Ceritanya Ngurus KTP dan SIM [perpanjangan]


Rasa-rasanya nggak terasa aja deh, kemarin datang kesini pake acara mabok darat. Alhasil daku ditandu keluar lapangan untuk membatalkan puasa *halah* *padahal cuma jalan darat*. Nah kan kemarin mudik itu daku ndak biasanya naik taksi argo itu yang di Bandara, tapi nyobain namanya kalau di Jawa itu minibus travel gitu lho, pada tahu kan?

Nah daku naik itu, semacam travel yang punya pool di bandara Sepinggan, Balikpapan *lebih murah  jew*, coba deh naik taksi argo itu kalau nggak salah 150ribu *kalau ingatan saya meleset paling 200ribu-an lah*. Pada pengen tahu apaan nggak? Itu lho namanya Kangoroo Premium *kangguru premium* *padahal minumnya solar*. Bagi daku yang mencari murah dan hemat, makanya daku memilih angkutan ini. Lah cuma bayar 100ribu aja sudah bisa sampai Samarinda lho, dapat tempat duduk nyaman, ada tipi layar sedeng *kalau gede nggak muat di mobil*, mungkin bisa rikuest film kali. Yang jelas diputerin film selama perjalanan, sama musik klasik bikin ngantuk. *makanya tengah perjalanan daku tertidur lelap* kemudian setelahnya jackpot muntah karena nggak mampu menahan lagi. *sedang nggak fit atau supirnya yang lagi nggak mood kayaknya*.

Hebat sih yang punya orang sipit *nyipitin mata*, mungkin doi mau ngadaptasi dengan di Bandung tuh ada Cipaganti? Kalau tau cipaganti travel nah kira-kira gitulah, ada travel dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandung. Dan itu ada setiap jamnya lho, itu diadaptasi di Bandara Sepinggan ke Samarinda. Walaupun baru saja beroperasi mungkin sekitar setahun ini, dengan tagline “satu orang berangkat” daku rasa ini service yang belum ada disini *tunjuk peta Kaltim*. Nah si Kangoroo ini dia, pokoknya nyaman. Dan berharaplah kamu dapat supir yang enak dan mood-nya bagus. Agar tidak cepat muntah seperti daku.

Lah udah cerita Kangoroo-nya? Ya udahlah, kalau satu tulisan penuh si travel itu ntar daku dapat apa? *ngarep dapat job*. Seperti biasa sih mudik Ramadhan kali ini tidak ada bedanya dengan yang sudah sudah. Mau diceritain semua? *skip skip aja yah* *hahaha*

Nah kali ini ada kegiatan rutin lho daku dirumah, jadi ojek mbak daku yang sudah kerja. Jadi mau tidak mau daku mengantarkan daku ke kantornya doi kerja. Hal ini demi menciptakan keseimbangan transportasi daku dirumah, kalau mau jalan biar nggak bingung mau pake apa supaya bisa sampai kesana. “Tak ada motor abang bingung, nggak ada kamu abang lebih bingung” ß yang ini pepatah plesetan banget, lebih tepatnya gombal banget.

Nah alhasil daku jadi tukang ojek hampir seminggu lho, tapi ini demi untuk melancarkan kegiatanku juga disini. Maklum umur daku semakin menua dan tampaknya ada beberapa remeh temeh yang harus diurus. *remeh temeh itu KTP dan SIM C* Nah ini namanya birokrasi lho kawan, dan wajib diurus bila menginjakan kaki di bumi Nusantara *lebai* *lempar batu*

Nah daku mempergunakan motor pinjaman itu dengan se-efisen dan se-efektif mungkin, ibarat pepatah “sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui”. Kalau kata pepatah gitu, kalau kata saya sekali jalan nganter mbak sekalian ngurus administrasi untuk itu.

Dimulailah #baladaKTP dihari di segmen pertama ini. Nah sebenarnya bingung nggak sih ngurus KTP itu? *tahu KTP nggak? Itu lho Kartu Tanda Penduduk* nah ini pertama kali ngurus sendiri, setelah pertama dapat karena diuruskan pak RT yang baik hati. *semoga jadi RT seumur hidup*, mulailah mengurus pengantar RT buat ke kantor Kelurahan *karang asam ilir*, kemudian dari situ dikasih surat lagi tuh buat ke kantor kecamatan *sungai kunjang*. Nah rupanya sistem atau urutan pembuatan kartu tanda penduduk ini mudah lho, Cuma nyiapin surat pengantar RT, kemudian fotocopy kartu keluarga, dan jangan lupa bawa KTP yang asli *eh daku perpanjangan dink*

Kalau dulu sih katanya ada percaloan gitu lho buat ngurus KTP biar lebih cepat dan nyaman, kalau ada yang regular berarti ada yang kilat juga dong? *dikira jasa pengiriman barang* Nah rupanya dengan membersihkan sampai di gratiskan pembuatan KTP ini jadi nggak yang mau mencaloin lagi. Kecuali jasa ngurus alias jasa ngiter dari Kelurahan ke Kecamatan, lah daripada panas-panasan mending bayar orang buat ngurus berkas terus tinggal foto deh di Kecamatan. *biasanya nyuruh pak RT kalau nggak sibuk bisa*

Nah disambi ke kantor Kelurahan itu deket Puskesmas lho, kemudian saya mampir deh buat tanya ngurus Surat Keterangan Sehat. *padahal saya ndak merokok lho sekarang* *blablabla* nah berdasarkan kata pegawainya disuruh datang jam 8an itu sudah datang pegawainya. Baiklah saya ke Puskesmas ke-esokan paginya, karena surat keterangan sehat itu salah satu berkas buat ngurus perpanjang SIM *Surat Ijin Mengemudi* *Mengemudikan apa saja asal bukan Kapal*

Nah urusan KTP kan gampang tuh? Sekarang ngurus lagi ke kantor Polisi. Ngurus SIM lho ini, bukan mau ngambil motor tilangan. Hahaha…  #baladaSIM itu paling seru sepertinya, mungkin karena yang ini bayar yang tadi KTP nggak bayar.

Perpanjangan SIM itu perlu kalian siapkan pas foto yang ganteng/cantik ukuran 3×4, kemudian surat keterangan sehat *walaupun waktu ngurus dikau lagi pilek demam*, setelah itu bawa SIM yang lama. Datang aja deh ke kantor polisi terdekat *yang menerima ngurus beginian*, nah tapi cerita waktu di Puskesmas ini lupa lho. Gini ceritanya, daku datang pukul 8.00 *hebat pas banget, sebenarnya kira-kira segitu*. Eh dibawah sudah ramai, daku naik keatas mau ke bagian Tata Usaha buat ngambil ngambil formulir atau apalah. Karena tidak bisa disebut formulir karena dikasih selembar kertas kecil bertuliskan, tinggi, berat badan, golongan darah.

Ya sudah kertas kecil itu saya ambil, sebelumnya ditanya gini. “golongan darahnya apa?” kata si pegawai puskesmas yang ngelayanin, “saya B mbak” jawab saya, “bisa lihat kartu golongan darahnya?” tanya balik, “yew, nggak bawa je?” gimana?, “ya sudah, nanti mas tes di lab aja dibawah” jawabnya lagi. Ya sudah akhirnya daku ambil dan ngeloyor kebawah bareng ada tadi bapak yang ngantri duluan. Eh tadi daku sudah datang duluan tapi ada yang nyerobot antrian langsung masuk ke ruangan Tata Usaha itu lho, wih daku mau nyeletuk disitu tapi puasa. Setidaknya menahan emosi lah dikit, ditulis di blog aja. Memang sialan lah ndak ngerti ngantri juga nih orang. *lempar bak sampah*

Turun ke lab Cuma buat test darah, nentukan darahnya apaan. Dan bayar 6ribu rupiah lho? Murah meriah tapi rasa-rasanya daku mending bawa kartu golongan darah atau kartu donor buat ngeyakinin orang TU Puskesmas ini.  Nggak apa-apa orang sini kayaknya bego apa bodoh ya? Padahal di KTP itu ada kolom golongan darah lho. Kok pake ditanya lagi sama orang TU ini? *eh daku lupa KTP daku kolom golongan darahnya dikosongin dari Kecamatan* *yang goblok memang petugas Kecamatan memang*

Ya sudah nggak apa-apalah bayar 6ribu buat tes memastikan golongan darah daku nggak berubah, makanya pake tes segala. Nah itu cerita rangkaian ngurus perpanjangan SIM tuh, ribetnya lagi di namanya Puskesmas itu di dokter jaganya canggih banget sudah pake Blackberry lho? Sambil njagain anaknya diruang kerjanya *sebenarnya nggak ngerti profesinya, baby sitter atau dokter?*

Alhasil daku agak kesel juga nih sama Puskesmas, minta di smash dah ye? Nah fungsi dari Surat Keterangan Sehat ini hanya 3 bulan saja lho, jadi jaraknya singkat banget. Walaupun untuk membuat surat keterangan sehat ini harus membayar 10ribu rupiah. Ditulis dengan mesin ketik, yang bunyinya kesana kemari nyaringnya. Dan ngenesnya di ruang Tata Usaha itu ada komputer dan printer yang mangkrak entah mati atau nggak ngerti pakeknya.

Sekarang cerita #nguruSIM, setelah mendayung motor ke kantor mbak daku. Daku pun tancap gas ke kantor polisi itu. Weh pagi-pagi sudah ramai daku kirain ada apa, rupanya daku masuk pada jam sebelum apel pagi. Betapa bodohnya daku datang pagi-pagi *buta* ke kantor polisi, sebenarnya waktu masuk pintu gerbang sendiri sudah bingung lho. *kok dijagain polisi militer*, rupanya belum buka toh layanan masyarakatnya ituh.

Ya akhirnya daku pergi kebelakang naroh motor *baca : parker motor*, setelah itu agak tengsin kok masih sepi banget nggak ada orang-orang *selain orang kantor polisi*. Ya sudah daku nunggu aja dikantor apa itu namanya lupa, yang jelas dekat parkiran saja. Nggak enak kalau nunggu di tempat tunggu layanan SIM, karena itu tempatnya tepat dilapangan diadakannya apel pagi.

Ya sudah daku nunggu dibelakang *lama, dan lama*. Lah daku sampai disana jam 8 kurang dikit, sedangkan apel pagi kelarnya jam 8.30an. Kemudian layanan itu bukanya 8.45an. Ya lumayan sih itungannya nunggu setengah jam lebih dikit. Tapi ini sayangnya nunggu karena kepagian, tapi daripada daku pulang kerumah dan balik lagi ke kantor polisi? So its wasting time lagi lho.

Lebih baik menunggu sedikit lama di Kantor Polisi. Di segmen #NguruSIM ini daku mau cerita lebih detil dikit deh, tapi ndak tahu juga detilnya yang mana? *ngikik* *minta dilempar ban*

Lah di kantor polisi ini ngurus surat sehat aja udah bayar 16ribu, *test darah sama selembar kertas*, daku lupa kalau surat sehat yang dekat kantor polisi ini ngurusnya bayar berapa duit. Yang jelas didekat kantor polisi ini ada layanan sedikit terintegrasi lah, jadi kalau perlu surat keterangan sehat bisa berjalan kaki sedikit ada praktek dokter. *mungkin khusus membuatkan surat keterangan sehat ini*

Karena datang pagi, daku pun mengantri cepat-cepat. Kira-kira daku diurutan ke 10 lah. Nah urutan untuk di Kantor Polisi ini agak panjang sebenarnya, Kalian harus menyiapkan pas foto 3×4 warna klo tidak salah, kemudian surat keterangan sehat itu, kemudian bawa SIM lama, jangan lupa ngantri ambil formulir sekaligus bayar di loket di kantor ituh.

Kenapa sih ngantri pagi-pagi? Ya harapannya biar dapat nomor antrian cepat, dan cepat selesai juga. Tetapi kali ini daku nggak puas dan bakal daku habisin disini sengaja. Terserah mau daku dicap pencemaran nama baik atau apa? Daku kan masyarakat dan masyarakat boleh mengeluh sama pelayanan pengurusan SIM yang masih pake calo. #eh *maaf kok langsung klimaks*

Gini ceritanya lho, kan daku tadi urutan ke 10an tuh buat bayar biaya ngurus perpanjangan SIM C seharga 75ribu. Kemudian dapat blangko pembayaran, setelah itu daku masukkan ke loket pengambilan formulir semacam daftar ulang. Nah ngisi formulir ini kan harus cepat-cepat juga karena pada saat ngasih map berisi surat sehat, foto dan SIM lama itu belum dapat nomor urut untuk foto. *nomor urut foto SIM itu menentukan lama dan cepatnya*

Dari kecepatan daku nulis formulir daftar ulang buat perpanjang SIM itu sih kira-kira daku nggak jauh-jauh dari 10-15 lah, itu berdasarkan daku mengantri bayar administrasi yang 75ribu itu. Tetapi setelah daku nyetor semua berkas alhasil daku dipanggil dan dapat nomor 24? *agak shocked* ya sudah daku abaikan saja nomornya, berharap manggilnya nggak lama antar nomor itu.

*masih kepikiran* bingung juga tadi ngantri udah cepet-cepet tapi menohok kok dapat antrian foto nomor 24? Nah disinilah praktek seperti pengiriman barang itu masih terjadi. Mengapa? Anggap saja ada paket kilat dan regular. Yang mengantri itu adalah regular yang nggak ngantri itu kilat *ndak mungkin kalian nggak ngerti, pasti ngerti lah*

Seneng juga sih bisa ikut bayar paket reguler yang 75ribu itu, kalau kilat hampir dua kali lebih mahal. Tentunya nggak pake ngantri lama untuk foto dan ambil hasil SIMnya. Mungkin yang pada ambil paket kilat ngurus SIM itu orang yang super duper sibuk kali ya? Jadi nggak sempet ngantri. Nah tetapi setelah daku menunggu bermenit-menit hampir berjam-jam disana daku coba mengamati ciri khas masyarakat yang datang kesana.

Coba deh dilihat para pengguna paket kilat itu keliatan kok, dari daku nomor 24 rasa-rasanya aneh tiba-tiba ada yang langsung nongol diantrian foto tanpa sebelumnya ke loket 3 dan 4, untuk verifikasi berkas dan pengambilan nomor antrian. Mungkin hal kecil ini yang digunakan teman-teman oknum untuk mencari sedikit pencerahan dalam pengurusan SIM *apapun jenisnya* *tersedia jasa* Kayak siluman memang yang ngambil paket kilat. *sayang lupa motret* *kamera ponsel jelek dan nggak berani ngeluarin DSLR* nggak kebayang kalau daku motret pake kamera gede di kandang macan *baca kantor Polisi* makin runyam urusan.

Yang paling kentara ada dua orang pengguna paket kilat hari itu (rabu, 24/08). Ada satu mbak-mbak dengan dandanan menor kemana-mana *make-up tebel pol lho* beserta high heels *kui sing tumitnya tinggi*, beserta mbak-mbak biasa tapi kecenya Subhanallah *nyesel lupa kenalan sama mbaknya*. Analisa daku mereka mengurus SIM A atau C, karena tidak mungkin secantik itu semua pada ngurus SIM B *perkasa dong doi?* Semoga analisa saya tidak meleset, yang jelas daku yakin kalau mereka pengguna paket kilat tersebut. Karena nggak pake ngantri bayar di loket BRI disitu, dan ngantri nyerahin berkas di loket 3-4.

Yah kira-kira begitu lah rempongnya ngurus berkas identitas diri, yang harus dilakoni 5 tahun sekali. Dan wajib kawan, semoga jadi pembelarajan yang manfaat tentang disiplin dan mengantri.

Bonus foto lho

This slideshow requires JavaScript.

Tempat kejadian cerita Kantor Kecamatan Sungai Kunjang, Kantor Keluaran Karang Asam, Puskesmas Karang Asam, Kantor Polisi Samarinda (Poltabes)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s