[Story] Aku dan Kameraku


Hay semua, aku nggak tahu apakah masih ada yang membaca blog ini, apalagi setelah akun twitter sengaja kumatikan. 😀 ditambah self hosting pemberian mas Yoga Hanggara sudah usai. Tapi setidaknya coba aku berbagi pada platform ini.

Oh ya pertama aku mau perkenalan diri dulu, Aku Dwi Kurniawan. Pemilik akun media sosial dengan alias fotodeka. Siapa tahu ingin tanya-tanya bisa saling mengikuti media sosialku. Sejarah fotografi menurutku teman-teman bisa menelusuri, tetapi kira-kira sejarah aku pertama kali mengenal fotografi itu dimulai saat SMP kelas 3 (medio tahun 2004-an) . Saat itu aku lagi bongkar-bongkar gudang, dan menemukan sebuah harta karun milik ibuku. Mengenai Buku Fotografi saku, dengan ejaan lama. Seriusan, ejaan yang belum disempurnakan. Tanpa sambul, kertas warnanya sudah memudar. (foto buku ini aku susulin kalau ketemu).

Sedangkan kamera pertama kali yang aku pakai, ya kamera film dengan tipe rangefinder merk KONICA [Foto MENYUSUL] yang sejujurnya ini kamera pertama dan masih ada. Sedangkan kamera keduaku dengan tipe rangefinder dengan merk FUJIFILM (serinya lupa) dengan body Plastik dan ukuran lensa 35mm. Kamera kedua ini hadiah ulang tahunku yang ke-16 kalau tak salah. Dimana kamera ini lupa nagih kembali, dan yang terakhir aku pinjamkan ke salah satu temen ROHIS di SMA 3.

Karena nasib kamera keduaku itu nasibnya antah berantah ditangan siapa, untungnya masih ada kamera analog yang pertama KONICA. Yang menjadi alat dokumentasi jalan-jalan keluarga, sebenernya dulu om-ku dari Ayah pada jaman itu sudah punya kamera SLR merk BRAUN. Dan waktu aku ke Tarakan juga sempat belajar motret ngabisin satu roll dengan kamera Om-ku (ini terjadi saat SMP).

Yang menyedihkan memang nasib kamera pemberian ulang tahun itu, walau kamera plastik. Tapi itu merupakan kamera pertama, karena kamera analog tak lekang oleh jaman. Nah pada era kelas 2 SMA, Alhamdulillah dibelikan kamera digital pocket kebetulan merk SAMSUNG tipe A5 (dimana Samsung sendiri menutup divisi Kameranya pada 2015 akhir). Digicam Pocket pertama ini pun yang menemani aku sampai ada insiden aku kepeleset di Lapangan sekolah, ndilalah bawa kamera ini dikantong. Sehabis jatoh padahal bibir robek, tetap yang kucek kameraku. Betul saja, LCD gedenya retak luar biasa. Alias umur LCDnya sudah wasalam, padahal umurnya belum setahun.

Tetapi dengan kamera Samsung A5 ini saya menjadi belajar komposisi fotografi, karena LCD mati tetapi fungsi yang lain masih sehat. Saya tetap bisa memotret tanpa melihat LCD. Ini seriusan, caranya mudah. Pelajari manualbook-nya dengan benar. Karena tombol-tombol masih normal, tanpa layar tetap bisa memotret. Dan kamera ini tutup usia tepat beberapa hari sebelum saya berangkat ke Jogja untuk test kuliah di awal 2007.

Kamera Samsung A5 ini sebenernya hadiah juga, tetapi hadiah atas keberhasilanku dapet menang di Lomba Foto Jurnalistik dihelatan KaltimPos ditahun 2006 pada rangkaian acara Xpresi Party. Iya kalau kalian googling beritanya nggak bakalan ada, Akupun kala itu hanya mendapat trophy dan uang pembinaan lumayan gede saat itu walau tanpa sertifikat sebagai pemenang lomba. Iya tentunya saya mewakili SMAku saat mengikuti lomba tersebut, tetapi setelah tahu cerita dibalik Xpresi Party 2006. Aku baru sadar bahwa itu acara terambisius dan paling ndak masuk akal hingga saat ini. Mengapa? nanti bakal aku cerita dilain kisah.

Nasib kamera Samsung A5 ini pun akhirnya tergantikan dengan DSLR Canon 400D ditahun 2008. DSLR ini yang lumayan awet banget sampai akhirnya aku dibelikan lagi sama Ayahku Canon EOS 7D ditahun 2009, dan kamera Canon ini lebih sering dipakai sampai akhirnya aku lipat jadi duit. Karena teknologi digital akan terus berkembang, jika ini Canon 400D tiba-tiba koit ditengah jalan. Yang ada harus mengeluarkan biaya maintenance, sebelum kejadian akhirnya aku jual duluan. Walaupun kamera Canon 400D ini pada akhirnya pun sudah harus ganti part shutter count di Datascript, kemudian daku secara penuh menggunakan Canon EOS 7D [FOTO MENYUSUL] hingga kini.

Urusan shuttercount jangan ditanya, sudah berapa, sudah berapa GB hardisk yang terpakai. Jangan ditanya ada berapa belas kepingan DVD untuk sekedar membackup file Foto dikala aku belum sanggup beli Hardisk Eksternal. Jadi, kalian punya cerita apa antara kamu dan kameramu? coba cerita di kolom komentar. Yang jelas aku sama sekali tidak pernah memberikan nama pada kameraku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.