[Review] Aplikasi Behambinan


Hadehhh… Yasudah tak ulas, Aplikasi pada gawai dengan sistem Android bernama Behambinan merupakan seperti biasa Aplikasi bikinan Pemerintah. Ya kali ini Pemerintah Kota Samarinda sempat merilis aplikasi yang berdasarkan ‘press release’ yang beredar untuk membantu penjualan UMKM di Kota Samarinda. Dan menjadi alasan karena kondisi pandemi Covid-19, maka Dinas Komunikasi dan Informatika kota Samarinda mencoba membantu UMKM melalui pembuatan aplikasi Behambinan.

Secara makna Behambinan sendiri dari bahasa Banjar ‘hambin’ atau menggendong, bisa diserap sebagai saling menggendong, kemudian menjadi saling membantu. Kira-kira demikian. Siapa sangka aplikasi buatan anak Samarinda yang ada di Diskominfo kota Samarinda ini sudah diunduh lebih dari 5.000 kali, dan mendapat review diatas bintang 4. Coba bandingkan dengan jumlah kepadatan penduduk kota Samarinda (terutama usia produktif). Hanya berapa persen saja yang mengunduh?

OH ya sebenernya Behambinan ini aplikasi yang dibuat sebagai pengganti karena pada tahun 2020 tidak ada pasar Ramadhan seperti biasa, akhirnya karena diijinkan melakukan pergeseran anggaran. Maka lahirlah aplikasi menarik dari Diskominfo Kota Samarinda. Mengenai detil rahasia dapurnya sih aku kurang paham, tapi berdasarkan pengalamanku. Membuat marketplace sendiri, itu tidak bertahan lama, atau yang ada tidak efektif. Nggak percaya? coba ngobrol sama temen-temen praktisi yang kerja di MarketPlace, atau di Industri tersebut.

Ya sebelumnya Samarinda punya aplikasi macam Behambinan juga sih, ada PesanBungkus (punya HKGroup), dan Kirimkanai (startup yang lolos di NextDev Telkomsel). Dua aplikasi ini total pengunduhnya masih lebih banyak PesanBungkus karena sudah diunduh lebih dari 10.000 kali, sedangkan Kirimkanai saat tulisan ini dibuat sudah tidak tersedia di appstore (hehe).

Yak dimana dua aplikasi sebelum Behambinan ini pun kandas, ya ndak kandas-kandas banget lah ya. Jumlah unduhannya PesanBungkus masih lebih baik, walau saat mereka campaign gede-gedean dengan mensponsorin Pekan Raya Samarinda 2018. Itu menjadi alasan jumlah unduhan aplikasinya bisa diatas 10ribu. Sedangkan Behambinan dirilis dari Instansi Pemerintah, saat pandemi kemudian hanya menggunakan strategi standarnya Instansi Pemerintah (Launching, Sebar Press Release, Rekomendasi Walikota). Tetep yang download hanya lebih dari 5ribu saja, hampir setahun tidak ada kenaikan progressif pada jumlah pengguna aplikasi Behambinan.

Kesimpulan. Mohon Maaf Bang Parmin, terpaksa kali ini saya ulas. Sebenernya pembuatan aplikasi ini secara sudut pandang kreatif pengembangan aplikasi, wajib diapresiasi, tetapi dari sisi kolam marketplace kita semua menyadari sudah ada unicor dekacore aplikasi marketplace yang jauh lebih besar bahkan puluhan bahkan ratusan kali perputaran uang mereka dalam setahun dibanding PAD kota Samarinda selama setahun.

Pesanku sederhana, kalaupun masih pengen bikin aplikasi semacam Behambinan maka segera urungkan. Saya percaya Behambinan cukup dimaintenance dengan baik, serta secara teknis promosi agar banyak penggunanya lebih baik. Karena teknis Grab dan GoJek, ada Karyawan Account Executive untuk mencari client tenant yang mau join diaplikasi mereka, mereka digaji UMR dikasih bonus, tentu dikasih target dalam sebulan wajib dealing dengan berapa tenant baru.

Strategi kedepan untuk aplikasi ini, jika SmartCity masih digadang-gadang maka janganlah hanya satu OPD saja tetapi secara bersama-sama, terutama BAPPEDA harus senada apa yang akan terjadi dengan konsep SmartCity (bisa kalian googling sendiri Program SmartCity dicetuskan oleh Kementrian apa). Karena Behambinan ini masuk dalam poin penilaian SmartCity, maka tak lepas kusinggung juga.

Dan juga ada baiknya aplikasi Behambinan ini jika memang didukung maka harus kompak, apa sih benefit kalau user menggunakan behambinan? apakah biaya ongkirnya lebih murah dengan memanfaatkan PNS dilingkungan Pemerintah Kota Samarinda yang kondisinya Work From Home (padahal juga ndak ngapa-ngapain saat pandemi), Ataukah ada promo dimana ada ‘subsidi harga yang didapat oleh pengguna’ atau apakah? Karena kita itu bikin sesuatu ndak pernah mau dengan percaya diri di Evaluasi secara Public ataupun diulas jadi kajian Akademis menggunakan analisa SWOT.

Kesimpulanku sederhana. Kalau bikin aplikasi untuk digunakan masyarakat Samarinda, ada melakukan riset, kajian terlebih dahulu. Termasuk perencanaan kedepannya sebuah aplikasi ini akan seperti apa, kalau ketersediaan SDM IT aku jelas percaya di Diskominfo Samarinda banyak tenaga ahli coding ataupun IT NON PNS alias umbi-umbian. Dan kalau baca berita hasil googling atas aplikasi Behambinan pun rata-rata berita press release. Jadi kali ini aku ulas secara pribadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.