Menjadi Tim Produksi itu Melelahkan tapi Menyenangkan
Bulan ini bulan penuh produksi! siplah pokoknya macam rumah produksi yang lagi belajar produktif, tapi lebih tepatnya kami saat ini sedang mengalami proses pembelajaran yang tepat menurut kami sendiri. Belajar untuk menghasilkan karya, yang bisa dinikmati oleh orang lain. Tidak hanya menjadi pengamat atau kritisi, tapi kami membuat dan mengkritisi apa yang kami buat untuk menjadi lebih baik dan tetap dikritisi.
Posisi saya di artistik, tapi saya bisa bercerita dari proses yang mungkin cukup njelimet bagi orang awam. tapi inilah prosesnya yang butuh waktu dan tenaga dalam memproduksi sebuah film. Tapi seperti inilah produksi film independen untuk kebutuhan lomba dan kesenangan menurut saya. Posisi saya dibeberapa kali produksi membantu teman-teman dikampus keseringan di tim artistik, yang juga merangkap perlengkapan.
Untuk tim produksi pertama yang terdiri dari Awe, Yogi dan Jaki. Merupakan paduan yang pas untuk produksi dengan tim yang ringkas untuk sebuah dokumenter. Semua serba merangkap, dan memang terbukti efektif sekaligus lincah. Karena untuk produksi dokumenter sendiri butuh tim yang lincah, dalam artian jumlah ataupun kualitas dari anggota tim tersebut. Proses produksi sendiri cukup rapi karena memang diatur serapi mungkin oleh kawan-kawan, sehingga waktu yang dibutuhkan tidak lama karena memang memiliki ruang lingkup lebih sempit. Dan tidak begitu banyak membutuhkan bantuan tenaga dari luar. hanya mengandalkan empat orang tersebut.
Kemudian produksi film independen setelah Sakti tadi ada Teh Marjono yang lebih kepada film yang menggambarkan tentang gambaran labil-labilnya pelajar di Jogja yang tawuran kemudian sadar akan tindakannya itu karena orang yang dihajar adalah anak dari bapak tempat biasa mereka nongkrong. Tapi dari sinilah kami tim Teh Marjono berusaha untuk mengangkat fenomena di Jogja.
Kebetulan juga TM(kami menyebutnya demikian) merupakan uneg-uneg dan keluh kesah dari Yogi sendiri sebagai anak Jogja yang jaman SMA dulu terkadang menjadi sasaran tawur dari sekolah lain. Walaupun itu tidak menyerangnya, tapi menjadikan efek yang menjadi tenaga untuk memproduksi film yang rencananya discreening di beberapa sekolah di Jogja sebagai media kampanye mengenai tawuran dikalangan pelajar.
Berbagi waktu

Acara konfrensi pers ini hampir menjadi konfrensi persnya acara festival batik dan anggrek, maklumlah dibarisan penanggung jawab diisi oleh para kebanyakan pengurus batik dan anggrek
“Maukah kamu untuk pergi dan menghilang? Jangan kawan, karena kami masih sangat menyayangimu.”
Entah bagaimana saya menjelaskan pembuka diatas, karena saya hanya ingin menyempatkan kembali berbagi kepada kalian hari ini. Ditengah himpitan waktu yang semakin tak menentu, bukan himpitan keuangan yang memang sudah dulu terhimpit. Tetapi semakin dekat dengan acara dies natalis Universitas Gadjah mada yang menjadi tempat kuliah saya sekaligus belajar.
Mungkin bukan salah saya yang tidak menyempatkan untuk kembali menulis ataupun sedikit berbagi. Tapi memang saya merasa terhimpit oleh waktu yang semakin sedikit ditengah-tengah padatnya kerjaan dan sedikit meninggalkan kuliah(maaf ya ayah dan ibu). Walaupun niat selalu ada untuk lebih disiplin menjalani kuliah, tetapi apa daya kalau ada tawaran kenapa dilepas begitu saja.
Bukan hal yang mudah untuk membagi waktu kegiatan, setidakny begitu menurut saya. Tetapi setidakny juga saya masih belajar prioritas mana yang harus dan mana yang ditunda sesaat. Mana yang mau saya kerjakan, mana yang tidak. Tetapi dari sini mungkin saya bisa sedikit berbagi ditengah-tengah mahasiswa yang lalu lalang tepat di depan saya.
Useless-nya Lensa Termos Saya
Sebelum saya melepas lensa termos saya(lensa tele dibaca termos) mungkin saya ingin membuat memoriam-entah kata apa yang cocok, untuk kembali mengenang mungkin sekitar setahun lebih dikit lensa tele itu menemani canon 400D saya yang tanpa Vertikal Grip. Setelah lebih dari setahun lalu lensa itu cukup banyak memberikan saya pelajaran mengenai fotografi bagi para pemula bagian pemilihan gear.
Pada bab pemilihan gear bagi fotografer pemula mungkin perlu lebih ditekankan lagi. Karena berdasarkan beberapa pengalaman yang di sharing-kan di beberapa forum fotografi membicarakan mengenai pemilihan gear bagi pemula. Mungkin karena pemula yang masih penasaran ingin sekali memiliki kamera dengan lensa yang panjang, hal inilah yang saya rasakan ketika menginginkan lensa tele itu.
Dari kebanyakan topik di forum mengenai pemilihan gear(lensa lebih tepatnya) banyak fotografer yang merasakan useless-rasa tidak berguna,nya lensa tele mereka setelah menggunakannya beberapa bulan setelah membeli. Dan kemudian menjualnya kembali setelah merasakan percumanya membeli lensa tele, mungkin sekitar empat sampai tujuh bulan setelah pembelian. Dari situlah bab pertama mengenai pemilihan gear dimulai, dimana fotografer mulai belajar memilih peralatan lain dan kemudian merasakan tidak bergunanya alat tersebut.
Terpesona di awal.
Mungkin inilah pengalaman saya ketika di awal dulu ketika “apa yang harus saya miliki selanjutnya?”-layaknya kaum burjois yang mau tinggal gesek kartu. Tapi berhubung saya kaum biasa saja, jadi nunggu kucuran ataupun proposal permohonan barang disetujui oleh si Ayah sebagai yang memiliki keputusan paling tinggi. Ibaratnya sudah presidennya disuatu Negara lah, yang menentukan jalan atau tidaknya suatu perencanaan, tapi ini dalam lingkup yang lebih kecil.
Setelah beberapa saat setelah memiliki kamera, seperti layaknya pemula saya sudah ada rasa pengen beli apa yah, kan kalau cuma lensa kit 18-55 aja nggak puas, mau yang mana nih? Yang itu mahal, yang itu murah tapi katanya warnanya nggak tajam. Seperti itulah bagi para fotografer yang baru mulai memulai masuk kedalam dunia yang tidak murah itu-penuh dengan rasa penasaran yang tak sanggup menebus peralatan yang tak sesuai dengan kemampuan mahasiswa. Tapi hal itu hanya beberapa saja yang kemudian terealisasikan dikalangan mahasiswa, apalagi untuk membeli suatu perlengkapan tambahan seperti lensa atau flashlight(lampu kilat coi). Tidak semua proposal yang diajukan kepada orang tua masing-masing kemudian cair seratus persen, sehingga kemudian mereka pun melancarkan rayuan maut agar bisa sesuai yang diinginkan. Kalaupun tidak seratus persen, maka harus berpikir ulang untuk cari utangan, bongkar tabungan, ataupun mengurungkan niat membeli untuk beberapa bulan ke depan menunggu waktu yang lebih tepat.

