak menginjakan kaki di Sekolah Dasar saya paling demen ikut rame-rame acara #17an (tujuh belasan). Lah? gimana nggak mau ikut lomba, disuruh sama wali kelas di sekolah je? Tahu kan rasanya jadi anak kecil jaman SD. Suka nggak suka ya kudu melu, pokoknya meramaikan kegiatan yang diadakan setahun sekali untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia ceritanya.

Kalau ditanya lomba #17an yang paling demen diikuti dulu apa ya? *mikir* *elus-elus jenggot* | Yang jelas sih kalau dulu ikut lomba yang nggak kotor-kotor gitu deh. Habis nyali saya nggak gede-gede amat untuk ikut lomba cabut koin dibuah yang berlumur oli (tahu kan bentuknya gimana?), atau mungkin mainan panjat pinang (yang ini mesti familiar lah).  Dan sejauh sampai saya beranjak dewasa pun belum pernah nyentuh lomba cabut koin dan panjat pinang. Lah? tampaknya saya cemen juga untuk ikut lomba #17an, paling mentok dulu sih ikutannya lomba makan kelereng sama gigit kerupuk tuh paling demen. Nah kira-kira lomba #17an yang ada kegiatan makan kelereng dan gigit kerupuk itu perlu ditangkep tuh penyelenggaranya, karena dapat menyebabkan usus buntu, *lah namanya juga makan kelereng*

#17an tidak pernah terlepas dari ingatan saya. Hanya di Indonesia semuanya ini terjadi, kegiatan beramai-ramai dilapangan. Acara hiburan musik, lomba-lomba. *lah kan yang peringatan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus Indonesia* nggak tahu negara lain yang ada acara #17an.

Nah sudah segede dosa gini rasanya aneh kalau masih ikutan lomba #17an makan kelereng atau gigit kerupuk. Karena tidak ada kategori dewasa pada dua cabang lomba tersebut. Sedangkan yang ada kategori dewasa sendiri saya malah keder nggak berani buat ikut. Maka dari itu saya mendaulat teman saya buat meng-cover lagu Pancasila Rumah Kita, sebuah lagu yang diwariskan Franky Sahilatua kepada bangsa ini. Tentunya dalam proyek rame-rame bersama malesbanget.com dan id.optimis, yang masuk dalam rangkaian #upcarabendera digital.

Memang tidak ada salahnya ikut meramaikan #17an dengan cara yang berbeda, setidaknya jadi salah satu partisipan yang masih ingat tentang hari kemerdekaan bangsa ini. Kalau kita tidak menghargai bangsanya sendiri, mau siapa lagi yang mengargai bangsanya sendiri? Maka dari itu setelah saya lihat thumblr mas Pungkas, terbsersit saya untuk mengeksekusi kebetulan saya di Samarinda dan rasanya sayang kalau tidak memanfaatkan teman yang punya talenta bagus. Walaupun saya selalu terkendala komputer untuk tahap post-production akhirnya saya menyita net-book kakak saya untuk dipakai converting video tanpa editing yang sudah memakan waktu hampir dua jam.

Tentunya #17an kali ini menjadi sangat bermakna dan sangar sekali, tanpa ba-bi-bu convert file FullHD dengan sebuah net-book imut nan manis. Setelah itu buru-buru mengirimkan link-nya ke para penggagas acara tersebut. bat bet bat bet… Kira-kira secepat speedy mengirimkan video berdimensi 170MB yang bisa ditinggal tidur sampai koprol pun, rasanya #17an ini pun jadi berbeda. Silahkan meng-klik video dibawah ini untuk menikmati karya Franky Sahilatua yang dibawakan kembali oleh teman saya Dedi Priansyah dan alunan gitar Akmal Ferdhana.

Sedangkan untuk versi kompilasi-nya sendiri bisa dilihat disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s