[Sharing] Kamera Pertama


Apa kamera pertamamu? Ini sebuah pertanyaan yang menarik ketika dewasa ini kita menanyakan ke anak muda berkalung DSLR. Mereka mungkin bakal menjawab, “ini kamera pertama saya” sambil memamerkan DSLRnya. Tetapi kalau kita bertanya kepada orang tua, ataupun orang yang lebih dulu mengenal dunia Fotografi mengenai kamera pertamanya mungkin kita bakal semakin penasaran dengan jawaban jenis dan tipe kamera yang mungkin asing ditelinga kita.

Asing? Yaiyalah situ juga jarang googling soal kamera-kamera lawas(lama) kok.

Nah kalian yang hobi fotografi ataupun yang bekerja dibidang fotografi pasti mempunyai kamera pertama, entah itu kamera pertama hasil pemberian orangtua (plus subsidi tabungan pribadi), ataupun kamera pertama dari kantor. Masing-masing orang memiliki cerita masing-masing dengan kamera pertamanya, ataupun cerita dengan kamera yang pernah dimilikinya.

Kamera pertama biasanya walaupun sudah tidak dipakai, biasanya mereka jarang menjualnya, paling mentok mereka meminjamkan kepada sodara kandungnya. Sebagian besar menganggap kamera pertama memiliki cerita panjang, history pertama memulai fotografi.

Sejak SMP saya sudah tertarik Fotografi lho, njuk ngopo wik? Ah yasudahlah saya cuma pengen berbagi aja. Waktu SMP saya sudah memulai memotret dengan kamera full frame, *terus ada yang bilang wow nggak ya?*. Nah bingung kan? Ya kamera poket Fujifilm yang pake Klise itu juga fullframe lah, kan pake klise yang jelas-jelas ukurannya 35mm. Wes sing bagian teknis ojo dibahas, nanti rauwis-uwis(nggak selesai-selesai).

Kamera pertama saya dibagian ini hilang, entah saya pelupa telah meminjamkan kepada siapa gerangan. Mungkin yang terakhir kali saya ingat kamera ini masih terpakai saat SMA, dan dipinjam oleh salah satu teman ROHIS untuk mendokumentasikan acara. Dan by the way kamera poket itu adalah hadiah pemberian orang tua saya saat ulang tahun. Rasanya menghilangkan hadiah berharga tau kan? Masih nyesak sampai sekarang rasa bersalah itu. Jadi kesimpulannya jangan meminjamkan barang yang kamu anggap berharga jikalau kamu bukan orang yang berani meminta, atau kamu orang yang pelupa.
Menginjak bangku SMA, ketertarikan Fotografi setelah saya menyesal sekali hilangnya kamera poket lama itu akhirnya kelas 2 SMA saya mendapatkan kamera digital pertama saya. Yaitu Samsung A50, wow Samung? Yak ini kamera poket pertama saya, dengan layar LCD yang super lebar pada jamannya. Kamera digital pertama ini didapat setelah mengumpulkan tabungan dan THR, tentunya dengan subsidi orang tua sedikit.
Pada masa itu masih jarang yang berani membawa kamera digital ke Sekolah, dan saya membawanya. –lah yo sopo sing wangi negur aku nggowo kamera di SMA?- *sombong* *ditipuk*, alasannya sederhana. Karena gitu deh… males ah ngasih tau, soalnya kamu mau tau aja atau mau tau banget?😛
Kamera digital poket ini, mampu membawa saya mengenal lebih dini soal fotografi jurnalistik, fotografi candid, yah seperti itulah kira-kira. Dan teknis-teknis dasar fotografi, soalnya jajan majalah kamera tiap bulan dan tentunya harus ngirit uang jajan bulanan.

Menariknya kamera poket digital Samsung A50 ini masih tersimpan rapi di drybox saya di Jogja, karena hampir menjadi bangkai dan dibuang di Samarinda. Ceritanya sebenarnya panjang kenapa sampai bisa tidak terpakai, tetapi atas nama kecerobohan dan kebodohan masa SMA saya mengakui saya khilaf banget.

Disuatu sore santai di Sekolah, tepatnya habis hujan dan masih ada bekas genangan air di dekat tiang bendera. Saya bermain lari-larian, dan seolah-olah meniru gerakan Michael Jackson gitu deh yang jalan mundur. Mau tahu hasilnya? Ya namanya masih pake sepatu dinas harian (tahu kan sepatu PDH?) yang alasnya nggak diciptakan untuk nge-grip dikondisi keramik yang basah. Gubrakkk!! Dengan sukses saya terpeleset dan kepala saya mendarat kedua setelah tangan menahan. Jatuh kedepan kawan, bukan jatuh kebelakang. Darah mengucur dari bibir atas saya, segeralah saya lari ke ruangan pengurus OSIS yang ada cermin agak besar. Apa yang saya lakukan pertama kali? Yak saya melihat kondisi kamera yang saat itu saya taroh ditempat kamera digantung diikat pinggang. Dyar!!! LCDne pecah dan bibir atas saya robek. Yah intine ojo pecicilan nek nggowo barang-barang larang (intinya jangan banyak tingkah kalau bawa barang-barang mahal). Ongkos ganti LCD Samsung itu 70% dari harga beli, oke berarti saya harus istirahat motret diakhir tahun kelas 3 SMA. Soalnya LCD pecah, eh tapi kameranya masih fungsi normal loh? Nggak percaya kan? Nanti kalau kamu ketemu saya tak ceritain lebih panjang lebar. Makanya kalau punya manualbook kamera jangan dibuang, apalagi jadi bungkus kacang. Dibaca, bagaimana menggunakan kamera tanpa bisa meliat kamu membuka menu, dan settingan. Mungkin tampak tolol motret tanpa LCD, tapi itulah saya menggunakan kamera poket itu beberapa saat sebelum akhirnya mati total.

 Ini cerita tentang kamera pertama saya, bagaimana ceritamu?

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s