Sarung Samarinda Itu?


Baiklah akhir-akhir ini sebenarnya saya tidak memiliki banyak kesibukan, selain menikmati kopi dipagi hari menjelang siang. Sambil mendengarkan playlist di iTunes saya, kemudian ditemani twitter lengkap beserta beberapa akun (ups). Penasaranlah saya dengan mas @timpakul pada suatu saat, karena dia me-retweet beberapa tweet dari @jarakada tentang #SarungSamarinda.
Biar juntrungan informasi #SarungSamarinda tetap terekam jelas diotak, rasa-rasanya memang kalau tidak ditulis akan menguap entah kemana. Hanya berbekal beberapa tweet jitu, beserta pengetahuan sedikit saya mengenai sarung khas Samarinda.
“kamu orang mana?” | “orang Samarinda mas” | “wah kalau gitu jangan lupa oleh-olehnya ya, sarung Samarinda” |
nah kira-kira seperti itulah pandangan (streotip) dikebanyakan orang, oleh-oleh khas dari Samarinda masih tertanam adalah Sarungnya. Saya pada dasarnya nggak tahu kok bisa sebegitu kuat branding sarung dipegang oleh kota saya. Yang notabene, beberapa merek sarung terkenal pun tidak tanggung-tanggung juga numpang produknya “Sarung Samarinda”, walaupun produksinya bukan di Samarinda.

Menariknya saya pernah menemukan sarung samarinda di Mall Ambarukmo Plaza (Jogja), Jogja ini men… yang lebih lucu lagi pernah jalan-jalan di Tunjungan Plaza, Surabaya pun ketemu sarung samarinda. Ealah ini rupanya branding yang terkenal Samarinda ya Sarungnya, tapi kan kalau orang awam pasti nggak ngeh mana yang asli atau yang nggak. Maksud yang asli disini adalah sarung samarinda yang dibuat oleh Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Secara pribadi saya sih nggak begitu mengenal seperti apa Sarung Samarinda yang aseli (tenun). Tetapi hasil tanya mbah google, dan bertanya ke tetangga pun saya jadi minat sekali untuk mengetahui sarung samarinda itu sendiri. Menurut @jarakada sih, #eh gini maksudnya. “Dalam perspektif mereka menenun sarung itu ritual sakral, ada laku puasa dan niat serta maksud kenapa sarung tersebut dibuat” isi tweet @jarakada gitu, sepemahaman saya mungkin pengerajin perlu “sesuatu” sebelum membuat sarung samarinda.
Dan memang sarung tenun Samarinda yang asli itu harganya jauh lebih mahal ketimbang yang pakai mesin, hal ini juga berpengaruh pada presisi (ketelitian) dalam pembuatan. Tentunya handmande jelas lebih punya nilai yang lebih tinggi (ini sih menurut saya)

Nah kalau pribadi saya sih, hasil jalan-jalan iseng ke kampung Baka, Samarinda Seberang. Yang memang terkenal sebagai tempat pengerajin sarung samarinda, memang disana layaknya sebuah perkampungan biasa yang mayoritas warganya memproduksi sarung samarinda secara manual (tenun).
Sempat ngobrol-ngobrol dikit sama salah seorang pengerajin sarung samarinda, lupa saya nama beliau. Yang jelas kalau tanya nama silahkan mampir ke alamat yang ada difoto itu, itulah narasumber saya.😀 hehehe… Beliau disela-sela membuat satu sarung pun masih bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan iseng saya, berhubung saya tanya agak malu-malu juga (karena niatnya memang jalan-jalan selo). Yang jelas sarung samarinda langsung dari tangan pengerajin ini dihargai 150ribu hingga 200ribu rupiah. Yang jelas ini bergantung berapa banyak warna benang yang digunakan, kemudian tingkat kesulitan dan juga lama pembuatan. Tetapi beliau memberitahu, untuk membuat satu sarung paling lama 3 hari pengerjaan. Lumayan lama sih menurut saya, tetapi hal ini sebanding dengan kualitas dan mungkin prestise ye?

Penasaran? Coba lihat beberapa jepretan ekslusif saya.. hihi…

This slideshow requires JavaScript.

Sudahkah anda membeli sarung samarinda yang aseli? Apa cuma beli yang produksi pabrikan dengan mesin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s