Apa sih Sifat Ksatria Itu? Mbuhlah


Eh tumben mas Dwi alias Fotodeka nulis agak berbobot setelah nyenggol halus sebelumnya. Jadi gini, kita nulis sedikit ngutip skripsi orang ya. Walau aku bukan akademisi ataupun peniliti, setidaknya nggak opini banget. Tapi tau kok ntar ada yang nembak. “Halah Pembenaran” atau lainnya. YO Sak karepmu, nek gelem tulis dewe versimu ntar kukasih backlink.

Berdasarkan Fathurrahman & Fatriyani (2013:134) , Karakter Ksatria yaitu kemampuan untuk menerima keunggulan orang lain serta menerima kekurangan diri sendiri. Dari definisi tersebut, ada dua unsur yang penting yaitu kemampuan menerima keunggulan orang lain dan menerima kekurangan diri sendiri. Dalam berbagai literatur karakter ksatria juga disebut karakter berjiwa besar atau sportif. Menurut Samani & Hariyanto (2013), menjelaskan karakter sportif menerima makna menghargai dan menaati aturan main. Dapat menerima kemenangan dan kekalahan apa adanya secara terbuka.

Diatas aku mengutip dari Skripsi Rani Prihana dari Sanata Dharma pada Jurusan Bimbingan Konseling Sanata Dharma Yogyakarta 2017, dengan subyek penelitian pelajar SMP.

Mungkin Fenomena pelajar di Jogja dan Fenomena pelajar di Samarinda jauh banget, apalagi mengenai fenomena tawuran antara pelajar. di Samarinda pelajar SMP dan SMA-nya jauh lebih kondusif dibanding pelajar di Jogja dan sekitarnya. Tapi fenomena kondusif-nya ini bagus, tetapi dibalik itu akhirnya tidak ada penelitian mengenai tawuran di skripsi Mahasiswa FKIP di Samarinda. Kalaupun ada hanya menyinggung tawuran pada konteks kata, bukan kontek kejadian tawuran yang menjadi latar belakang skripsinya. Hehehe.

Omong-omong soal tawuran, pada obrolan santai dulu dibawah pohon Kepel di Kampus. Sebenarnya tawuran jaman SMP-SMA di Jogja pada akhirnya akan berhenti pada masanya, dulu pun kata ketua angkatanku juga bilang demikian. “Lah wong jaman SMA iso tawur, pas kuliah ki apik-apik wae. Malah ngejob bareng” kira-kira demikian. Dan nyatanya itu terjadi, karena pelajar SMA di Jogja itu menurutku menjunjung nama sekolahnya atau mungkin geng sekolahnya. Versi mereka saat masih sekolah, tetapi ketika sudah lulus “yoweslah, wes lulus juga” . Kemudian menyadari tawur yang jaman SMA mereka lakukan adalah tiada guna. Dan menurutku itu proses pembelajaran, tawur dan ngaku ketika dipanggil pihak sekolah. Siap menerima sanksi . Contoh menarik adek tingkat yang sempat pindah sekolah gara-gara ngambrukin pagar sekolah lain, nerima dan siap dikeluarkan dan berujung semacam mutasi sekolah. Memang salah tawuran, tapi setidaknya belajar lebih dini mengenai sifat Ksatria.

Kutipan diatas dan sekilas membaca skripsi tersebut, setidaknya cukup buat sedikit berargumen dan punya sikap. “Saya salah, ya pasti ngaku salah” tapi tentu tidak boleh berargumen lanjutan karena nanti dibilang pembenaran lah, sesat pikir lah, klarifikasi lah. Apakah salah juga, sudah jujur mengakui ditambahkan keterangan lanjutan? Disitulah menjadi salah satu alasan aku dan akun fotodeka tidak membalas spill-spill-an , dan DOXING yang terjadi di Juli 2019. Mengapa? karena nulis bukan klarifikasi, dibilang pembenaran sama anak Pertamina Hulu Mahakam. Lah terus aku nggak boleh ngeluarin argumen gitu? .  Yang doxing ada kok, di whatsapp group Bulaksumur Pos juga ngarang nggak sesuai kronologis. Kita sebut saja, salah satu mantan panitia Bienalle Jogja yang juga mantan pacarnya Freelance Fotografer-nya National Geographic. 😛

Ini hanyalah opini, bukankah sah-sah saja aku menulis opini? Sama halnya kalian ngtweet opini dengan akun media sosial dengan jumlah pengikut diatas 10.000 ? Yha timpang sih. Ntar paling pake alasan ngeles, “Kan itu fakta, blablablabla udah ganggu, udah ngejar-ngejar. Kan fakta kalau salah akun blablabla” . soal ngejar-ngejar mantan teman, nggak akan saya tulis lagi secara gamblang kok. Toh aku dan salah satu mantan temanku juga pernah serumah 3 malam, aku dan mantan temanku juga berbagi cerita yang itu menjadi rahasia yang kusimpan kok. Triknya mudah, dengarkan curhatannya kemudian lupakan. Susun ulang puzzle yang dilupakan, kemudian gotcha inget lagi.

Rahasia akun yang berubah nama juga aku tau, walau belum dapat jejak digitalnya.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.