Tips Menjadi Kurator Film


Mungkin yang jelas aku bukan kurator karya seni, tetapi ya memang bukan kurator. Jam terbangku pun sebagai juri, atau kurator karya seni fotografi tidak ada makannya ku tak berani ditunjuk jadi kurator pada pameran foto. Mungkin emang nggak ada yang niat menjadikan aku kurator juga sih, toh Pameran Foto dengan proses kurasi ketat pun di Samarinda setahuku belum ada. Sejauh aku lolos kurasi Pameran Samarinda StreetFest setelah itu belom pernah submit karya buat pameran kolektif di Samarinda. Apalagi film.

Dahulu kala… di Samarinda ada namanya Festival Film Samarinda, sebuah Festival Film pertama di Samarinda tahun 2016. Dan terakhir kalinya, dikarenakan nggak ada kelanjutannya. Sebenarnya ini sederhana karena pada masa itu menurutku yang cukup layak menjadi kurator karya film di Samarinda masih langka. Mungkin belum ada, atau bisa jadi lebih baik akademisi yang menjadi kurator. Tetapi mungkin pilihan panitia Festial Film Samarinda kala itu memilih dua nama Ridhotya Warman dan Reza Katamsi menjadi kurator. Siapa mereka? cek sendiri tautan linked.in mereka gaes…

Ada kemiripan rekam jejak? wajar kok. di Samarinda memang orangnya itu-itu aja, soalnya aku emang nggak di Samarinda kala itu. Masih bertahan di Jogja, sebenarnya pada tahun 2016 sudah mulai ada Institut Seni Budaya Indonesia atau ISBI Kaltim yang berlokasi di Tenggarong. Saat itu sudah ada tenaga pengajar, sayangnya saat proses kurasi Film diacara FFS 2016 kebetulan kehabisan stok kritikus film, fimmaker Samarinda, ataupun yang cukup kompeten untuk mengkurasi karya seni.

Setidaknya saat itu kedekatan menjadi pilihan untuk menjadikan kurator, tapi okelah. Menjadi kurator film menurutku punya kemampuan kritis pada sebuah film, menyesuaikan antara film dengan masyarakat yang akan menontonnya. Sebagai jembatan karya filmmaker tersebut sebelum benar-benar di screening. Padahal sebenarnya kurator ialah profesi, yang sayangnya jarang digeluti oleh orang.

Omong-omong soal Kurator, kala itu… Menurutku di Samarinda belum ada yang capable untuk benar-benar menjadi seorang Kurator Karya Film. Hehehe, Kecuali emang ada “Kedekatan” lingkar pertemanan. Oh ya maaf sebelumnya, ada missing story. Karena selepas aku lulus SMA, melanjutkan studi di Jogja hingga tahun 2014. So? aku ketinggalan banyak update yang detil mengenai lingkar-lingkar komunitas di Samarinda. Walaupun terpantau di media sosial, cuma yha gitu lah.

Sebenarnya Jadi Kurator Film di Samarinda itu mudah. Aku cerita disini yaa.

  1. Berasal dari Komunitas Kreatif.
    Ini Merupakan bekal kalian, misalnya nih waktu SMA kalian aktif di organisasi, atau hoby skate kemudian berkomunitas, ataupun hal-hal lain yang berlanjut hingga jenjang kuliah atau umur saat kuliah. Kamu sudah masuk kategori layak jadi kurator, walau karyamu cuma satu atau dua dan ditonton oleh temen-temenmu sendiri. Gak apa-apa, yang penting declare Komunitas Kreatif. Agar gak jadi Samarinda Muram di twitter medio 2012.
  2. Pergaulan Luas.
    NAH ini juga penting. Kenapa? karena untuk mendapat pengakuan, maka kamu setidaknya punya pergaulan yang luas. Atau mungkin berada dilingkungan yang mendukung, agar namamu masuk dalam pencarian google. Sebut saja … oh tentu tidak saya sebut, nanti kalau baca terpelatuk anda bos. Maksud saya disini, ialah membangun jejaring pertemanan yang luas. Terutama berteman dengan pemilik kuasa dibalik layarnya Walikota atau Gubernur, setidaknya temennya temen dia gitu.
  3. Pernah Berkarya.
    Nah gimana mau jadi kurator sendiri, belum pernah berkarya. Walau berkarya buat tugas kuliah,itu juga berkarya. Satu atau dua, atau tiga karya cukup. yang penting punya karya, teman-teman banyak. Jadi meng-influence gitu deh. Dan lebih enak show-off kalau punya karya, hehehe.

Sebenarnya kalau kalian singgah membaca ini, ini cuma sedikit keluh kesahku sih. Kalau aku nyinggung ntar pake akun twitter publik kota Samarinda, atau nongol di Portal Berita yang sama-sama dot co tapi satunya bubar. Dan website dot com -nya gak update-update, tapi twitternya tubir banget. Kalau karya, bilamana kita sama-sama screening karya dimana aku pernah terlibat membuat. Tentu diadu beberapa film, dimana tahun produksinya hanya selisih 1 tahun saja. Menarik lho… 😛

Sudah ya, ini tulisan rasan-rasan aja buat dua nama tersebut. Kalau mau nulis soal Abe Hedly Sundana, ntar aku dikasih Sepeda Lipat Brompthon sama doi. Oh ya Abe ini sempat kerja di Harian Samarinda Pos, rasa-rasanya tepat 2 tahun aku cabut dari Samarinda ke Jogja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.