Semacam Ucapan Terima Kasih


Semoga ini bukan semacam siaran pers atas terjadinya #NostalDwi dilinimasa anda, yah beberapa saat yang lalu Galuh sempat bertanya. Apa itu #NostalDwi, dan saya menyarankan untuk dia mencari tahu sendiri. Eh tapi saya sempat ngulang penjelasan ke Galuh, dengan bahan hasil postingan blog panitia #NostalDwi.

Nah kembali ke semacam siaran pers apa itu #NostalDwi, duh maaf tulisan ini rentang momennya agak lama. Jadi semacam kepingan yang perlu dikumpulin pelan-pelan, mulai darimana ya ceritanya? Dari sesungguhnya apa itu #NostalDwi dilinimasa akhir Agustus 2012 kemarin itu bukan atas inisiatif saya, bukan saya penggagasnya, dan bukan atas kemauan saya pribadi. Walaupun bukan ketiganya, kegiatan selo itu membuat saya mewek abis (saksi whatsapp chat sama Andrea)

Sudah dijelasin kan? #NostalDwi bukan ketiga hal diatas, tetapi atas ijin saya karena tepat 2 hari sebelum dimulai Wilda bolak-balik tanya agak serius di whatsapp, tapi sengaja saya cuekin dan akhirnya pagi hari saya penasaran dan menghubunginya. Lah ya saya bingung, ono opo tak telpunlah Pak guru satu ini. Jebul minta ijin menggarap #NostalDwi, setelah saya mendengar penjelasannya sedikit terharu, setelah mengiyakan saya kembali tidur pagi.

Saya sangat berterima kasih sekali sama kegiatan selo Ardi Wilda, Fakhri Zakaria, Andrea, Herwanayogi, Baiq Nadia, serta Yustan yang jadi juri acara ini. Saya pun bingung mau ngucapin apa ke mereka, buktinya saya nggak ada ngtweet dan dimention ke mereka kok. Lebih baik ditulis agak panjang sedikit, kalau dibikin video ucapan terima kasih ini pake mewek dan adegan nangis dan menghapus air mata lho (lebai-ditendang).

Saya sempat ngobrol sama Galuh soal ini, diulang lagi nggak apa ya? Ditengah terharunya saya. Ada rasa penyesalan yang belum bisa saya maafkan pada diri saya sendiri, saya tahu maksud baik teman-teman dikampus dengan adanya #NostalDwi. Tetapi sayangnya ditengah derasnya linimasa saat itu, dan saya mendapati salah satu teman yang pernah saya buat sakit hati pun sepertinya belum bisa memaafkan saya. Bukan soal hadiah, tapi kamu ikut meramaikan hastag itu atau tidak saya bisa tahu sejauh mana kamu atau kalian terhadap saya. “saya berharap orang itu bisa ikut meramaikan #NostalDwi, sayangnya orang yang sempat saya bikin sakit hati sama sekali tidak meramaikan justru ngomongin” (ini cuplikan aku ngomong ke Galuh)

Nah kan udah mulai mellow? Yah dikit nggak apa-apa kan? Sayangnya screenshot obrolan mereka nggak ada. Saya juga sayang mereka, nggak mungkin saya pajang disini. Maaf juga yang sempat ngtweet “Kalau aku ikutan ngtweet pake hesteg, itu pasti ganyeng”, maaf kalau kamu yang ngtweet masih belum bisa memaafkan saya.
Kenapa ending harus selalu sedih? Kayak sinetron aja, mending kayak FTV yang kadang endingnya bahagia. Mungkin sudah lama saya nggak bikin tulisan curhat disini, tetapi sesekali nggak apalah. Soalnya Multiply juga sudah off, jadi mending totalisan curhat.

Kalau saya memang bukan orang baik, saya sedang belajar menjadi lebih baik agar bisa diterima siapapun. Semua sama, cuma situasinya aja yang mungkin berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s