Sepedaan sore di Samarinda


Kemarin sewaktu pulang ke kampung halaman Samarinda, saya menyempatkan untuk jalan-jalan menikmati jalanan kota Tepian. Dengan berbekal sepeda Jepang dengan merk National yang sudah lebih dari tiga tahun mangkrak digudang. Tentunya seminggu sebelumnya mutar-mutar ke pasar nyari ban luar dan dalam yang cocok. Dan akhirnya dapat juga ban luar dan dalam, maklum nyari yang banyak pilihannya dan pas ukuranya agak sulit. Dan sayang juga kalau pakai ban asli, (sebenarnya eman) karena ban asli nggak dijual lah di Indonesia.

Sebenarnya saya mau cerita apaan ya? cerita sepeda Jepang jadul punya Ayah saya apa cerita jalan-jalannya? wah daripada mulai meracau, coba saya urut-urut dulu. Maklum menulis yang selang kejadiannya agak lama perlu diingat-ingat sistematisnya. Hehehe… Yang jelas Kamis(08/09), saya iseng sepedaan aja, dengan niat awal sih nyari tukang stel pelek sepeda yang bisa ditunggu. Karena untuk yang khusus sepeda memang sudah agak jarang, walaupun mampir ke tukang stel pelek motor juga bisa. Yah milih dong saya? berbagi rejeki ke bengkel sepeda kan nggak apa-apa toh? maka dari itu saya gowes dari rumah menuju ke Teluk Lerong dengan sepeda. Yah kira-kira 15 menit kurang sampai lah, dan saya ngerasa kok Samarinda kecil juga? masak dari rumah ke Teluk Lerong cuma segitu? toh itu sudah sampai dan nggak ngoyo(maksa).
Alhasil saya mampirlah ke bengkel sepeda itu, dan saya lupa tanya siapa nama bapaknya. Lebih tepatnya sudah saya tweet, tapi males cek timeline twitter untuk memastikan namanya. Hehehe… Bengkel sepeda yang berukuran kecil ini, terletak tepat dipinggir jalan, bersebelahan dengan apotik dan tidak jauh ada tempat hiburan (karaoke).

Biaya stel pelek pun 20ribu per pelek, dan saya stel depan belakang, maklum sudah nggak beres lama saya stel aja sekalian dua-duanya. Terus iseng tanya ada bel sepeda yang kring-kring gitu? “ada mas, mau yang mana? jawab si anak buah. “yang murah aja mas” jawab saya. Si anak buah pak bos ini pun kedalam langsung mengambilkan sekaligus memasangkan disepeda saya, tambah bel kring-kring itu 10ribu rupiah saja. Total sore itu di bengkel sepeda 50ribu rupiah, semua beres saya pun pergi dari bengkel kecil itu. Kemudian iseng untuk membelokan stang sepeda kearah kota! yah lebih tepatnya ke salah satu digital printing bernama Restu Ibu. Karena saya tanya di @SamarindaUpdate, “tempat digital printing yang murah dan cepat dimana?”, pada banyak merekomendasikan ke Restu Ibu. Nah perjalanan dari Teluk Lerong ke tempat printing yang berada didaerah jalan Pahlawan ini menghabiskan waktu sekitar 20 menitan. Maklum jalan agak menanjak di daerah Bhayangkara, cuma nggak bikin napas abis. Setibanya di Restu Ibu, jeng jeng jeng (pake backsound agak heboh) akhirnya saya bingung nilai rekomendasinya teman-teman nggak kayak di Jogja. Maklum begitu masuk seperti tidak teratur dan nggak ada mana yang antri? tempat antrian nggak ada. Semuanya numpuk didekat meja komputer, disitu banyak orang-orang pada berdiri. Yanasib nggak dikasih tempat duduk, tapi ya tetep ramai banget.
Saya dengan sedikit terpaksa berdiri agak lama, karena nunggu dari 3 komputer yang tersedia salah satunya harus kosong. Karena pelanggannya pada nggak siap desain banner, spanduk, atau undangan apapun itu dari rumah. Sudah komputernya terbatas, nggak dikasih antrian malah kita antri berdiri kayak mau nonton bioskop. Yang disini agak lama, ada hampir satu jam lebih saya berada di percetakan ini. Dari keringatan sampai keringatnya kering sendiri coba? hahaha… sudah nunggu sampai dapat jatah komputer kosong buat minta template-nya kartu pos.

Setelah urusan cetak selesai saya pun kembali dengan jalan yang sama, istilahnya tembak kompas. Dengan jalan yang sama dari Pahlawan ke rumah saya di daerah Karang Asam menghabiskan waktu sekitar 30 menit lebih sedikit. Itu pun sudah pake acara berhenti dibeberapa tempat untuk memotret sudut-sudut kota di Samarinda. Kasian kan? jurnalis disana sudah bosen bikin berita fasilitas yang mangkrak? limbah rumah tangga (sampah) yang mengapung-apung di tepian sungai Mahakam. Mending saya yang motretin buat di share. Masak ada lampu penerangan yang pakai solar cell mangkrak, sepertinya sudah cukup lama sekali? sayang kan? apa mungkin itu proyek coba-coba? atau menghabiskan anggaran yang tersisa dari Pemerintah dengan akhir sia-sia?

This slideshow requires JavaScript.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s